Sunday, July 12, 2015

Membuang Ibu

BY 69HUM dot com IN , No comments

Membuang Ibu (source: filmex.net)
Bunyi handphone berdering  memecahkan konsentrasi di tengah sebuah sesi meeting. Terlihat di layar ada panggilan dari sebuah nomor, bukan dari rekan kerja, customer atau Boss, tapi nomor Kakak di kampung. Sejenak berpikir untuk mengabaikan panggilan tersebut mengingat sedang meeting penting. Seperti hari-hari biasanya, Jum'at kemarin kesibukan kerja terasa apalagi menjelang persiapan libur Idul Fitri. Dari pagi catatan pekerjaan dan masalah harian datang silih berganti seperti tidak ada habisnya. Tapi akhirnya ambil keputusan keluar sebentar dari ruang meeting dan angkat telpon.
Suara Kakak perempuan di seberang terdengar meriah seperti biasa, menanyakan kabar dan kapan rencana mudik. Setelah ngobrol ini itu terdengar suara seorang perempuan di samping Kakak yg mau ikut ngobrol. Suara gembira dan terlihat antusias terdengar berikutnya. Ya..suara Ibunda tercinta. Dengan tertawa ceria beliau bercerita bahwa masih full puasanya, belum ada yang bolong karena badan sehat. Senyum lepas di bibir dan sedikit haru yang tertahan membayangkan wajah Ibunda di seberang sana.
Ya, Ibunda sudah tidak muda lagi usianya, menjelang delapan dasa warsa beliau mengarungi kehidupan ini. Membesarkan anak-anak termasuk si bontot yang paling nakal ini. Sejenak rasa kangen berkecamuk di dada. Tidak sabar rasanya untuk segera tancap gas mengunjungi beliau bersama anak istri saat libur lebaran sebentar lagi. Meski baru bulan lalu ketemu Ibu saat beliau berkunjung ke rumah bersama Kakak-kakak dan ponakan.
Saya jadi teringat sebuah cerita yang pernah saya baca entah kapan. Pernah mendengar cerita dari negeri matahari terbit 'Ubasuteyama'? Baru dengar ya? Memang sih kalah pamor dibanding cerita Doraemon atau Naruto bagi anak jaman sekarang. Ubasuteyama dalam bahasa Jepang, artinya 'Gunung Pembuangan Nenek'.
Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.
“Bu, kita sudah sampai”, kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya. Si ibu, dengan tatapan penuh kasih berkata, ”Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang Ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.
Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya Ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan”. Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang dan merawatnya dengan baik sampai akhir hayatnya.
Cuplikan kisah di atas bukan cerita hisapan jempol belaka. Di masa sekarang kisah di atas bisa mudah kita temui. Tidak sedikit dari kita seringkali 'Membuang Ibu' kita dengan tidak sadar. Melupakan hanya untuk sekedar bersilaturahmi dengan alasan kesibukan kita. Jangankan untuk berkunjung silaturahmi, menelpon untuk sekedar menanyakan kabar dan kesehatan beliau saja jarang kita lakukan.
Momen mudik lebaran setahun sekali ini tentunya sebuah momen yang penting dan sayang untuk dilewatkan. Bertemu dengan orang tua dan saudara serta kerabat di kampung halaman merupakan sarana untuk menyambung silaturahmi tadi. Bermacet ria dan panas sepanjang perjalanan bukanlah sebuah halangan. Meski pulang kampung bisa dilakukan kapan saja ketika ada kesempatan, bagi sebagian banyak orang termasuk kami, momen mudik lebaran ini sayang untuk dilewatkan.
Yang perlu dicatat adalah esensi dari mudik atau pulang kampung ini. Esensi untuk menyambung tali silaturahmi, kembali ke pelukan orang tua kita, bersujud di pangkuannya memohon maaf dan memohon doa restunya. Kadang kita terlupa dengan euforia berlebaran. Setelah malam takbir ceria dengan menyalakan petasan dan kembang api warna-warni, paginya sibuk berkeliling kampung ketemu orang-orang, setelah itu jalan-jalan ke tempat wisata, sementara orang tua kita terlupa. Tidak sadar kita telah membuangnya.
Selamat bermudik ria untuk kembali ke pangkuan Ibunda tercinta. Tetap hati-hati di jalan dan jaga kondisi selama perjalanan. Salam buat Ayah & Ibunda Anda yang tercinta. Orang-orang hebat dalam kehidupan Anda.
Salam,
HUM

Thursday, July 2, 2015

Bantahan Foto Selfie Pesawat Hercules

BY 69HUM dot com IN 2 comments

Foto 'selfie' Pesawat Hercules

Munculnya foto dua orang wanita yang difoto oleh seorang berseragam polisi dengan latar belakang reruntuhan pesawat Hercules yang jatuh di Medan, membuat heboh media dan menuai kecaman dari para netizen. Tanpa mengurangi rasa keprihatinan terhadap musibah jatuhnya pesawat Hercules yang menelan cukup banyak korban jiwa ini, saya coba meluruskan pemberitaan yang sudah terlanjur beredar di masyarakat dan berbagai media sosial terkait foto selfie ini.
Merujuk dari arti kata jika ditelusuri lebih dalam pengertian ‘Selfie’menurut referensi pustakawan Britania adalah “sebuah pengambilan foto diri sendiri melalui smartphone atau webcam yang kemudian diunggah ke situs web media sosial.” Jika melihat dari foto 'selfie'berlatar belakang pesawat Hercules ini, saya katakan bahwa foto tersebut tidak masuk ke dalam kategori selfie, karena bukan diambil oleh diri sendiri melainkan oleh orang lain, yaitu pria berseragam polisi. Jadi foto tersebut sama sekali bukan foto selfie, hanya merupakan foto biasa dengan latar belakang yang 'tidak biasa'.
Foto 'selfie' Pesawat Hercules
Di luar konteks sebuah foto selfie atau bukan, fenomena berfoto 'ria' dengan latar belakang 'duka' memang menjadi sebuah hal yang kontroversial. Kasus seperti ini bukan baru sekali ini terjadi. Kasus serupa sebelumnya juga muncul ketika terjadi kecelakaan pesawat Air Asia di Pangkalan Bun. Yang perlu disorot di sini sebenarnya bukan mengenai foto selfie-nya, tapi konteks berfoto di tengah suasana keprihatinan yang menunjukkan kurang empatinya pelaku foto.
Jadi jika para netizen mengecam keras kasus ini dengan tujuan memberikan sanksi sosial kepada pelaku dan sebagai pelurusan mengenai etika sosial, maka saya juga coba meluruskan mengenai istilah selfie sehingga media tidak salah kaprah mengartikannya. Bijaklah dalam melihat situasi dan kondisi ketika berfoto, entah itu foto biasa atau selfie. Semoga kasus kecelakaan pesawat ini tidak berulang lagi dan tidak ada lagi foto-foto selfie maupun non selfie dengan latar belakangnya. Turut prihatin dan berduka atas musibah jatuhnya pesawat Hercules ini, semoga keluarga korban diberi ketabahan. Aamiin..
Salam,
HUM

Inilah Daftar Pasar Tumpah di Jalur Mudik

BY 69HUM dot com IN No comments

Awas macet pasar tumpah! (source: tempo.co)
Lebaran sebentar lagi. Persiapan untuk perjalanan mudik sudah mulai dilakukan. Untuk pemudik jalur darat, perlu diwaspadai titik-titik rawan kemacetan, salah satunya yang diakibatkan oleh adanya pasar tumpah di sepanjang jalan.
Berikut saya rangkum dari berbagai sumber, daftar pasar tumpah di beberapa jalur mudik di Jawa Barat - Jawa Tengah. Bisa dicatat dan diperhatikan masing-masing hari pasaran sehingga kita bisa memilih waktu yang tepat atau alternatif jalur lain untuk menghidari kemacetan.
Area Cirebon
Pasar Tegalgubug, Arjawinangun : Selasa dan Sabtu
Pasar Minggu di Palimanan : setiap hari, Minggu padat
Pasar Pasalaran di Plered : setiap hari
Pasar Kue Weru : setiap hari
Pasar Mundu : setiap hari, Selasa padat
Pasar Gebang : Rabu dan Jum'at
Pasar Losari : setiap hari, Rabu padat
Pasar Celancang : Jumat
Pasar Ciledug : Sabtu
Pasar Sumber Jaya (Panjalin, batas Cirebon-Majalengka) : Senin dan Kamis
Karawang - Indramayu
Pasar Johar
Pasar Cikampek
Pasar Ciasem
Pasar Sukamandi
Pasar Pusakanagara
Pasar Karangampel
Pasar Bangkir
Pasar Jatibarang : Minggu dan Rabu
Pasar Patrol
Pasar Bugel
Pasar Sukra
Pasar Parean
Pasar Eretan
Kabupaten Brebes
Pasar Losari
Bulakamba
Dermoleng, Ketanggungan
Linggapura
Pasar Induk Brebes
Pasar Taraban, Paguyangan
Semua pasar itu riuh pada pukul 06.00-10.00 WIB. Jika ingin menghindari kemacetan, pemudik dari arah Jakarta yang ingin menuju Jawa Tengah, dianjurkan untuk melewati lokasi pasar tumpah tersebut diatas jam 12 siang, saat pasar berangsur-angsur sepi.
Untuk musim mudik tahun ini, arus jalur Pantura akan terpecah karena sudah dibukanya Tol Cipali sehingga tingkat kepadatan secara teoritis akan relatif berkurang.
Kabupaten Majalengka
Pasar Prapatan : Senin, Kamis dan Sabtu
Pasar Ciborelang : Rabu
Pasar Tanjungsari, Sumedang
Pasar Cimalaka
Pasar Jatiwangi
Untuk menghindari pasar tumpah di Kabupaten Majalengka, pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi dari arah Bandung menuju Jawa tengah, dapat mengambil jalur Sumedang-Tomo-Kadipaten- Majalengka kota-Sukahaji-Rajagaluh-Sumber-Cirebon.
Kabupaten Bandung
Pasar Banjaran,
Pasar Pangalengan
Pasar Ciparay
Pasar Dayeuhkolot
Pasar Majalaya
Pasar Baleendah
Kabupaten Tasikmalaya
Pasar Ciawi
Pasar Manonjaya
Pasar Karangnunggal
Pasar Sukaraja
Pasar Singaparna
Kota Tasikmalaya
Pasar Wetan
Pasar Pancasila
Pasar Cikurukbuk
Pasar Lama
Pasar Indhiang
Yogyakarta-Purworejo
Pasar Sentolo: Pahing dan Wage menurut penanggalan Jawa
Pasar Temon : Senin dan Kamis
Jalur alternatif (melewati Jalan Daendels)
Pasar Jangkaran, Temon : Selasa dan Jumat
Pasar Kranggan, Galur : Kliwon
Pasar Brosot, Galur : Pon dan Legi
Sukorejo - Magelang
Pasar Sukorejo : Wage
Pasar Ngablak
Pasar Kaponan (Pakis)
Pasar Tegalrejo
(jalur Magelang-Kopeng-Salatiga)
Pasar Krasak
Pasar Salaman
Pasar Tempuran
(jalur Magelang-Purworejo)
Pasar Muntilan
(jalur Magelang-Yogyakarta)
Pasar Payaman
Pasar Secang
(jalur Magelang-Semarang)
Solo-Jogja
Pasar Kraguman,Jogonalan
Pasar Srago, Klaten Tengah
Pasar Delanggu
Pasar Tegalgondo, Wonosari
Pasar Bonyokan, Jatinom
Pasar Pedan
Pasar Bayat
Pasar Wedi
Pasar Jongke
Pasar Kadipolo
Pasar Kembang
Pasar Harjodaksino
Pasar Gede
Pasar Nusukan
Pasar Mojosongo
Pasar Joglo
Pasar Kleco
Pasar Legi
Pasar Ayam
Pasar Gilingan
Pasar Sangkrah
Pasar Rejosari
Pasar Gading
Peta Pasar Tumpah (source: gmap screen shot)
Demikian rangkuman beberapa pasar tumpah yang menjadi potensi kemacetan di sepanjang jalur mudik. Jika ada informasi yang berbeda mengenai hari pasaran yang ada, silahkan untuk memberikan update informasinya. Perjalanan malam hari atau setelah jam 12 siang akan mengurangi potensi terjebak kemacetan akibat pasar tumpah. Pasar tumpah biasa mulai beroperasi jam 03:00 dini hari sampai dengan menjelang jam 12:00 siang hari.
Semoga bisa menjadi pencerahan untuk antisipasi kondisi macet saat mudik nanti. Have fun go mudik...ceriaa..!!
Salam,
HUM

Referensi :