Sunday, May 13, 2012

Jalanku Bukan Untukmu, Berbagi Bukan Saling Serobot

BY 69HUM dot com IN , No comments




13369133981161377131
Pedagang kaki lima di jalur sepeda (Doc: HUM)

Gowes minggu ini "terpaksa" diwarnai dengan aksi "pembubaran" pedagang kaki lima di pinggir jalan. Setelah blusukan masuk perkampungan sekitar, rute pendek kali ini dilanjutkan menyusuri bike road di kompleks perumahan menuju pulang kembali ke titik nol. Seperti terlihat di atas, gambar diambil pada rute bike zonedi area depan sebuah kampus di titik 2 km sebelum masuk rumah. Sempat ambil gambar kemudian berhenti sejenak ngobrol melakukan mediasi dengan para pedagang dengan hasil  mereka bergeser posisi sekian derajat dari titik awal tidak mengambil jalur sepeda.

Di perumahan tempat kami tinggal memang sudah disediakan jalur khusus untuk goweser di pinggir jalan utama. Hal ini tentunya merupakan bentuk apresiasi pengembang terhadap para goweser yang mulai cukup banyak terlihat eksistensinya. Mulai dari sekedar olahraga bareng keluarga maupun aktivitas bike to work di pagi maupun petang ketika pulang kerja. Pembuatan jalur khusus sepeda ini sangat bermanfaat tentunya bagi para pengguna kereta angin tersebut. Tapi yang sedikit disayangkan adalah di beberapa titik, hak pengguna sepeda telah "diserobot" dengan aktivitas yang lain, salah satunya seperti gambar di atas. 

Satu titik lain tepatnya di depan sebuah supermarket "raksasa", goweser juga harus menjumpai bike roadyang diambil sebagai tempat mangkal ojeg menanti penumpang sehabis belanja. Yang sering dijumpai juga adalah pengguna kendaraan bermotor yang "mengambil hak" goweser dengan melewati jalur sepeda tersebut, bahkan seringkali yang terjadi adalah dengan melawan arus. Beberapa kali sengaja saya adu banteng tunggangan dengan biker yang melawan arus dan meyerobot jalur sepeda. Sengaja pitstop dengan posisi melintang dan mengingatkan pengguna kendaraan bermotor tadi untuk menggunakan jalur yang semestinya. Hasilnya adalah senyum kecut dari bikers yang saya "hadang" tadi. Jadi sebenarnya mereka sadar bahwa tindakan yang dilakukan tadi tidak benar. 
13369134892079284904
Pangkalan ojeg di jalur sepeda (Doc: HUM)

Budaya saling serobot ini sudah biasa dan jamak di negeri ini. Mungkin budaya kekeluargaan dan saling berbagi di negeri yang terkenal ramah tamah penduduknya ini sedikit terpeleset disalahartikan menjadi saling mengambil hak orang lain. Lihat saja banyaknya pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang trotoar yang sebenarnya merupakan hak bagi para pejalan kaki. Parkir liar dengan mengambil sebagian badan jalan juga dengan mudah bisa kita temui di jalanan ibukota. Peran pemerintah dengan regulasi dalam berlalu lintas memang menjadi salah satu kunci untuk pengaturan pembagian "hak" ini. Di sisi lain, tugas kita sebagai warga negara yang mempunyai hak terhadap penggunaan jalan-jalan tadi sesuai fungsinya juga mempunyai peranan untuk pelaksanaan regulasi tadi. Dengan menggunakan jalur jalan sebagaimana fungsinya dan juga saling mengingatkan sesama pengguna yang lain untuk menghormati hak pengguna yang semestinya.

Kesadaran akan hak orang lain kadang sedikit terlupakan dengan dalih "sudah biasa" atau "terpaksa" dan kadang kala kita harus siap untuk memberikan theraphy dalam rangka menyadarkan orang lain. Aksi lawan arus atau menyerobot jalur sepeda tadi kebanyakan dilakukan oleh tukang ojeg, yang boleh dibilang mungkin lebih susah untuk disadarkan dibanding pengguna yang punya tingkat intelektual di atas mereka. Beberapa tukang ojeg yang pernah saya "hadang" tetap melanjutkan kendaraannya melawan arah meski senyum kecut dan tidak jarang malah mengumpat kesal. Sedikit lain dengan pengguna non ojeg yang tersenyum kecut dan "terpaksa" balik arah sesuai anjuran goweser yang menghadangnya *:senyum.

Memang dibutuhkan pendekatan yang berbeda untuk beragam tipikal pengguna jalan dan tingkat pemahaman serta kesadarannya. Kadang ironis juga ketika mendengar atau membaca berita pejabat dengan mobil dinasnya menyebot ke jalur busway. Semestinya dengan tingkat intelektualitas mereka, kesadaran akan hak pemakai jalan yang sebenarnya sudah tidak perlu diragukan lagi. Artinya memang beliau dengan sadar dan sengaja melakukannya, entah dengan pertimbangan apa.

Jika setiap pengguna jalan sadar akan haknya dan hak orang lain, tentunya akan tercipta sebuah budaya yang tertib dan teratur di negeri ini. Fungsi  kontrol dengan punishment yang dilakukan aparat kepolisian lalu lintas mejadi faktor yang penting untuk membangun budaya ini. Kita sebagai salah satu pengguna jalan juga memegang peran yang tidak kalah pentingnya. Taat terhadap aturan yang diberlakukan dan saling mengingatkan merupakan kunci terciptanya iklim saling menghormati hak pengguna yang lain. Saya melakukan hal kecil dengan cara seperti di atas, bagaimana dengan Anda?

Salam Gowes,
It's All About Bicycle




Saturday, May 12, 2012

Bersepeda Meningkatkan Gairah Seks Anda (?)

BY 69HUM dot com IN , , , No comments



Sebagai penikmat bersepeda, saya menikmati kegiatan bersepeda ini sebagai sarana silaturahmi sekaligus media mencari keringat dan tentunya jalan-jalan ke tempat-tempat yang tidak jarang bisa terjangkau dengan kendaraan bermotor, seperti gang sempit maupun jalanan antah berantah *:senyum.

Kenapa bisa jadi media untuk ajang silaturahmi? Yup..dalam aktivitas bersepeda kita bisa lakukan secara individu maupun berkelompok dengan sesama goweser. Nah, judul di atas ini seringkali menjadi topik hangat di komunitas penggila sepeda di lingkungan saya yang menyebut dirinya CBC. Yup..saya sebut penggila karena sudah melewati fase penikmat seperti saya *:senyum. Bersepeda berangkat habis subuh pulang selepas maghrib ke tempat antah berantah tanpa sinyal kehidupan dengan perut keroncongan yang terpaksa diganjal dengan dedaunan sepanjang jalan merupakan salah satu dari sekian banyak kisah perjalanannya. Atau gowes malam hari (NR) sampai jam 1 malam hanya sekedar menikmati nasi uduk semur jengkol yang fenomenal di salah satu sudut kampung bisa jadi agenda mendadak yang disambut antusiasmember-nya.
13368383121229592727
NR Pit Stop dulu, menikmati semur jengkol (Doc: HUM)
Salah satu yang menjadi jargon yang selalu digaungkan oleh team member di milist maupun group jejaring sosial adalah khasiat dari bersepeda tadi. Salah satu testimoni yang cukup meyakinkan (meski bisa jadi hoax:D) kerap kali dilontarkan bahwa semenjak senang bersepeda tambah disayang istrinya *:senyum, bahkan telah terjadi peningkatan performa di atas ranjang sebesar 700% (7 kali ngangkat ranjang kalee..*:nyengir). Nah, bicara mengenai hubungan bersepeda dengan gairah hubungan suami istri ini coba saya bahas dari dua pendekatan.

Kesehatan dan Kebugaran Tubuh
Dari sisi kesehatan, bersepeda merupakan salah satu olahraga yang membutuhkan energi yang cukup banyak untuk dikeluarkan. Kekuatan otot terutama kaki menjadi salah satu area yang teruji endurannce-nya ketika sedang bersepeda, selain juga diperlukan pengaturan napas biar tidak jadi Senin Kamis, kembang kempis kehabisan oksigen *:senyum. Dengan bersepeda yang teratur dan tidak berlebihan maka akan terjaga kebugaran tubuh kita dan tentunya stamina akan selalu prima.

Bagi saya yang masih belum bisa pindah kuadran berkecimpung dengan pekerjaan yang menanti ketika mentari mulai tersenyum malu keluar dari peraduannya sampai dengan bulan muncul  memperlihatkan pipinya yang merah merona, susah sekali untuk bisa meluangkan waktu berolahraga. Nah, untuk menjawab kebutuhan akan stamina yang prima meski diforsir dengan rutinitas pekerjaan, bersepeda merupakan salah satu pilihan yang cukup reasonable. Bersepeda setiap week end maupun bike to work (B2W) merupakan rutinitas yang fun dan mengasyikkan, sekaligus menjadi media mandi keringat untuk menjaga stamina dan meningkatkan performa di atas ranjang *:senyum.

Kalau dilihat dari kacamata ini, bersepeda maupun olahraga yang lain memang menjadi faktor yang mendukung peningkatan performa ranjang suami istri, tentunya dalam konteks yang tidak dilakukan secara berlebihan, hasil olahraga ini akan membuat tubuh segar dan tidak mudah loyo. Jadi kalau Anda ingin performa meningkat 700% dan bukan hoax, silahkan coba bersepeda atau olahraga yang lain untuk melatih fisik dan menjaga stamina tetap prima.

Faktor Psikologis
Sebagai penikmat bersepeda apalagi yang sudah masuk level penggila atau maniak, spirit bersepeda ini akan memberikan dampak positif terhadap apapun yang menjadi obsesinya. Dengan keyakinan penuh bahwa olahraga ini mampu meningkatkan performa 700% tadi, secara tidak langung akan memberikan sugesti ke alam bawah sadar kita, sehingga alam bawah perut akan sadar diri mengikuti keinginan si empunya*:nyengir.

Faktor psikologis ini merupakan salah satu penentu terhadap aktivitas fisik yang dikendalikan oleh otak kita. Dalam dunia medis kita mengenal adanya eksperimen yang melibatkan beberapa orang sebagai kelinci percobaan. Eksperimen dilakukan dengan memberikan kapsul obat kuat ke sebagian orang dan kapsul kosong (placebo) kepada sebagian yang lain tanpa mereka tahu isinya. Hasilnya ternyata pemakai placebotadi mengatakan mengalami peningkatan performa ranjangnya, padahal sebenarnya kapsul yang dia makan tidak mengandung obat kuat tadi. Jadi secara psikologis, mereka tersugesti merasa sudah dibekali "senjata ampuh" sehingga meningkatkan percaya dirinya.

Untuk urusan ranjang memang ada berbagai macam media yang sering kita dengar untuk meningkatkan performa dan tahan lama, mulai dari pengobatan tradisional seperti pijat urut Mak Erot yang sangat fenomenal sampai berbagai obat mulai dari pil biru sampai pil unyu-unyu *:nyengir. Ada seorang teman yang pernah coba konsumsi salah satu obat-obatan penambah stamina tadi. Efeknya memang luar biasa, sang tugu monas tetap tegak berdiri tidak menunduk sekalipun lewat atasan yang sangat dihormati*:senyum. Cuma ternyata ada efek lainnya adalah "kelamaan" sehingga jadi frustasi apalagi melihat pasangan sampai sudah tertidur pulas kecapekan *:nyengir.

Jadi sebenarnya, untuk Anda yang normal, dalam artian tidak menderita suatu penyakit yang berdampak pada penurunan fungsi seksual, cukup dengan berolahraga teratur akan memberikan dampak positif terhadap aktivitas "olahraga malam" Anda dan salah satu bentuk olahraga yang menjadi pilihan saya adalah bersepeda...

So, gowes yukkk...dan rasakan manfaatnya. Tapi jangan lupa siap-siap beli earplug buat tetangga Anda, jangan sampai bunyi ranjang yang setara gempa 6.9 skala richter membuat orang sekampung terbangun*:nyengir lagi.

Salam Gowes,

It's All About Bicycle



Monday, May 7, 2012

Tidak Bisa Bertanya, Sesat di Taiwan

BY 69HUM dot com IN No comments

13364024971209655953

Ungkapan malu bertanya sesat di jalan sepertinya sudah mulai ditinggalkan di jaman modern ini. Papan penujuk jalan sudah banyak kita temui di mana-mana. Sedikit lebih masuk ke teknologi dengan mudah kita bisa menggunakan GPS yang sudah banyak build in di gadget yang kita punya sebagai petunjuk jalan, atau tinggal tanya saja ke mBah Gugel..gitu aja kok repot *:senyum.

Tersesat di sebuah padang pasir atau hutan rimba di pedalaman yang tidak ada sedikit pun petunjuk arah maupun sinyal radio mungkin hal yang seru untuk diceritakan dengan ending kisah yang heroik, tapi tersesat di dalam keramaian sebuah kota modern mungkin lebih tepat sebagai kisah konyol dengan ending tertawaan teman yang tidak ikut menyaksikan kegalauan sang korban ketika tersesat dan tidak tahu arah.

Jadi kisahnya ketika jalan-jalan gratis ke Taiwan dalam rangka kunjungan kenegaraan..(halah..*:nyengir) beberapa waktu yang lalu. Sekitar jam 8 malam waktu setempat, check in di sebuah hotel di kota Jong Li (bener nggak nulisnya?). Kebetulan hotel tempat menginap berada di area pertokoan yang lumayan ramai. Mengurungkan niat untuk mandi, langsung jalan cari menu makan malam. Jalanan lumayan ramai dengan banyak orang lalu lalang dan lampu pertokoan warna warni yang menyilaukan. Jam 9 malam lewat sedikit kembali ke hotel untuk mandi dan istirahat siap besok musti bangun pagi. Partner kerja ternyata menyimpan keinginan lain, dasar orang udik, ternyata melihat keramaian dan gemerlapnya lampu malam yang diiringi cewek-cewek dengan pakaian belum jadi (baca: mini) yang berseliweran tanpa takut masuk angin, memicu rasa ingin tahu lebih untuk menikmati lebih lagi suasana malam itu.

Jam 12 malam lewat partner kerja baru balik lagi ke hotel, bukan dengan wajah ceria setelah menikmati suasana malam tapi terlihat pucat pasi meski terlihat sedikit senyum lega terpancar dari wajahnya yang kusut. Terpaksa tidak bisa menahan tawa di atas penderitaan teman ketika dia bercerita bahwa tersesat lebih dari dua jam keliling kota jalan kaki...hahhaha...uppss..

Jadi ceritanya si teman ini cukup pede untuk jalan-jalan sendirian melihat-lihat pemandangan yang ada, meski baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu dengan pertimbangan meski sudah malam tapi suasana masih cukup ramai. Dia berkeliling menyusuri pertokoan dengan berbagai macam jualan. Cukup jauh berkeliling menyusuri trotoar dengan hawa dingin sedikit menusuk meski sudah mengenakan jaket tebal, suhu luar saat itu di kisaran 15 derajat celcius, lumayan dingin dibanding suhu dingin di tanah air.

Setelah jalan-jalan dirasa cukup dan jarum jam sudah menunjukkan jam 10 malam lewat, dia memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat. Dan saat itu lah bencana dimulai. Pusat perbelanjaan dan pertokoan dengan lampu warna-warni di sepanjang jalan perlahan-lahan mulai tutup satu persatu. Mulailah rasa panik melanda, mengingat beberapa titik yang diingat adalah pertokoan tadi. Setelah toko pada tutup, tidak terlihat lagi jenis jualan yang dijajakan, yang terlihat hanyalah deretan pertokoan dengan tulisan kanji yang sama sekali tidak dimengerti di bawah temaramnya lampu kota di pinggir jalan. Memang jarang sekali huruf latin yang terlihat di sepanjang jalan dan pertokoan. Gelap sudah titik-titik sebagai penanda jalan pulang.

Cukup lama berputar-putar di sepanjang jalan dengan begitu banyak persimpangan dan deretan pertokoan yang hampir sama. Perasaan cuma bolak-balik saja di titik yang sama. Coba bertanya pada orang, ternyata susah sekali menemukan orang yang bisa bahasa Inggris, sedangkan bahasa Taiwan sama sekali nol besar. Bertanya ke Pinang Lady yang masih tersisa, malah jadi nggak konsen, tambah lupa jalan pulang *:nyengir. Mau coba telpon hotel ternyata tidak punya sedikitpun informasi hotel yang tercatat di hand phone maupun isi kepala. Coba menghubungi hand phone teman seperjalan, tidak aktif (maklum roaming, jadi hand phone off, ya maap *:nyengir).

Lumayan pustus asa sampai akhirnya duduk terdiam sendirian merenungi nasib tersesat di negeri orang. Bahkan katanya sempat terpikir bakalan merasakan jadi gelandangan di negeri orang dengan tidur di emperan, sungguh mengenaskan sekaligus susah untuk menahan tawa mendengar cerita penderitaan kawan satu ini. Klop sudah, membaca tulisan honocoroko-nya orang sono nggak ngerti, ngomong bahasa bule pada nggak ada yang bisa, bahkan sudah tidak malu-malu lagi untuk bertanya dengan bahasa Tarzan sampai capek nyari gaya yang mudah untuk dimengerti.

Coba untuk mencari ide dan mengingat-ingat lokasi yang cukup mudah untuk dikenali dan ditanyakan. Akhirnya dia teringat akan sebuah lokasi yang tidak jauh dari hotel tempat menginap, ya...sebuah setasiun kereta di bawah pertokoan. Dengan semangat baru akhirnya coba bertanya sekali lagi pada orang yang lewat, tentunya masih dengan bahasa Tarzan yang kali ini lebih serius peragaannya.

Naik kereta api..tut..tut..tut..siapa hendak turut..ke Bandung..Surabaya... dengan cerianya mendendangkan lagu anaknya ketika  setasiun kereta api berhasil ditemukan dan akhirnya bisa kembali ke hotel dengan selamat meski penuh perjuangan dan berdarah-darah (*lebay.com), untungnya tidak ditangkap polisi dikira TKI ilegal lagi *:senyum. 

13364042872133088618

Meski bukan saya sendiri yang mengalami kejadian tadi, saya bisa membayangkan bagaimana paniknya kawan saya saat kejadian. Ternyata meski tidak malu untuk bertanya, kita tetap  bisa tersesat juga kalau tidak bisa bertanya dan tidak bisa membaca meski lokasi jauh dari padang pasir atau hutan rimba belantara. Ternyata juga, bahasa Tarzan lebih manjur diterapkan di tengah kota modern ketimbang bahasa bule yah..*:senyum.

Salam,
HUM

Wednesday, May 2, 2012

Asisten Rumah Tangga Kami Seorang Sarjana

BY 69HUM dot com IN , No comments

Keinginan untuk belajar memang tidak mengenal usia dan strata sosial. Setiap orang berhak dan berkesempatan untuk menikmati pendidikan di negeri ini, tentunya dengan kemauan dan kemampuan. Kemampuan? Realita yang kita hadapi, pendidikan merupakan sesuatu yang tidak bisa kita tebus dengan harga murah sekarang ini. Tapi yakinlah bahwa jika ada kemauan, kita pasti mampu untuk mewujudkannya. Kemauan? Yup..ini yang akan coba saya ceritakan kisahnya berikut ini. 

[caption id="attachment_174997" align="aligncenter" width="580" caption="Asisten Rumah Tangga kami mengantar duo krucil berangkat mengaji (Doc: HUM)"]

1335958222477944644[/caption]
Bagi keluarga pekerja seperti kami, yang masih harus berangkat pagi pulang malam demi sepiring iwak peyek sego jagung *:senyum, kebutuhan akan asisten rumah tangga merupakan hal yang wajib, apalagi keberadaan dua orang krucil di rumah kami. Dalam perjalanan waktu kami sudah melewati pergantian asisten rumah tangga beberapa kali. Asisten yang pertama bertahan kurang lebih dua tahun, pulang ketika lebaran tiba dan tidak mau balik lagi. Akhirnya kita ganti dengan asisten yang kedua yang dapat dari kampung saat pulang mudik sebagai pengganti, bertahan hampir satu tahun. Nah, pas turn over yang ketiga, kami mulai sedikit mengalami kesulitan untuk mencari orang yang pas, beberapa kali interview selalu tidak deal. Bukan karena kami menolak sang calon asisten, tapi mereka yang mundur ketika dikasih tahu tanggung jawab kerjaannya, yang memberatkan adalah ketika tahu ada dua krucil di dalamnya, "paling susah ngurus anak kecil" kata mereka. Last minute sebelum kami pasrah karena besok pagi sudah harus bertolak lagi untuk pulang, sorenya kita dapat informasi ada yang bersedia. Akhirnya tanpa banyak pertimbangan langsung kita boyong sang asisten malam itu juga pamitan kepada kedua orang tuanya.

Ternyata ini awal dari rentetan gonta-gantinya asisten rumah tangga di rumah kami. Belum genap seminggu asisten baru tersebut di rumah, tiba-tiba dia menangis minta pulang, waduhh.... Ketika kami tanya, "kenapa? tidak betah atau ada masalah apa?". Ternyata jawabannya sedikit membuat kami tersenyum, "Saya ditelpon orang rumah, ada tetangga yang bekerja jadi tentara di Papua pulang dan melamar saya". *Waduhhh... Terpaksa kami relakan sang asisten untuk pulang meski katanya sebenarnya dia belum mau menikah dulu. Cukup kelimpungan juga setelah itu, coba untuk kontak sanak keluarga dan teman untuk mencari informasi asisten buat kami, untung di rumah ada Bulik, cuman pasti sangat kerepotan menghadapi dua krucil yang sedang aktif-aktifnya berekspresi.

Cukup lama vakum tanpa asisten di rumah, sampai akhirnya istri punya ide memasang pengumuman yang ditempel di pagar rumah. Ternyata cukup efektif, mengingat rumah kami ada di jalan utama masuk perumahan. Mulai datang satu persatu ke rumah, ada yang sekedar informan sampai job seeker-nya sendiri. Karena kondisi butuh banget, kita tidak berpikir lama untuk memutuskan. Akhirnya satu kandidat coba untuk mulai bekerja di tempat kami, dengan masa probation 3 bulan *wuiihh...kayak di perusahaan ajah :senyum. Belum genap satu minggu, sang asisten mengundurkan diri. Sebenarnya bukan karena tidak betah, tapi karena dia harus pulang pergi, tidak menginap di rumah sedangkan jarak lumayan jauh, hal ini jadi kendala buat dia. Kandidat berikutnya lebih seru lagi, datang sore hari dan langsung deal untuk mulai bekerja dan menginap di rumah malam itu juga. Begitu pagi hari mengajukan surat pengunduran diri..alasannya nggak betah, semalaman digigitin nyamuk...whuaahhh....kaco ni anak..belum juga mulai kerja *:nyengir

Asisten berikutnya kita dapat setelah vakum beberapa minggu. Nah, pas kita sudah dapat asisten baru ini, istri dapat telpon dari sesorang yang menanyakan perihal lowongan pekerjaan yang kita tempel tadi. Berhubung kita sudah dapat, kita kasih tau dia nanti akan coba dihubungi kalau kita perlu, dengan pertimbangan "jangan-jangan belum seminggu dah kabur lagi :D". Dua minggu bekerja, asisten baru kami minta ijin pulang dua hari ke rumah nengok orang tuanya, kebetulan jarak ke rumah tidak begitu jauh, masih di daerah Bekasi juga. Sampai hari ketiga kok belum balik lagi, jangan-jangan kabur lagi..*:meringis. Kemudian kita telpon ke rumahnya dan ternyata si asisten ini sedikit nggak enak badan dan minta perpanjangan waktu cuti. Sampai 3 hari masih dapat kabar kondisi belum sehat.Ya sudah, kita coba untuk berjibaku bagi tugas urusan rumah tangga dulu. Di tengah kegalauan kami ditinggal sakit sang asisten, pada suatu malam ada sms masuk ke hand phone istri. Pengirimnya adalah orang yang beberapa waktu lalu telpon menanyakan pengumuman yang ditempel di pagar rumah. Rupanya dia mau mem-follow up lagi informasi kita tempo hari, siapa tahu asisten yang sekarang gagal di masa probation-nya. Wah, kebetulan sekali. Akhirnya kami kasih tahu kondisinya, dan menekankan bahwa ini hanya sementara menunggu asisten kami sembuh dari sakitnya.

Akhirnya si anak ini, sebut saja Mawar keesokan harinya datang ke rumah dan dengan sedikit interview langsung mulai bekerja hari itu juga. Setelah hampir satu minggu Mawar bekerja, kami belum dapat kabar sakitnya asisten yang sebenarnya. Kami coba telpon lagi dan mendapatkan jawaban dari orang tuanya yang mengatakan bahwa sebenarnya anaknya sudah sembuh, tapi malu untuk balik lagi karena sudah terlalu lama mbolos. Wahh..kebetulan kah? Akhirnya si Mawar resmi kita angkat jadi asisten rumah tangga kami setelah melewati masa probation-nya dengan hasil cukup memuaskan. Usianya yang terbilang masih remaja cukup disukai dua krucil kami yang sangat antusias ketika asyik bernyanyi, menari atau mendengarkan dongeng. Dari pengamatan saya, si Mawar ini seringkali saya jumpai masih belum tidur sampai larut malam. Asisten-asisten kami yang sebelumnya mungkin hampir sama juga, sering masih melek sampai malam. Yang membedakan adalah kalau yang sebelum-sebelumnya malam-malam jadi kalong untuk sekedar bertelpon ria entah dengan pacar atau temannya, tapi si Mawar ini saya lihat tidak sedang telpon atau sms, tapi sedang membaca...ya membaca buku, entah buku apa yang dia baca saya kurang tahu persis saat itu. Sampai pada suatu hari Mawar menghadap istri untuk minta ijin pulang kampung.

Wah...dalam hati saya sudah kepikiran "terulang lagi ni..nggak bakalan balik ni anak, susah lagi kita ni..". Cuman ternyata sungguh diluar dugaan kami alasan ijin yang dia ajukan. Ketika istri bertanya, "ada urusan apa mau pulang kampung?" Si Mawar menawab,"saya kan ikut sekolah Kejar Paket C, dan minggu depan ujian akhirnya, Bu". Cukup surprise saya ikut mendengar alasannya. Oo..jadi selama ini malam-malam itu belajar untuk ujian ya?

Jadi ternyata si Mawar ini sebelumnya lulusan SMP, kemudian tidak bisa melanjutkan sekolah. Akhirnya coba untuk mengadu nasib dengan bekerja. Sebelumnya bekerja di pabrik garment di daerah Tangerang tapi setiap kali gajian mundur terus dengan berbagai alasan. Bahkan saat awal jadi asisten di rumah kami, masih punya simpanan gaji di perusahaan tersebut yang belum dibayarkan. Akhirnya Mawar memilih untuk kerja di rumah kami sambil mengikuti sekolah kejar paket tadi, lebih tenang katanya. Singkat cerita, akhirnya Mawar berhasil menyandang predikat kelulusan setara SMA-nya.
Tidak berhenti sampai di situ, ketika ritual mudik bareng kami sekeluarga, kebetulan Mawar berasal dari Purworejo, tidak jauh dari kampung halaman kami, sehingga kita bisa antar pulang sambil silaturahmi dengan keluarganya, Mawar sekali lagi minta ijin kepada kita. Bukan ijin untuk tidak balik lagi, tapi dia berkata, "boleh tidak Pak, Bu..kalau saya mau melanjutkan lagi kuliah sambil masih tetap bekerja?" Wah..sekali lagi kami sangat surprise. Kami nyatakan dukungan penuh untuk niat sang asisten rumah tangga kami itu.

Akhirnya sepulang libur lebaran, Mawar mulai aktif mencari informasi tempat kuliah. Pilihannya adalah kuliah malam atau di Sabtu Minggu. Istri saya juga segera mencari informasi tempat kuliah yang bagus dan tidak terlalu jauh dari rumah. Berhubung waktu tidak pas permulaan tahun ajaran baru, akhirnya diputuskan untuk mengikuti kursus untuk kelas malam, dan yang dipilih si Mawar adalah kursus Bahasa Inggris. Tanpa mengenal lelah, setiap jam 7 malam Mawar keluar rumah untuk ikut kursus ini. Efek positif buat dua krucil kami, dapat banyak lagu dan cerita bahasa Inggris dari mBak-nya tadi. *:senyum.

Meski belum benar-benar kesampaian untuk lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana, saya sengaja menulis judul di atas karena yakin dengan semangat dan kemauan dari Mawar, asisten rumah tangga keluarga kami. Di mana ada kemauan, di situ ilmu bisa kita dapatkan.

Salam,
HUM

Tuesday, May 1, 2012

May Day: Jalanan Lancar Jaya Bebas Macet

BY 69HUM dot com IN , No comments


Pagi hari ini suasana begitu cerahnya. Rutinitas pagi seperti biasa berangkat kerja menyusuri jalanan menuju tempat mencari beberapa lembar dan receh untuk bisa makan iwak peyek sego jagung, sisanya buat beli Nissan Juke *:amin
1335848523313674102
Pagi yang cerah (Doc: FA)
Pagi ini merupakan peringatan hari buruh sedunia yang disebut orang dengan istilah May Day. Cikarang sebagai kota industri dengan ribuan buruh yang menggantungkan periuk nasinya di pabrik seputaran kawasan industri tentunya ikut menggeliat untuk seremonial ini. Berbagai persiapan dari para buruh dan aparat sudah terlihat sejak H-1 dan pagi hari tadi.

Suasana hari kerja pagi ini lain dari biasanya. Biasanya pagi hari berangkat kerja selalu diwarnai kemacetan panjang yang membuat orang-orang yang berangkat kerja sedikit frustasi. “Pamer paha” yang membuat orang jadi “pamer penis” menjadi sarapan sehari-hari. Uppsss…jangan ngeres dulu yah..”pamer paha”…padat merayap tanpa harapan yang bikin orang “pamer penis”…padat merayap jadi pengen nangis *:nyengir

Yup…suasana tadi tidak saya jumpai pagi ini. Perjalanan yang biasa ditempuh 45 menit sampai 1 jam, pagi ini bisa ditempuh hanya dengan 10 menit. Mengutip celoteh seorang warga yang begitu bahagianya dengan suasana pagi yang cerah dengan senyum merekah di bibir merah berikut,

” Pagi ini dari Cikbar ke tol cuma sktr 10 menit.. Endah beneerrr…” - bunga sepasang

Wuiihh…sebuah ekspresi curahan hati yang selama ini terbelenggu, begitu puasnya menikmati kebahagiaan suasana peruh bunga pagi ini *:senyum

Mungkin kontras sekali dengan kondisi di ibukota sana yang diwarnai oleh berbagai berita tentang kemacetan yang lebih parah dari biasanya yang sudah parah *waduh…parah dobel… bisa sekarat donk :nyengir.  Jadi titik point kemacetan sebenarnya bersumber dari kawasan industri di sekitaran Jakarta, yang biasa saya bilang daerah Jakarta corek *:senyum.

Kalau melihat fakta ini, kita sebenarnya bisa analogikan hal yang sama untuk masalah-masalah yang terjadi di ibukota. Kemacetan di ibukota sebenarnya berasal dari orang-orang yang berbondong-bondong datang ke ibukota saat pagi mentari mulai tersenyum dan sore hari saat rembulan mengintip dari balik peraduannya. Kalau melihat lebih luas lagi, kita bisa bilang bahwa konsentrasi penduduk di wilayah tanah air yang tidak merata merupakan pemicu masalah ini. Lebih jauh lagi kita bisa artikan tidak meratanya pengembangan pembangunan wilayah di tanah air kita. Mestinya para orang pinter di negeri ini bisa melihat hal ini dan merumuskan sebuah solusi yang tepat bagi negeri ini.

Analogi lain untuk masalah banjir Jakarta. Dari analogi itu bisa kita lihat bahwa point of problem terjadi di Jakarta, sedangkan point of cause kira-kira sumbernya dari mana? Bogor kota hujan? :D. Analogi ini memang tidak serta merta kita bisa cocokkan secara harfiah seperti analogi di atas. Konsentrasi pemerataan pembangunan itu merupakan campur tangan manusia yang menentukan setting-nya. Sedangkan curah hujan itu merupakan kuasa alam dan hak prerogatif dari Tuhan. Yang bisa kita lakukan adalah mengantisipasi potensi tadi dengan melihat dimana sumber point of cause kemudian membuat aktivitas antisipatif pada area point of problem. Jadi untuk urusan banjir, kuncinya ada di ibukota sendiri termasuk orang-orang di dalamnya.

So..nyok kite bareng-bareng benahin ibukote kite ni…mau orang betawi asli atau pendatang, punya andil yang same untuk bisa benahin ibukote kite yee…


*hhmm…endahnya hari ini…nikmatnya menghirup udara pagi ini, meski dipenuhi sisa-sisa polusi dari industri dan politisi…*:nyengir

Salam  Gowes,

It's All About Bicycle