Sunday, January 17, 2016

Polisi Stylish dan Teroris Modis (Filosofi CD Bolong)

BY 69HUM dot com IN , No comments



Sudah pada lihat foto-foto teroris dan polisi yang sedang beraksi pada teror bom Sarinah kemarin,  kan?

Polisi keren dan stylish dengan sneakers Gucci dan Adidas serta tas selempang Coach menjadi perbincangan seru dan trending topic di media sosial. Belum lagi sosok teroris dengan kaos dan celana jeans branded serta topi Nike benar-benar di luar bayangan sosok teroris yang mainstream,  berjenggot tebal,  celana cingkrang,  tutup kepala dan rompi penuh geranat bergelantungan dengan tubuh penuh lilitan kabel bom.

Eittss..tunggu dulu,  itu tampilan luar dari sosok sosok di atas,  bagaimana dengan dalemannya? Kita tidak tahu kan kalau ternyata misalnya Polisi keren itu pakai CD bolong...#ehh
Langsung deh pada ilfill para abege yang naruh hastag #kaminaksir #hihi

Tanpa mengurangi rasa prihatin dan turut berduka kepada para korban atas kejadian teror bom Sarinah kemarin,  saya juga sedang tidak ingin membahas tentang kasus ini tapi jadi lebih tertarik pada daleman bolong tadi #hihi

Saya jadi ingat beberapa tahun silam saat mengalami kecelakaan agak lumayan cukup parah sekali sehingga menyebabkan tak sadarkan diri atas kejadian tersebut. Saat tersadar pertama kali dan mata ini terbuka melihat ke atas langit-langit, putih. Sekeliling tirai, putih. Dalam hati langsung bergumam, "Wah..gw di rumah sakit nih. Berarti habis kecelakaan.. "

Aksi sepontan selanjutnya adalah melihat sekujur tubuh. Badan setengah telanjang menyisakan celana dalam,  berganti baju pasien yang terbungkus sekedarnya.  Darah masih terlihat berceceran. Tangan kiri mati rasa,  dibungkus sesuatu. Ohh..mungkin patah. Muka tebal dan baal meski mata masih bisa melihat sempurna.

Kondisi saya yang sebenarnya saat itu adalah tangan kiri patah dengan pergelangan tangan dislokasi.  Muka bonyok dengan tulang pipi pecah dan pendarahan di dalam. Cukup serius, kan? Ya iya lah,  karena aktivitas selanjutnya saya mesti masuk ruang operasi untuk reparasi itu semua dan akhirnya pulih ganteng lagi seperti sediakala #uhuk

Tapi kondisi itu semua bukan yang terlintas pertama di pikiran. Yang muncul pertama kali adalah,  "Gw nggak pakai CD bolong, kan ya.?" #nyengir

Mau ditaruh dimana coba muka imut ini saat tadi suster cantik nolongin. Sobek baju dan celana luar trus ternyata liat saya pakai CD bolong. Syukurlah saat kejadian itu saya pakai daleman yang cukup beradab.

Oke...cukup ya bahas CD bolong sayanya, kita coba ambil refleksi dari kisah daleman saya tadi. Saya dan kebanyakan orang termasuk Anda tentunya sependapat bahwa berpakaian yang bagus agar terlihat baik di mata orang lain yang melihatnya. Lalu bagaimana dengan pakaian dalam yang tidak terlihat oleh orang lain? Kadang saya dan kebanyakan orang termasuk Anda berpikir, " Ahh nggak papa lah pakai daleman bolong, nggak ada yang lihat juga."

Lalu bagaimana dengan cerita kasus saya yang kecelakaan tadi? Tentu tidak berharap kan ada musibah yang menimpa,  sama seperti para korban bom Sarinah. Tapi kasus saya kecelakaan dan juga bom Sarinah tadi hanya Tuhan yang tahu. Saya tidak bisa menyiapkan CD terbagus saya karena tahu bahwa akan terjadi kecelakaan dan akan ada suster cantik yang membuat hampir polos tubuh ini.

Secara harfiah pemakaian daleman yang baik merupakan hal yang bagus untuk kita terapkan. Filisofinya lebih dalam lagi. Jika kita selalu ingin terlihat baik di mata orang, berbuat baiklah seutuhnya bukan hanya tampak luarnya saja. Kita tidak tahu kapan Tuhan akan menelanjangi kita di hadapan orang lain.

So... Buang segera CD bolongmu.. Jangan sampai menahan sakit karena malu sama suster cantik #nyengir

Salam,
HUM

Saturday, January 16, 2016

Panggung Sandiwara Teror Bom Sarinah

BY 69HUM dot com IN , , 4 comments



Teror bom yang mengguncang Ibukota beberapa hari yang lalu menyisakan duka,  kesedihan dan komentar dari berbagai kalangan. Tanpa mengurangi rasa hormat dan berduka terhadap para korban dan keluarga,  saya coba coretkan tulisan ini.

Sebuah panggung sandiwara bisa kita lihat dari peristiwa teror bom di Sarinah ini. Jika disebut sandiwara tentunya melibatkan aktor-aktor di dalamnya,  bukan? Coba saya ulas satu-satu siapa saja pemerannya.

1. Teroris
Dari foto-foto hasil reportase para wartawan di lokasi memperlihatkan sosok teroris yang ada pada kejadian tersebut.  Yang cukup menonjol atau kita sebut teroris utama adalah seorang pemuda dengan dandanan masa kini.  Kaos dan celana jeans branded,  topi dengan logo Nike dan sepatu sport baru. Iklan terselubung dari American Branded.  Kurang cocok menggambarkan sosok seorang teroris. Akan lebih meyakinkan jika sosok teroris tadi berjenggot,  celana cinkrang,  pakai rompi bergelantungan granat dan tubuh penuh lilitan kabel bom.

Gaya pegang pistol juga menunjukkan seorang amatiran,  bukan teroris pro.  Sayang sekali dengan sekian banyak sasaran tembak di sekelilingnya bakalan meleset dan salah sasaran karena fokus tembakan ngawur.

Teroris yang akhirnya meledakkan diri di samping mobil juga kurang dramatis. Akan lebih heroik jika dia berlari ke arah kerumunan massa kemudian diberondong senapan mesin dari polisi sebelum akhirnya bom meledak menewaskan dirinya.

2. Polisi
Polisi yang baku tembak dengan teroris ada yang merupakan polantas.  Lebih meyakinkan jika polisi anti teror yang berdatangan ke lokasi,  lengkap dengan senjata laras panjang,  rompi anti peluru dan  masker wajah. Bukan polisi-polisi keren  bergaya stylish dengan sneakers Gucci dan Adidas,  tas slempang Coach, yang semuanya langsung bisa dicari tahu berapa harganya. Pesan sponsor lagi-lagi mewarnai kostum sang polisi keren.

Belum lagi pesan sponsor dari brand Toyota sebagai mobil yang dipakai untuk perlindungan para polisi saat baku tembak dengan teroris,  padahal penonton di sekelilingnya berkerumun dengan tenangnya tanpa pengaman apapun.

Mana sniper yang bertugas melumpuhkan teroris dan melindungi rekannya dari jarak jauh? Yang ada adalah polisi superhero dengan pakaian preman yang membuat bias mana polisi mana teroris.

3. Pak Jamal
Pak Jamal, tukang sate yang tetap tenang melayani pembeli dalam radius yang tidak jauh dari lokasi sempat mendapat sorotan kamera. Belum lagi tukang kopi dan pedagang asongan lainnya yang dengan enaknya mondar mandir lokasi,  semakin mengaburkan esensi sebuah aksi terorisme.

4. Presiden
Presiden dan para pejabat yang datang langsung ke lokasi hanya beberapa jam setelah aksi teror.  Jelas-jelas bukan waktu dan area steril untuk dikunjungi orang nomor satu di negeri ini,  tanpa body armor dan pengawalan yang ketat,  cukup fotografer kenegaraan yang selalu menempel. Tapi ceritanya tetap berlanjut dengan aman tanpa kejadian yang berpotensi membahayakan Presiden, area kotor yang steril.

5. Fotografer
Para fotografer dari media beneran maupun dadakan bermunculan mengabadikan momen teror tersebut. Video rekaman dari ponsel maupun CCTV mengabadikan setiap adegan yang ada. Sosok teroris dan polisi ganteng tidak akan jadi trending topic tanpa bantuan mereka.

6. Figuran
Orang-orang yang berkerumun menonton lokasi,  berlarian cerai berai ketika ternyata di dekatnya ada teman teroris,  kemudian berjajar rapi menonton di belakang aparat yang sedang baku tembak dengan gagahnya melawan teroris. Belum lagi figuran lain yang ikut berselfie ria masuk ke police line TKP. Sungguh sebuah cerita yang tidak masuk akal untuk sebuah drama terorisme.

7. Komentator
Media tidak kalah hingar bingar meramaikan pertunjukan panggung sandiwara ini. Broadcast message berputar antar group media sosial dengan gencarnya. Banyak yang melenceng dari perannya,  merasa sebagai penyampai berita aktual. Bumbu-bumbu berita bertebaran untuk menambah sensasional alur cerita.


Ya.... Semua hanyalah sebuah panggung sandiwara. Saya dan Anda semua adalah aktor dan aktris di dalamnya. Dunia hanyalah sebuah panggung sandiwara,  kita tidak bisa menolak scenario dari Yang Maha Kuasa. Semua kisah di atas tidak akan terjadi tanpa campur tangan-Nya.

Entah cerita apalagi yang akan mewarnai episode selanjutnya.  Apakah akan ada sekuel lanjutan atau berganti lagi dengan genre cerita yang lain? Kita coba nantikan saja dengan tetap optimis dan selalu berdoa untuk kejayaan negeri ini.

Berbagi untuk saling melengkapi karena hidup bisa berkali-kali sedangkan mati hanya satu kali..

Salam,
HUM






Catatan kaki:
*anggap tulisan di atas dari seorang kritikus film, sayangnya kejadian ini adalah nyata bukan sebuah film,  jadi abaikan kritikan dari kritikus film abal-abal di atas #nyengir

Friday, January 1, 2016

Tentang 69HUM.com

BY 69HUM dot com IN , 4 comments

Sebut saja saya HUM, panggilan inisial yang melekat ketika saya beranjak dewasa. Saat masa anak-anak yang begitu lucunya sampai masa remaja yang sedemikian cerianya, tidak pernah terbersit sekalipun panggilan HUM, tapi yang namanya takdir siapa yang bisa menolaknya kan..?!

Demi mewujudkan resolusi tahun 2016, setelah dipikirkan dengan sesama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dan untuk memenuhi semangat kekinian, maka dengan sangat terpaksa mengudaralah blog ini dengan penuh perjuangan.

Kenapa 69HUM.com?
Karena menjadi nomer 1 sudah terlalu mainstream dan egosentris serta sedikit bau amis. Kalau Anda punya persepsi sendiri tentang angka 69, silahkan berimajinasi sendiri karena saya bukan seperti yang Anda bayangkan,  kecuali buat Anda kaum hawa,  sangat disarankan untuk membayangkan saya.

69 mempunyai arti yang sangat tinggi secara filosofi, filosofi saya. Simbol Yin Yang dengan 2 bagian hitam putih dengan membentuk angka 69 tentu sudah tidak asing buat Anda. Kalau masih belum bisa membayangkan bagaimana simbol Yin Yang,  coba Anda tanya pada salah satu Amoy yang membayangkan saya tadi di atas,  kadang di bawah juga sih. Yin Yang mempunyai filosofi sebagai bentuk keseimbangan dalam kehidupan,  saling berpasangan dan membuat sebuah sinergi yang menghasilkan sebuah kekuatan.

Karena simbol Yin Yang juga terlalu mainstream,  saya memilih simbol sepasang sandal jepit untuk logo blog ini,  69HUM.com, berbagi untuk saling melengkapi. Filosofi sandal jepit bahkan melebihi Yin Yang.  Kalau Yin Yang sebagai bentuk keseimbangan untuk menghasilkan kekuatan, maka sandal jepit selain simbol keseimbangan saling berpasangan juga mencerminkan sebuah filosofi sebagai pijakan bersama untuk menuju sebuah titik target dan melangkah lagi ke titik selanjutnya lagi...lagi...dan lagi...begitu seterusnya. Berbagi untuk saling melengkapi karena hidup bisa berkali-kali sedangkan mati hanya satu kali.

A Journey of a thousand miles begins with a single step.
Cengkeram erat dan jepit sandalmu...
Capai titik puncak dan raih klimaksmu...!!

Salam sandal jepit,
HUM