Saturday, June 17, 2017

Tapir vs Ikan Duyung

BY 69HUM dot com No comments


Ada cerita menarik hasil jalan2 ke Eropah 6.9 bulan yang lalu. Keliling ke beberapa negara yang mayoritas penduduknya bangsa Tapir versi si anu. 

Dengan mayoritas penduduk Tapir tadi, suasana jauh lebih tenang dari Indonesia. Tol antar negara yang mulus minim kemacetan. Disiplin di jalan dalam kota dengan lampu merah buat pejalan kaki. Bersepeda tenang di dinginnya cuaca menjadi aktivitas nyaman para penduduknya.

Sempat melipir ke zona merah area Amsterdam. Akuarium dengan putri duyung dan ikan julung-julung meliuk-liuk menghangatkan suasana malam. Masih dengan suasana tenang nyaman tanpa keributan meski mariyuana menjadi menu cemilan yang biasa.

Sempat merenung kenapa Endonesiah yang mayoritas penduduknya religius ternyata keseharian penduduknya terlihat bagaikan prajurit yang maju ke medan perang dengan semangat spartan saat memacu kendaraan di jalanan. Tidak mau saling mengalah mengisi dua lajur jalan sampai penuh dan berebut dengan beringasnya. Korupsi dikabarkan merajalela bahkan menggunakan kode-kode religius untuk sandi percakapan. Bahkan muncul issue chat mesum seorang ulama besar. Benar-benar sebuah fenomena yang luar biasa.

Sampai pada sebuah kesimpulan yang mungkin impulsif, mungkin prematur dan mungkin juga akan menjadi tonggak sebuah sejarah baru seperti sejarah tentang Gaj Ahmada, mohon bersabar semua itu adalah ujian. Di negara bangsa Tapir sana, sudah tidak prospektif lagi buat syaiton untuk melancarkan aksi menggoda manusia untuk terjerumus masuk ke lembah dosa menemani mereka di neraka sana, lha wong bangsa Tapir kan sudah jelas masuk neraka, ngapain juga perlu digoda. Mending ke Endonesiah yang mayoritas penduduknya religius sehingga menjadi ladang prospektif untuk digoda, dijerumuskan mengikuti jejak langkah syaiton menghuni neraka.

Mohon bersabar...ini ujian...

I lop Endonesiah...πŸ‡²πŸ‡¨✊

Salam,
HUM

Tuesday, March 28, 2017

TEMPAT TERNYAMAN

BY 69HUM dot com IN , No comments



Pas jaman kecil saya dulu, kamar Emak adalah tempat ternyaman. Tidur lelap dan damai dalam pelukan Ibunda adalah momen yang susah tergambarkan lewat kata-kata.

Menjelang usia sekolah tempat ternyaman versi saya tergantikan oleh tempat lain yang mungkin tidak terbayang di benak Anda. Tempat pertama adalah sebatang pohon jambu di depan rumah yang tepat menempel di pinggir atap rumah dan sebagian dahannya menjulur ke genteng rumah. Yup, menjadi tempat favorit karena di atas pohon ini saya bisa menghabiskan waktu untuk membaca buku sambil makan buah jambu segar langsung metik di atas pohon. Saking nyamannya di atas pohon ini pernah dengan sukses jatuh dari atas, untung jatuh ke genteng rumah jadi tidak terlalu tinggi dan berhasil menghancurkan 69 buah genteng hancur berantakanπŸ˜…

Tempat nyaman lainnya saat itu adalah...toilet. Yup betul, Toilet! Di tempat ini saya dulu bisa dengan nyaman berlama-lama di dalamnya. BAB atau mandi berendam? Ternyata bukan. Nyambung dengan tempat nyaman di atas pohon tadi, saat menginjak usia sekolah dasar, mulai mengenal sebuah kesenangan baru. Sebenarnya paralel dengan menikmati membaca buku dengan nangkring di atas pohon tadi, sambil...merokok 😬. Yup..merokok di atas pohon sambil baca buku cerita merupakan sebuah kenyamanan tingkat tinggi, di ketinggian soalnya. Nah, tempat nyaman buat merokok yang sering digunakan oleh para perokok berat pasti tahu, Toilet!

Tiba saatnya pergi merantau tinggal sendiri di tempat kost saat kuliah. Kamar mungil dengan luas kotor 6.9 m² menjadi tempat ternyaman saat itu. Sepotong dipan kecil dengan kasur busa tipis menjadi tempat meletakkan badan setelah lelah disetrum seharian. Rak gantung penuh tumpukan buku hasil hunting di pasar senthir berderet rapi. Kamar mungil yang pengap dan panas tersejukkan dengan kipas angin kecil yang berputar malu-malu. Sebuah televisi hitam putih yang dulu nangkring di ruang keluarga di rumah sejak sebelum saya dilahirkan menambah kenyamanan menikmati berita sore yang sudah ditunggu-tunggu sama Bapak Kost yang baru keluar dari kamar saat Dunia dalam Berita selesai. Sebuah speaker aktif mengeluarkan dentuman bass dan suara gitar melengking dari Hetfield dan Richie Sambora, sesekali alunan merdu Joe Satriani ikut mewarnai. Satu set komputer Pentium dengan casing yang tidak pernah sempat ditutup karena lebih sering dioprek ikut menemani hari melewati malam berganti siang.

Pindah ke sebuah rumah kontrakan mungil saat awal-awal kerja. Masih ingat saat-saat Sabtu Minggu menghabiskan waktu tidur siang di kamar dengan cahaya matahari masuk langsung dari jendela. Bangun sore dengan keringat membasahi sekujur badan karena panasnya udara merupakan sebuah kenikmatan tersendiri.

Masih di rumah kontrakan yang sama, sepotong kasur busa tipis ukuran single kami pakai untuk alas tidur dengan nyaman sampai pagi menjelang. Kok kami? Iya kami. Kasur busa tipis single tadi merupakan alas tidur ternyaman saya dan istri saat melewati masa-masa honeymoon 😍. Kurang lebih 69 hari lamanya kami menikmati masa itu menunggu rumah kami yang telat renovasi.

Selanjutnya persis saat tahun baru, kami resmi menempati rumah mungil hasil nekat penuh perhitungan sebelum memutuskan membelinya sebagai rumah impian kami. Sebuah rumah mungil yang mirip property sebuah sirkus sulap. Kenapa begitu?Karena begitu pintu masuk dibuka langsung muncul pintu keluar, saking kecilnya..πŸ˜…

Seiring munculnya krucil yang mewarnai rumah nyaman kami, tempat ternyaman kami selalu berganti-ganti. Sedikit merenung arti kata ter- dalam kata ternyaman. Menurut arti tata bahasa, awalan ter- tadi mestinya mempunyai arti "paling". Dan ternyata awalan kata ter- atau paling tadi tidak pernah ada habisnya. Selalu ada tempat TERnyaman yang berganti setiap saat. Dan ternyata TEMPAT TERNYAMAN itu tidak pernah pindah-pindah meski secara de facto selalu berpindah fisiknya, karena ternyata TEMPAT TERNYAMAN itu ada di HATI ini. Ya..ternyata di mana pun kita berada, cukup letakkan HATI pada tempat yang nyaman, cukup itu saja!

Salam,
HUM

Monday, February 6, 2017

KASIH JALAN

BY 69HUM dot com IN , , No comments


Pernah kesal ketika di tengah kemacetan tiba-tiba ada rombongan dengan sirine meraung-raung minta jalan? Bagaimana kalau yang minta lewat adalah mobil ambulance?

Reaksi yang lebih mengesalkan buat saya adalah orang-orang yang memanfaatkan rombongan bersirine tadi, entah mobil mewah yang dikawal polisi atau ambulance, dengan ikut mengekor di belakangnya. Dan saya menebak juga bahwa orang-orang yang mengekor tadi paling tidak 69% adalah orang-orang yang kesal ketika ada rombongan bersirine lewat.

Manusiawi memang ketika kita merasa "hak" kita dirampas, merasa terdzolimi oleh rombongan bersirine tadi karena merasa sama-sama pemakai jalan raya. Menganggap arogan rombongan bersirine tadi. Dalam hal ini kita kesampingkan sirine mobil ambulance. Saya juga pernah merasakan hal yang sama, sampai sebuah pengalaman membuat saya sekarang akan langsung berusaha menepi atau KASIH JALAN ketika mendengar suara mobil bersirine di belakang, entah itu ambulance atau rombongan horang kaya lewat. Karena saya jadi berpikir bahwa rasa kesal tadi sejatinya itu adalah rasa iri melihat orang lain senang, menurut kita, padahal bisa jadi mereka sedang mengalami kesulitan.

Pengalaman itu terjadi sekian tahun yang lalu. Tepat saat hari raya Idul Fitri di kampung halaman. Cerita bermula saat istirahat siang sejenak setelah capek berkeliling silaturahmi ke saudara dan tetangga sekitar. Baru saja mau menikmati makan siang ketika dari luar terdengar kabar ada kecelakaan di jalan raya. Singkat cerita ada seorang bapak yang tertabrak mobil pick up dan menderita luka cukup serius di kepala belakang. Mobil penabrak pecah berantakan kaca depannya. Akhirnya saya ambil inisiatif membawa si korban naik mobil saya segera ke rumah sakit. Sang sopir ikut di samping dan si korban dalam pangkuan istrinya di kabin belakang.

Kondisi darurat ketika melihat keadaan si korban membuat saya segera memacu kendaraan meski tetap waspada di jalan. Mobil tanpa sirene terpaksa mengandalkan bunyi Klakson yang harus  berkali-kali ditekan untuk meminta pengendara lain minggir. Ada yang minggir segera dan ada pula yang tampang cuek bebek. Lampu merah hampir saya terobos kalau tidak terhalang antrian kendaraan. Semakin panik ketika sepanjang perjalanan sang istri menangis memeluk suaminya dengan darah yang penuh berceceran. Petugas tiket parkir rumah sakit yang terlalu lama membuka palang pintu sempat kena saya semprot sambil membuka jendela memperlihatkan kondisi korban di kabin belakang. Syukurlah dia langsung cukup sigap membuka palang pintu dan menunjukkan tempat Instalasi Gawat Darurat.

Secepat kilat mobil merapat dan disambut suster dan dokter jaga yang cukup sigap. Sejenak termenung di samping mobil mereka-reka kejadian yang baru saja kami alami. Sekian menit berlalu ketika dokter memanggil saya masuk ke dalam ruangan dan memberi kabar bahwa mereka sudah berusaha tapi Tuhan berkehendak lain. Innalillahi wa innailaihi roji'uun...jerutan histeris sang istri demi mendengar informasi dari dokter.

Sedih, bingung dan shock campur aduk berkecamuk di dada ini. Tambah spechless ketika melihat tiga orang anaknya yang masih kecil usia SD datang menyusul dan mendapat kabar ayah tercintanya telah tiada 😭.

Jadi, marilah kita segera KASIH JALAN ketika ada mobil bersirine minta jalan lewat di belakang kita, entah itu ambulance atau pun rombongan di kawal polisi. Kita tidak pernah tahu apa urusan orang di mobil bersirine tersebut. Meski takdir ada di tangan Yang Maha Kuasa, mungkin saja ketika kita KASIH JALAN tadi, kita telah membantu selamatkan satu nyawa.

Salam,
HUM

Sunday, January 1, 2017

Resolusi 2017: Semua Berawal dari Mimpi

BY 69HUM dot com IN , , , No comments



Tidak terasa satu tahun telah berlalu. Yup, tepat satu tahun yang lalu di penghujung tahun dengan amat terpaksa setelah dipikirkan dengan sesama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya akhirnya mengudaralah Blog ini dengan penuh perjuangan. Apakah berhenti sampai di sini? 

Yup, sesuai kata nenek kalau ragu-ragu sebaiknya berhenti. Akan tetapi, karena semangat membara dan penuh energi jiwa muda, maka tanpa ragu tanpa malu lanjut terus sesuai Filosofi Sandal Jepit yang bahkan melebihi Yin Yang.  Kalau Yin Yang sebagai bentuk keseimbangan untuk menghasilkan kekuatan, maka sandal jepit selain simbol keseimbangan saling berpasangan juga mencerminkan sebuah filosofi sebagai pijakan bersama untuk menuju sebuah titik target dan melangkah lagi ke titik selanjutnya lagi...lagi...dan lagi...begitu seterusnya. Pantang menyerah..!! Maka munculah postingan ini tepat di jam 00:00 tanggal 1 Januari 2017. Bisa tepat banget ya? Hebat banget nongkrongin leptop demi menyongsong detik-detik pergantian tahun. Betulkah begitu? Rahasianya ada pada teknologi :) 


Nah, sebagai lanjutan dari resolusi tahunan, kali ini kita sedikit kilas balik refleksi 2016. Tahun 2016 merupakan tahun yang penuh dengan pahit manis naik turun like ride a roller coaster, penuh dinamika yang mewarnai. Berawal dari diagnosa sakit yang dialami Budhe, ya...Buliknya istri yang biasa dipanggil Budhe yang sudah bersama keluarga kami semenjak si Kakak Pertama terlahir ke dunia. Menemani kami dalam suka maupun duka. Berbagai usaha kami lakukan baik medis maupun non medis. Kalau tahun-tahun sebelumnya kita menyempatkan untuk liburan keluarga dengan Budhe ikut serta, dari awal tahun hampir vakum dari nuansa liburan. Kalau kami sering postingan di medsos sedang menginap di luar kota, hotel XYZ itu adalah bagian dari usaha kami untuk mengupayakan kesembuhan Budhe. Meski dalam suasana kurang nyaman, kami tetap berusaha tersenyum, membuat anak-anak dan yang lain nyaman tanpa perlu memperlihatkan kesusahan atau harus berkeluh kesah. Semua dihadapi dan dijalani dengan sikap positif. Entah bagaimana penilaian orang melihat perjalanan kami yang terekam di sosmed silahkan disikapi sendiri.

Setelah sekian lama dan macam usaha yang kami lakukan di sekian tempat, ternyata Allah berkehendak lain. Allah sayang sama Budhe yang sangat menyayangi Krucil-krucil kami. Beliau dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa pada hari Jum'at, 11-11-2016. Satu hari sebelum ulang tahun pernikahan kami yang ke-11. ALLAAHUMMAGHFIRLAHU WARHAMHU WA'AAFIHII WA'FU ANHU. 

Semua seperti mimpi, kini tak ada lagi yang setiap pagi tarik-tarik Krucil untuk mandi. Tiada lagi yang siap selalu dengan menu masakan favorit baru saat kami pulang kerja dengan penat di bahu. Tapi itu semua adalah kenyataan. Kini kau sudah tenang di alam sana. Doa kami akan selalu menyertaimu. Sebagai pengingat bagi kami semua bahwa hidup ini hanya sementara dan pasti akan tiba masanya tanpa mengenal usia.

Mimpi lain ternyata mewarnai tahun 2016. Rutinitas setiap pagi mengantar Duo Kakak berangkat ke sekolah ternyata menuai mimpi menjadi nyata. Di dekat sekolah si Kakak sedang dibangun sebuah Cluster perumahan baru lengkap dengan Pasar Bersih dan Ruko di sampingnya. Setiap kali lewat situ kami seringkali ngobrol, "wah, enak ya kalau punya rumah di situ. Kakak bisa berangkat jalan kaki, kan deket dan nggak takut kesiangan."
Semua berawal dari mimpi karena mengingat harga property yang semakin membumbung tinggi apalagi di tempat yang strategis. Dan mimpi itu berlanjut suatu pagi. Benar-benar berlanjut karena sang sopir ini pas lewat tempat itu masih bermimpi sampai-sampai gedung sekolah terlewat dan harus muter balik lagi..haha.. Dan mungkin itu yang menguatkan kami untuk berusaha mewujudkan mimpi tadi. 

Mengambil cuti santai suatu hari kami datangi kantor pemasaran dan tanya ini itu. Pas salah satu yang ditawarkan adalah Cluster tersebut. Hitang hitung dan pas ternyata ada rejeki yang bisa dialokasikan ke situ. Meski tidak bisa dapat lokasi dengan nomor 69, sebuah rumah mungil dua lantai dengan nomor 8 di jalan 8 akhirnya kami tag sebagai perwujudan mimpi kami.

D'Cataluna adalah nama Cluster itu. Mengingatkan sebuah sirkuit ajang balapan di Spanyol sana. Cocok dengan cita-cita The Dappo sebagai pembalap. Cepat dan tangkas tanpa ragu memacu diri menuju titik target. Spanyol yang merupakan salah satu negara di Eropa itu ternyata menjadi benang merah mimpi kami selanjutnya. Mimpi ke Spanyol memang belum terlaksana. Tapi kami ternyata berhasil mewujudkan mimpi tadi dengan terbang keliling Eropa...! 6 Negara di Eropa Barat berhasil kami jajah dan duduki secara de facto selama 12 hari!

Berawal dari belanja persiapan mudik ke kampung halaman, berlebaran dengan berbaju baru berkumpul silaturahmi bersama keluarga tercinta. Mimpi yang ditawarkan si embak penjaga kotak undian di mall tersebut membuat kami terbuai dan terpaksa meluangkan waktu untuk menulis data ini itu di kupon undian yang biasanya melayang ke kotak sampah dengan sia-sia, kali ini melayanglah 3 kupon itu masuk ke kotak undian dan akhirnya terbang tinggi menyeberangi samudera keliling benua Eropa. Cerita komplit tentang mimpi liburan ke Eropa ini bisa dibaca tuntas di tulisan sebelumnya di sini Masih Percaya Keajaiban?


Dan cerita jalan-jalan ke Eropa ini jugalah yang menjadikan pijakan awal dari sebuah mimpi kami untuk resolusi 2017. Mimpi untuk mencoba maraknya bisnis online dengan amat sangat terpaksa kami wujudkan. Berbekal beberapa tentengan belanja Emaknya anak-anak di Eropah, akhirnya menjadi produk-produk pertama yang nangkring di etalase toko online kami..tetap pasang nama 69hum haha.. Produk branded mahal untuk ukuran kantong kami yang pastinya hanya akan menjadi mimpi kalau kami tidak pergi liburan ke Eropa. Dengan muka manyun Emaknya anak-anak harus rela sebagian tentengannya di pajang di etalase meski dengan embel-embel, " dimahalin donk harganya biar nggak ada yang beli." Haah...penjual yang aneh..πŸ˜… Tapi percayalah, harga yang saya pasang jauh lebih murah daripada ongkos terbang ke Eropa..πŸ˜… Lebih murah juga tentunya daripada beli di mall gedhe Ibu Kota, kuncinya ada karena kami kan dapet tax refund..πŸ˜… 
Saya comot satu foto fenomenal di Eropa sana yang membuktikan bagaimana kualitas produk di sana dan membuat kita pengen memilikinya. 

Lady in Red. Original Product from Europe :)

Satu pesan manyun Emaknya anak-anak juga adalah tidak boleh dibeli oleh orang yang kami kenal, karena kalau ngeliat dipakai orang jadi tambah manyun lagi...πŸ˜… Jadi buat teman, saudara, Om dan Tante semua yang kami kenal, silahkan berkunjung ke Tokopedia dan BukaLapak tapi jangan beli ya? πŸ˜… Cukup kasih tahu teman dari teman-teman Anda sekalian.. 


And guess what... Sehari setelah toko online kami resmi mengudara bahkan masih coba edit sana sini, dua orang pembeli sudah order produk kami. Satu sudah berhasil menimang di tangan, satunya tunggu tukang kirim sedang liburan..πŸ˜… Belum juga memasuki tahun baru, mimpi kami untuk resolusi tahun 2017 sudah menjadi kenyataan. Alhamdulillah banget ya..😊

Saya yakin ini bukan sebuah kebetulan karena semua pasti atas skenario dari Yang Maha Kuasa. Saya hanya coba merangkai menjadi sebuah jalinan benang merah dari sebuah mimpi yang menjadi nyata. 

Sudahkah Anda bermimpi hari ini?
Lazy people will find a simple way to do a difficult job..
Think Crazy...
Be Lazy..
Don't rich people difficult :)

Salam Sandal Jepit,
HUM

Tuesday, November 22, 2016

Masih Percaya Keajaiban?

BY 69HUM dot com IN , , , 4 comments

MASIH PERCAYA KEAJAIBAN?



Beberapa waktu yang lalu saat lagi istirahat kurang enak badan, berkali-kali muncul panggilan dari nomer tidak dikenal. Karena lagi pengen istirahat, telpon saya cuekin. Sore lihat henpon ternyata terlihat lebih dari 6 atau bahkan 9 kali panggilan tak terjawab dari nomer tersebut. Rupanya tidak kenal putus asa tu si penelpon gelap. Dan ternyata ada juga SMS dari nomer tidak dikenal juga. Isinya seperti ini, "Selamat siang pak Hardono. Saya XXX dari agency Mata**** Dept. Store. Bapak memenangkan tiket tour ke eropa untuk 2 orang.  Info dapat dilihat di www.mata****.co.id."
Langsung tutup henpon dan lanjut molor lagi..πŸ˜… Meski ada nomer asing misscall berkali-kali dan ada SMS tadi, saya tidak berpikir bahwa itu dua hal yang berhubungan, saking seringnya dapat SMS Mama minta pulsa...πŸ˜…

Besoknya saat meeting kerjaan, nyambi sambil buka-buka henpon. Lebih tepatnya mainan henpon nyambi meeting 😬. Ingat deh SMS yang kemarin. Sedikit mencermati pesan yang muncul dan agak deg juga ngeliat alamat website co.id. SMS penipuan biasa pakai website abal-abal kan? Akhirnya iseng coba masuk ke website tersebut yang memang merupakan website resmi Mata**** Dept. Store dan...jeng jeng....terpampang sebuah sebuah banner di slider halaman depan "PENGUMUMAN PEMENANG" dan...jeng jeng...tertera di sana nama saya tercantum sebagai salah satu dari 3 orang pemenang hadiah utama, Tour de Europe...WoW....!!

Akhirnya coba krosscheck ke beberapa media resmi termasuk account resminya di Facebook, dan konfirm postip bukan mimpi...πŸ˜…. Masih di tengah meeting tiba-tiba ada panggilan dari nomer yang tidak di kenal kemarin. Saat saya angkat henpon, terdengar suara lega di seberang sana, "wah, Bapak saya hubungi susah banget." Kata lanjutan yang meluncur dr mulutnya setelah kata Hallo. Meski masih dalam suasana surprise bangun dari mimpi, saya tetap bersikap cool dan ngobrol biasa. Minta formal letternya dikirim juga email.

Singkat cerita akhirnya memang terbukti saya memenangkan hadiah pertama tersebut, jalan-jalan buat dua orang. Jadi ini adalah program undian Mata**** Dept. Store dengan Mas*** Card. Memang benar-benar sebuah iseng-iseng berhadiah, belanja 500 rb dapat satu kupon undian.

Ceritanya pas menjelang lebaran kemarin kami belanja tu biar bisa pakai baju baru saat lebaran nanti, sekaligus buat oleh-oleh di rumah. Entah memang lucky atau alam bawah sadar, tidak biasanya struk pembelian saya photo dan sampai sekarang masih tersimpan di henpon πŸ˜…. Memang kalau rejeki itu tak kan lari kemana ya.? Rejeki anak sholeh...πŸ˜‡

Lanjut akhirnya kami urus dokumen buat imigrasi. Passport beres lanjut permohonan visa. Meski diurus oleh agensi, sempat ketar-ketir juga saat membaca note bahwa permohonan Visa belum tentu langsung disetujui, tergantung keputusan dari kedutaan. Waduhh... Apalagi setelah coba browsing baca testimoni pembuat Visa Schengen. Ada embel-embel saldo rekening minimal dan bahkan ada yang minta suntikan dana dulu sekian M dari orang tuanya biar lolos jalan Europe. Ya...kalau cuman satu atau dua M mah ada lah saya...seember isi koin semua...πŸ˜…. Akhirnya tetap nekat print out rekening koran dari tabungan yang segitu-gitunya tu...dan nyatanya permohonan Visa disetujui.. Alhamdulillah...πŸ˜‡

Saat ngobrol dengan sesama pemenang, sekali lagi mulut melongo... WoW...saat tahu bahwa beliaunya masukin ya...seratusan kupon lah...hitung sendiri kalikan maratus rebu berapa kira-kira belanjanya...πŸ˜…. Dan coba tebak berapa kupon yang saya masukkan ke kotak undian? 69.? Kali ini angka keberuntungan saya ternyata bukan itu 😬. Saya hanya cukup memasukkan 3 lembar kupon undian dan bernasib sama dengan yang seratusan kupon tadi lho...WoW..!! Sungguh sebuah keajaiban, bukan? Alhamdulillah banget ya?😊

Dan hari ini kami berkumpul bersama di Bandara Soetta untuk berangkat Tour de Europe selama 12 hari...gratisss...tisss...dikasih uang saku lagi, meski harus ludes duluan buat belanja perlengkapan musim dingin...πŸ˜“. Tapi gak papa, kapan lagi bisa berkesempatan mainan salju tanpa perlu naik ke Puncak Jaya Wijaya...πŸ˜„. Jangan pada nanya oleh-oleh, karena buat makan di sana aja kami musti bawa sempoa buat itung-itungan...πŸ˜…

Semoga perjalanan kali ini membawa berkah dari sebuah keajaiban karena benar apa kata orang bahwa kita hidup pun adalah sebuah keajaiban.
Europe...ayem kaming....!!


Salam,
HUM


Sunday, November 20, 2016

Anak Titipan

BY 69HUM dot com IN , , No comments

Hari ini kami sekeluarga menikmati liburan week end dengan makan siang di salah satu tempat pemancingan di Karawang Barat, Mang Ajo. Bukan pertama kali kami  ke tempat ini untuk sekedar leyeh-leyeh menikmati angin sepoy-sepoy sambil melihat anak-anak bermain atau mancing ikan. 
Makan siang di Saung Mang Ajo
Bukan tempatnya yang mau saya review alias endorse biar dapet gratis ikan nila bakar lho ya...? πŸ˜…, saya cuma teringat entah beberapa tahun yang lalu saat kami ke sini bareng Si Bibi asisten rumah tangga kami dari kampung. Asisten kami itu sudah berumur dan punya tiga orang anak. Anak yang besar perempuan. Dari anak perempuan pertama ini lah Si Bibi akhirnya menemani keluarga kecil kami.

Jadi ceritanya si anak pertama Si Bibi tadi adalah asisten rumah tangga Kakak saya yang di Jakarta. Pas dia pulang kampung, Si Bibi maksa ikut ke Jakarta untuk mbantuin sekaligus buat tambahan uang dapur mereka biar ngebul. Karena Kakak saya sudah cukup yang mbantuin makanya akhirnya si Bibi ikut keluarga kami, jarak juga tidak terlalu jauh jadi masih bisa saling berkunjung nengokin anak perempuannya.

Lalu apa hubungan Si Bibi sama Saung Mang Ajo? 
Memang setiap kali kita jalan bareng anak-anak, Si Bibi sering kami ajak. Nah, pas waktu kami ke Saung Mang Ajo, saat leyeh-leyeh menikmati suasana sehabis menyantap ikan bakar, tiba-tiba Si Bibi terlihat menerawang sambil meneteskan air mata. Istri saya coba bertanya ada apa?
Saya coba terjemahkan kata-kata ke bahasa Indonesia, aslinya Si Bibi bicara bahasa Jawa Kromo Inggil, "Saya ini terharu saking gembiranya, tidak pernah membayangkan bisa merasakan senang seperti ini, makan enak menikmati suasana  ramai. Tapi saya jadi teringat anak yang di rumah, jam segini belum tahu apakah sudah makan atau belum?", jawabnya sambil menyeka air matanya. 

Deg! Mak Jleb rasanya di hati ini. Saya coba membayangkan kalimat yang keluar dari mulut Si Bibi yang lugu itu. Memang karena pas datang ke Jakarta dulu bareng anak perempuannya yang besar, jadi kami sekeluarga tidak langsung melihat rumah atau kondisi keluarga Si Bibi di kampung. Yang kami dapatkan informasi bahwa Si Bibi punya 3 anak, yang nomor dua sudah sekolah SMP trus yang satu masih kecil kira-kira waktu itu usia 2 tahun lebih. Anak kami yang paling kecil baru lahir.

Akhirnya pada saat libur lebaran kami pulang kampung. Sore menjelang malam kami sempatkan langsung ke rumah Si Bibi yang terlihat sudah tidak sabar melihat anaknya. Selepas Isya' sekitar jam 7 malam lewat kami sampai di kampung yang masih sepi. Jalanan masuk gelap gulita. Mobil kami parkir di pinggir jalan raya dan kami jalan kaki menyusuri jalan kampung menuju rumah Si Bibi. Rumah sederhana di ujung kampung di bawah rerimbunan pohon bambu terlihat sepi. Nyala lampu temaram memancar dari sela dinding anyaman bambu rumah itu. 

Dengan tidak sabar Si Bibi langsung masuk rumah, kami ikuti di belakangnya. Langsung menyeruak gorden sebuah ruangan yang ternyata kamar anak kecilnya yang sedang tertidur pulas yang kemudian terbangun dan langsung menangis memeluk Ibundanya. Rasa kangen yang membuncah terlihat dari dua insan ibu anak yang sekian bulan tidak bertemu itu. Rasa haru bahagia bercampur sedih berkecamuk di dada ini ketika menyaksikan sebuah adegan yang bukan sebuah tayangan sinetron yang biasa kita lihat. Nyata dan alami, tanpa pencitraan mewarnai.

Saya jadi ingat pernah baca di timeline seorang teman yang dulunya seorang wanita karier kemudian memilih menjadi seorang ibu rumah tangga penuh untuk anak-anaknya. Sebuah pilihan yang bagus. Saya mencermati beragam komentar pro kontra tentang pilihan seorang wanita berkarier atau menjadi ibu rumah tangga. Saya tidak setuju dengan komentar yang hitam putih alias menjadi ibu rumah tangga full time adalah baik dan menjadi wanita karier adalah buruk atau sebaliknya karena menurut saya semua adalah pilihan. Ada yang mencemooh seorang wanita karier dengan komentar bahwa tega-teganya anak diberikan pada pembantu yang tidak berpendidikan sedangkan ibunya sibuk mengejar materi. Sebuah penghakiman yang sadis. 

Istri saya masuk sebagai kategori wanita karier yang harus membagi waktunya buat pekerjaan dan anak-anak di rumah. Si Bibi bahkan lebih tinggi derajatnya dari hanya seorang wanita karier. Si Bibi rela meninggalkan anaknya yang masih kecil di rumah untuk bekerja mengasuh anak orang lain. Masih tega kah kita menyebut orang seperti Si Bibi tidak punya perasaan meninggalkan anaknya untuk ngurusin anak orang?

Kita tahu apa yang kita lakukan lebih dari yang orang lain ketahui. Menghakimi apa yang dilakukan orang lain dari sudut pandang kita adalah hal yang memalukan diri kita sendiri. Tabayun jadi istilah yang lagi ngehits di era saling mengakimi dan menganggap lebih benar dari yang lain. Semoga kita semua dan keluarga selalu diberikan anugerah dan rahmat dari yang Maha Kuasa.

Hidup adalah pilihan and the choice is yours...!!
Anak-anak kita hanyalah titipan dari Sang Maha Kuasa.

Salam,
HUM 

Sunday, October 30, 2016

Misi Penyamaran

BY 69HUM dot com IN , No comments

MISI PENYAMARAN

Genderang perang melawan pungli sudah ditabuh. Reaksi beragam muncul di lapangan. Ada sebagian yang agak pesimis dan menganggap hal ini bakalan hangat-hangat tai ayam. Apakah lebih hangat dari selimut tetangga? Entahlah...silahkan Anda coba sendiri...
Pak Komandan mengantar anak ke sekolah
Beberapa waktu yang lalu muncul berita tentang seorang Kapolda yang menyamar sebagai warga biasa dan berhasil menangkap tangan anak buahnya sendiri yang melakukan pungli pada dirinya. Keren kan? Ini ni yang dulu pernah jadi impian saya, jadi seorang pahlawan pembela kejahatan dengan melakukan penyamaran. Entah mau disebut Pahlawan Bertopeng atau Pahlawan Kesiangan atau apalah apa namanya. Sayangnya takdir saat ini berkata lain. Meski lahir di kota militer, seragam militer yang membuat terlihat gagah tadi urung saya pakai karena satu dan lain hal yang tak pantas untuk diceritakan di sini, apalagi di media sosial seperti ini, khawatirnya akan menimbulkan fitnah karena tanpa disertai  bukti-bukti dan belum tabayun. Halah.

Tapi ceritanya ternyata lain, misi penyamaran tanpa sengaja berhasil. Cerita berawal ketika liburan pulang ke kampung halaman. Saat makan malam bersama keluarga kebetulan di depan komplek akademi militer. Ternyata di situ menyediakan berbagai macam aksesoris militer, replika tentunya. Singkat cerita kami beli beberapa aksesoris militer buat anak-anak, salah satunya sarung loreng buat si jagoan kecil dan saya sendiri ambil topi loreng.

Pas pulang balik ke Ibu Kota, tidak ketinggalan sepanjang perjalanan topi loreng nangkring di kepala. Ditambah kacamata hitam obat ganteng melawan teriknya matahari. Pas waktu sholat dhuhur kami berhenti di sebuh SPBU untuk istirahat sekalian sholat dhuhur. Tukang parkir mengarahkan mobil di area parkir dengan cekatan. Tanpa melepas topi dan kacamata saya langsung menuju mushola. Ternyata di mushola kecil itu tidak tersedia sarung, padahal saat itu saya pakai celana pendek. Akhirnya ingat sarung loreng punya si jagoan kecil yang kemarin beli. Langsung buka bagasi dan slempangin sarung loreng di pundak. Terlihat di kejauhan sang tukang parkir mengamati setiap mobil yang jadi tanggung jawabnya.

Nah, pas saat mau jalan lagi seperti biasa tukang parkir mengarahkan mobil yang mau keluar. Kaca jendela saya buka sambil mengulurkan lembaran di tangan...yang ternyata ditolak oleh sang juru parkir.  Ohh...baiklah, kami lanjutkan perjalanan meski sambil mikir kenapa sang tukang parkir tadi menolak duit parkir. Ahh sudahlah... Mungkin dia lelah.

Sambil injak pedal pelan-pelan masih kepikiran sama kejadian barusan. Atau jangan-jangan tukang parkir tadi mengira saya anggota militer? Trus dia takut, segan, nggak enak minta duit parkir? Bisa jadi...bisa jadi..!! Dan pembuktian langsung saya lakukan. Misi penyamaran dimulai.

Arus lalu lintas dua arah yang padat membuat orang-orang tidak sabar dan saling berebut. Ambil kanan saat terlihat kosong dan akhirnya terjebak di arus lawan arah. Dan akhirnya itulah yang menambah parah kemacetan. Pas posisi macet kebetulan di samping kanan terlihat sebuah mobil sejuta umat yang dikendarai seorang bapak dan istrinya. Kaca jendela terbuka lebar. Mungkin mereka sedang pengen menikmati udara panas siang itu dengan asap kenalpot dari kendaraan di sekitar. Pelan-pelan saya buka jendela dan sengaja nongolin kepala  dengan topi loreng keluar. Si bapak terlihat agak kaget dan tersenyum tertahan.

Saya ajak ngobrol pelan, setengah berisik dalam keramaian, "Pak, kalau sampeyan ambil kanan ya begini jadinya, ngunci nggak gerak kan?"
Si bapak mengangguk pelan dan  terlihat diiyakan oleh sang istri disampingnya. Pelan-pelan kemudian beliau kasih sign kiri dan masuk ke jalur kiri di depan mobil saya, sengaja saya kasih jalan. Dan selama sekian jam saya buntuti, mobil si bapak tidak neko-neko sama sekali, still on the track. Wow....it works...!!

Masih banyak cerita lain ketika saya pakai topi loreng tadi. Dari mulai pemotor yang serampangan, anak-anak kecil berboncengan gaya-gayaan tanpa helm sampai sopir bus ugal-ugalan yang terpaksa nunduk ketika saya buka kaca dan nongolin kepala di sampingnya. Sebenarnya apalah saya, siapa sih lu....? Aku hanyalah butiran debu.
Topi loreng  powerfull

Saya jadi berandai-andai dan semoga semakin banyak orang yang punya kuasa menggunakan power-nya untuk hal yang positif. Atribut loreng tadi adalah simbol power, sebuah kekuatan yang bisa digunakan untuk hal positif maupun sebaliknya. Kita semua punya power-nya masing-masing dan tidak ada salahnya coba misi penyamaran seperti saya. Pakailah topengmu dan gunakan untuk kebaikan atau keburukan... The power is yours...!

Salam,
HUM