Thursday, August 11, 2016

[Bukan Review] Jason Bourne: Aksi Spionase yang Terlihat Konyol

BY 69HUM dot com IN , , , No comments

Jason Bourne (source: imdb.com)
Kemarin sore, setelah berjibaku melawan kemacetan jalan selepas pulang kerja, akhirnya kesampaian juga nonton film aksi Si Mamat a.k.a Matt Damon alias Jason Bourne. Setelah Trilogy Bourne mulai dari The Bourne Identity (2002)The Bourne Supremacy (2004) dan The Bourne Ultimatum (2007) sebenarnya sempat muncul sempalan dari aksi spionase Bourne, The Bourne Legacy (2012) dengan cerita sisi lain dari agen Treadstone karena si Mamat nggak mau beraksi di film itu. Melihat gigihnya si Mamat untuk membintangi aksi Bourne kali ini membuat mantab dan bulat tekad ini untuk tidak melewatkan aksinya begitu saja. Pop Corn dan Cappucino di tangan siap menemani tontonan kali ini, tidak ketinggalan istri tercinta duduk manis di samping menemani juga tentunya. Jadi ceritanya sekalian nostalgia melihat aksi Si Mamat jaman awal muncul pertama dulu tahun 2002 di Bourne Identity. Installment Bourne kali ini entah mau disebut apa ya? Sekuel? Prekuel? Entah apa namanya baiklah kita sepakati aksi si Mamat kali ini kita sebut uwel-uwel :)

Saya nggak pengen membahas aksi Si Mamat yang pasti spektakuler, jedar jeder berantem dan kejar-kejaran seru dengan kecepatan tinggi dan lompat-lompat lintas benua pasti mewarnai aksi laga heroik individualnya, tidak perlu diragukan lagi. Meski tidak ada kejutan baru dari aksinya, overall cukup puas dengan gaya "biasanya" dari si Mamat. Tanpa mengesampingkan efek kepuasan setelah menonton aksinya, saya coba liat dari sisi lain terkait penyajian sang sutradara yang perlu dipercantik biar aksi canggih hi-tech yang ditampilkan di installment kali ini lebih realistis, membumi dan "WoW". Apa saja catatan janggal yang saya dapat dari aksi Bourne kali ini? Mari kita simak sambil nyeruput kopi nasgitelnya...

Baiklah kita mulai dari awal cerita. Aksi Bourne kali ini berawal dari aktivitas hacking yang dilakukan si cantik Nicky Parsons (Julia Stiles) yang sudah muncul di kisah Bourne sebelumnya. Dari intro awal ini mulai terlihat bahwa aksi kali ini akan melibatkan technology cyber dari CIA, cerita teknologi canggih yang keren habis pastinya. Sebagai penikmat aksi Si Mamat dan pada jaman dulu...dulu banget pernah sok bergaya menjamah dunia cyber underground, tayangan pembuka ini membuat tambah excited saja jadinya. Eittss...tapi tunggu dulu, saat si cantik Nicky Parson berada di sarang hacker undergorund, terdengar di belakang  ada yang bicara database SQL yang corrupt. SQL? Ya..SQL adalah bahasa pemrograman untuk database yang.....aneh. Yup, aneh sekali jika digunakan oleh seorang hacker. Trojan attacker dengan SQL? ijinkan saya tertawa lepas 3 detik saja, ha..ha..ha...
Om Paul Greengrass mestinya pilih bahasa pemrograman yang lebih membumi donk, apa kata Xiao Tian, Sang Hacker cantik dari negeri tirai bambu sono kalau lihat film ini? Lebih manusiawi mengangkat C/C++, platform Unix yang curah tapi fenomenal. Mau yang agak sangar layaknya ular berbisa boleh lah pakai Phyton. Tapi SQL..? Worst Hackers Ever!

Lanjut ke scene berikutnya. Nicky Parsons yang berhasil mendapatkan data rahasia dari hasil meretas data CIA akhirnya janjian ketemuan dengan Si Mamat. CIA yang sadar bahwa ada yang meretas data mereka tentu saja tidak tinggal diam. Munculnya sosok Heather Lee (Alicia Vikander) yang terlihat young & smart membawa aura yang fresh. Cocok sekali peran yang disandang sebagai rising star CIA cyber agency. Secepat kilat pengejaran dilakukan setelah dengan canggihnya teknologi CIA berhasil mengenali siapa sosok hacker yang terlibat. Nicky Parsons sebagai mantan agen CIA dan sudah pengalaman main film Bourne sebelumnya *senyum, dibuat tampak bodoh oleh Om Paul Greengrass. Dengan kesadaran penuh bahwa dirinya adalah target dan dalam kondisi yang berbahaya, meski cukup cerdas memlilih tempat ketemuan di area chaos para demonstran, tapi tetap terlihat konyol ketika dengan terbuka tanpa tedeng aling-aling memamerkan wajah cantik dan rambut pirangnya di muka umum. Agen 007 saja pakai topeng di pesta topeng jalan raya, kenapa tidak dengan Nicky Parsons? Minimal wig dengan blonde hair panjang tambah maskara sambil berkejap-kejap untuk kamuflase, atau lebih totalitas lagi ikut nyaru sesuai kostum para demonstran. Sedikit lompat ke scene tengah menjelang akhir. Om Paul Greengrass terlihat sedikit sadar dan mulai memahami arti kamuflase bagi seorang spionase, terlihat dia memakaikan topi buat Si Mamat saat scene adegan sang Direktur CIA Robert Dewey (Tommy Lee Jones) dan CEO Deep Dream, Aaron Kalloor (Riz Ahmed) mau manggung.


Balik lagi ke Heather Lee, di scene saat CIA memburu Nicky Parsons dengan menerjunkan agen lapangan, sekali lagi amat disayangkan sisi smart-nya ternodai. Agen lapangan dengan teropong live streaming yang dipantau dari ruang kontrol memunculkan sekelebat bayangan gadis berambut pirang. Mata jeli si cerdas Heather Lee melihat itu dan minta putar balik ke detik sekian. Sampai di sini masih cukup cerdas, sampai terdengar perintahnya, "zoom and enhance"! dan gambar yang tadinya berupa bayangan blur, tiba-tiba bisa membesar dan tampak jelas, wajah Nicky Parsons. Hmmm...teknologi gambar digital merupakan komposisi pixel, proses zooming dengan kata lain memperbesar gambar secara digital, logikanya akan merenggangkan kepadatan pixel dot per inch (dpi) atau dengan kata lain akan tambah blur, how can be enhance?! Entah teknologi CIA pakai apa tidak dijelaskan di film ini :) Akan lebih elegan dan hi-tech kalau tertangkapnya citra wajah berambut pirang tadi masih dalam kondisi live streaming, jadi perintah "zoom and enhance"! dari Lee bukan terhadap citra digitalnya tapi dengan zooming kekeran yang dipakai agen lapangan, akan tampak lebih alami, elegan dan hi-tech.

Agak sedih dan menyayangkan jalan cerita berikutnya ketika si cantik Nicky Parsons harus tewas lewat bidikan The Asset (Vincent Cassel). Tapi ya sudahlah, sudah ada Heather Lee yang menggantikan sentuhan wanita dalam aksi spionase si Mamat kali ini kok. Nah, sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Nicky Parsons sempat melemparkan sebuah kunci loker yang berisi barang-barang rahasianya, salah satunya berupa buku catatan dan flash disk yang dienkripsi, jelas tertulis besar di body luar flash disk, Encrypted! :D Mudah ditebak selanjutnya, akan aneh sih kalau Bourne berusaha sendiri membuka file-nya, lha wong jagonya berantem kok, gaptek mah nggak papa. Nah, ceritanya justru jadi lucu ketika Si Mamat minta bantuan hacker Jerman untuk membuka enkripsi flash disk. Kok bisa lucu? minta ijin tertawa lagi 3 detik ha ha ha...cukup!
Jadi begini...ya benar begitu...lucu kann..? #nyengir
Ketika flash disk tertancap di laptop sang hacker, di belahan lain sono, Heather Lee langsung dapat notifikasi bahwa sedang ada yang mengakses file curian dari Nicky Parsons. Lha kok bisa..? Emang dah janjian..? Tentu tidak..jawabannya adalah bahwa laptop sang hacker terhubung ke Internet!! Bwahahhaha....hacker sembrono. Ingat "air gapped", cara konvensional sebagai tempat paling aman seorang hacker untuk main-main dengan barang hasil jarahan adalah dengan membebaskan diri secara fisik dari Internet, bahkan colokan listrik jika perlu. Apalagi data yang dibawa Bourne jelas-jelas sebuah data dalam perangkat fisik yang stand-aloneHacker abal-abal ini mah.

Kekonyolan sang hacker masih ada lagi sebenarnya. Di rumah punya komputer atau laptop? Komputer abal-abal atau laptop yang cuma buat main game saya yakin ditempeli antivirus meski abal-abal juga dan entah buat melindungi apa. Nah, laptop si hacker ternyata tidak dipasang, buktinya begitu flash disk dicolok ke port, tidak ada notifikasi malware atau pun proses scanning, justru notifikasi masuk ke CIA. Hacker sembrono dan ceroboh yang melewatkan proses scanning untuk benda asing yang dicolok ke perangkat yang dijaganya hidup mati. Dumb Hacker Ever!

Kita lanjut ke scene konyol berikutnya. Hal ceroboh lain yang dilakukan oleh si hacker adalah mengaktifkan perangkat seluler di dekat lokasi eksekusi barang jarahan. Kecerobohan si hacker dengan menyalakan perangkat seluler tadi dimanfaatkan oleh Heather Lee untuk masuk ke dalam dan bisa kontak langsung dengan Bourne. Sampai di sini kecanggihan teknologi masih masuk akal. Hal yang aneh adalah ketika Heather Lee mengirimkan pesan memperingatkan Bourne bahwa team akan segera masuk 2 menit lagi. What..?! Bagaimana bisa seorang agen CIA memberi tahu ke buruannya melalui ponsel yang notabene sedang dimonitor oleh sekian banyak orang CIA yang lain, termasuk Direktur CIA Robert Dewey. Bunuh diri buat si cantik Heather Lee namanya, bukan?

Lanjut adegan berikutnya. Pertolongan Heather Lee buat Bourne dengan memberikan akses khusus buat lolos di imigrasi bandara juga jadi hal konyol berikutnya. Konyolnya bukan akses khusus yang diberikan, tapi lagi-lagi dengan pedenya tanpa tedeng aling-aling, tanpa kacamata hitam atau topi baseball, Bourne dengan tenang sambil cengar-cengir di hadapan petugas imigrasi. Saya jadi ingat cerita teman yang punya tampang lugu dan kebetulan lupa cukur jenggot, membuat dia musti berurusan lama dengan petugas imigrasi karena disinyalir mirip dengan si anu. Lha ini Jason Bourne, target nomer 1 yang sedang dikejar-kejar langsung oleh top agen CIA, lha kok wajah bulet polosnya nggak dikenali, petugas imigrasi yang menyedihkan, hasil arahan Om Paul Greengrass yang mengenaskan. Ahh..sudahlah.

Di samping hal-hal konyol yang terpaksa ditampilkan di setiap adegan tadi, beberapa momen yang seharusnya bisa dibuat lebih "WoW" ternyata berakhir dengan "Wah" begitu saja. Misalnya ketika Direktur CIA Robert Dewey tewas dengan mudahnya di tangan Heather Lee yang tiba-tiba nongol kayak Jelangkung. Adegan mudah ditebak dari cerita film kacangan. Mestinya bisa dibuat lebih dramatis dengan terjatuh keluar dari kamarnya yang di lantai atas. Terbang ke bawah sambil masih menyisakan sorot matanya yang sinis dan tertawa lepas menjelang ajalnya. Lebih keren kelihatannya, kan?

Ending berantem dengan The Asset juga tidak memunculkan sebuah trik baru atau adegan yang fenomenal, padahal saya sudah tunggu-tunggu bagaimana proses tewasnya sosok yang sangat menjiwai sebagai penjahat. Vincent Cassel pas banget memainkan perannya, sadis dan sangat menjiwai. Sayangnya prosesi berantem di terowongan berakhir dengan "biasa". Masih untung tertolong dengan adegan kejar-kejaran mobil yang cukup spektakuler dengan efek mobil terbang berantakan kemana-mana.

Secara keseluruhan, Jason Bourne kali ini bisa jadi tontonan seru pengobat kangen aksi seru Si Mamat. Cocok buat kamu yang seneng ngeliat aksi skill individual dengan ekspresi serius dan menjiwai dari Si Mamat yang tidak peduli dengan detail penggunaan hi-tech yang coba disajikan. Ending yang cukup sexy ditutup dengan rekaman video sadapan Bourne untuk Heather Lee, pesan yang disampaikan menunjukkan sosok Bourne yang cerdas "spy can't trust anyone..!!"
Kita tunggu aksi si Mamat selanjutnya... :)

Salam,
HUM



Wednesday, August 3, 2016

Label Halal Bikini (Bihun Kekinian)

BY 69HUM dot com IN No comments

Bikini (Bihun Kekinian)
Hari ini di media jejaring sosial dan group mesenger saya tiba-tiba bermunculan gambar bikini, ya bikini. Bukan bikini yang sering dipakai gadis-gadis cantik ketika berjemur di pantai, kalau bikini yang itu sih sudah biasa. Tapi yang ini ternyata adalah sebuah makanan kecil dalam kemasan bergambar tubuh perempuan berbikini. Tulisan besar Bikini alias Bihun Kekinian dengan tag line "Remas Aku" sungguh merupakan ide pembuatan sebuah nama yang sexy untuk sebuah makanan ringan. Cukup menarik memang dan langsung memunculkan kontroversi.

Banyak pendapat yang menyoroti masalah konten pornografi yang tersurat dan tersirat di dalam nama maupun tag line produk ini. Terutama mempermasalahkan efek terhadap anak-anak yang potensial mengkonsumsi produk makan ringan ini. Hal ini memang cukup beralasan menjadi sorotan dari KPAI terkait perlindungan terhadap anak. Kalau menurut saya sih sebenarnya yang lebih dikhawatirkan bukan kepada konsumen usia anak-anak, tapi lebih ke arah usia remaja. Anak-anak dalam pengertian ini adalah balita pra sekolah atau yang berada di awal sekolah dasar. Kenapa tidak perlu khawatir? Satu point yang perlu kita sebagai orang dewasa pahami adalah dunia anak berbeda dengan orang dewasa, dalam hal ini sudut pandang melihat sesuatu. Kita sebagai orang dewasa ketika melihat produk Bikini ini, konotasi di pikiran kita langsung mengarah ke hal-hal yang berbau saru atau pornografi. Tapi akan berbeda halnya dengan anak-anak. Mereka akan melihat Bikini ya sebuah bikini yang mungkin mereka lihat wajar ketika bersama orang tua mereka di kolam renang. Kata-kata "Remas Aku" buat kita langsung tendensius ke arah yang vulgar. Buat anak-anak kecil yang masuk di awal sekolah dasar dan mulai bisa membaca, kata-kata "Remas Aku" akan dibaca biasa remas aku dan dipahami bahwa bihun kering di dalamnya ya memang perlu diremas sebelum dikonsumsi, cukup begitu. Jadi mestinya kita sebagai orang tua tidak perlu terlalu lebay terhadap anak-anak kita yang masih polos. Over acting malah akan menimbulkan tanda tanya dari anak-anak kita. Justru yang perlu kita waspadai adalah anak-anak kita yang sudah masuk usia remaja. Rasa ingin tahu yang besar dan dipicu dengan obrolan antar teman terhadap sesuatu yang dianggap tabu untuk dibicarakan dengan orang tua mereka akan memunculkan persepsi ke arah dewasa terkait produk Bikini ini.

Karena anak-anak saya masih kecil dan saya nggak pengen lebay, saya tidak akan menyoroti masalah efek produk Bikini ini ke anak-anak. Produk fisiknya sendiri saya belum pegang dan menjumpai langsung, hanya melihat dari photo-photo yang berdar di media jejaring sosial dan group messenger tadi. Saya justru tertarik ketika melihat label "halal" yang ada di kanan atas kemasan produk Bikini ini. Gambar tubuh perempuan berbikini dengan tag line "Remas Aku" tapi berlabel "halal", sesuatu yang kontradiktif, bukan?

Saya jadi teringat cerita teman yang pernah berkecimpung dalam proses sertifikasi halal sebuah produk dari MUI. Menurut teman saya ini, tidak mudah dan perlu proses verifikasi yang ketat untuk mendapatkan sertifikat label "halal" untuk produknya. Dan perlu diketahui bahwa produk yang didaftarkan untuk sertifikasi halal dari MUI tadi bukanlah produk makanan, melainkan kategori kosmetika. Bayangan kita pada umumnya label halal ini melekat pada produk makanan, tapi ternyata tidak, dan prosesnya juga tidak mudah. Pertanyaannya adalah, bagaimana bisa produk Bikini tadi mendapatkan sertifikat "halal" nya?

Saya coba telusuri perihal persyaratan sertifikasi halal dari MUI dan ketemu penjelasannya di sini. Intinya adalah bahwa bagi Perusahaan yang ingin mendaftarkan Sertifikasi Halal ke LPPOM MUI , baik industri pengolahan (pangan, obat, kosmetika), Rumah Potong Hewan (RPH), restoran/katering, maupun industri jasa (distributor, warehouse, transporter, retailer) harus memenuhi Persyaratan Sertifikasi Halal yang tertuang dalam Buku HAS 23000 (Kebijakan, Prosedur, dan Kriteria). Jika kita masuk ke label halal dari Bikini, kriteria sebagai bahan pangan sangat jelas tertuang di Buku HAS 23000 pada point 1.4 bahwa "Bahan tidak boleh berasal dari : Babi dan turunannya, Khamr (minuman beralkohol), Turunan khamr yang diperoleh hanya dengan pemisahan secara fisik, Darah, Bangkai, dan Bagian dari tubuh manusia." Jika melihat dari jenis produk yang merupakan jenis mie atau bihun, kandungan pada point di atas bisa jadi akan mudah  dipenuhi. Tapi persyaratan sertifikasi halal bukan hanya menyangkut bahan saja, proses produksi maupun fasilitas produksi harus memenuhi kriteria. Pada point 1.6  dijelaskan mengenai persyaratan Fasilitas Produksi, yaitu bahwa "Lini produksi dan peralatan pembantu tidak boleh digunakan secara bergantian untuk menghasilkan produk halal dan produk yang mengandung babi atau turunannya."

Masih ada banyak point lagi yang merupakan persyaratan kriteria halal yang harus dipenuhi. Balik lagi ke Bikini, point yang saya soroti kenapa bisa "lolos" dengan label "halal" di kemasannya terkait dengan kriteria pada point 1.5 mengenai Produk, "Merek/nama produk tidak boleh menggunakan nama yang mengarah pada sesuatu yang diharamkan. Produk retail dengan sama yang beredar di Indonesia harus didaftarkan seluruhnya untuk sertifikasi." Nah, bisa kita cermati, kan? Pemilihan nama "Bikini" dan tag line "Remas Aku" secara konotasi mengarah kepada point 1.5 ini. Dan jika memang MUI memberikan sertifikasi halal untuk produk ini, sungguh merupakan sebuah kecerobohan dan kecolongan. Ada kemungkinan juga bahwa label "halal" yang tertera di kemasan Bikini tadi hanya akal-akalan Cemilindo sebagai produsen Bikini. Jadi pemasangan label "halal" secara ilegal bukan mendapatkan sertifikasi dari MUI.

Saya coba telusuri apa dan siapa itu Cemilindo tapi tidak mendapatkan informasi yang komplit dan akurat. Hanya mendapatkan bahwa Cemilindo adalah produsen makanan kecil di daerah Bandung. Dari akun instagram @cemilindo kita bisa lihat posting photo-photo produk yang dijual online ke pelanggannya. Jadi mungkin saja Cemilindo ini bukan perusahaan besar tapi berupa sebuah industri rumah tangga sekala kecil atau sedang. Meskipun demikian, mestinya Cemilindo sebagai produsen memperhatikan terkait masalah label sertifikasi halal untuk produknya ini karena menyangkut pembohongan ke konsumen.

Mungkin Cemilindo mau mengikuti jejak Zoya yang sudah mendapatkan sertifikasi halal untuk produk pakaiannya yang menuai kontroversi juga, kenapa produk hijab buat wanita muslimah harus dikasih label sertifikat halal? Kalau hijab perlu mencantumkan label halal kenapa Bikini tidak? :)

Salam,
HUM