Monday, January 20, 2014

Ketika Anugerah Menjadi Sebuah Musibah (Jokowi Ikuti Jejak Saya Menerjang Banjir Ibukota)

BY 69HUM dot com IN , , No comments





Perahu di depan rumah (Doc: CBC)


Jaman kecil saya di era tahun 80-an, musim hujan merupakan saat-saat yang menggembirakan. Masih tergambar jelas di memori bagaimana senangnya ketika bermain bola di tengah hujan deras yang mengguyur. Gelak tawa ceria bersama teman-teman ketika bermain prosotan di lereng terjal berlumpur.

Sampai dengan era tahun millenium saya tinggal di kampung halaman yang tenang, sejuk dan nyaman ketika musim penghujan datang. Selepas menyelesaikan bangku kuliah saya ikut mengadu nasib di ibukota. Mengabaikan lirik lagu “Siapa Suruh Datang Jakarta“, akhirnya saya menetap di daerah pinggiran ibukota sampai dengan saat ini ditemani istri tercinta dan duo krucil yang ceria. Meskipun sering membaca dan melihat berita banjir tahunan yang melanda ibukota, saat awal menetap di pinggiran Jakarta, kami tidak pernah terbayang banjir dan tenang karena sampai saat itu daerah kami masih “bebas banjir”. Hingga pada suatu pagi di awal tahun 2007 menjadi pengalaman pertama bersentuhan dengan banjir.

Tepat satu hari setelah prosesi aqiqah anak kami yang pertama, sehabis subuh sekitar jam 5 pagi kami dikagetkan dengan fenomena yang baru pertama kami alami. Air deras mengalir di jalan depan rumah. Perlahan tapi pasti alirannya semakin deras dan mulai masuk ke teras rumah. Sama sekali tidak terbayang dan tidak terpikir bahwa itu adalah BANJIR. Masih sedikit takjub dan bingung dengan apa yang sedang terjadi, saya malah asyik melihat di luar rumah barang-barang yang hanyut terbawa air. Tidak terpikir sama sekali bahwa air yang semakin cepat dan deras mengalir kian meninggi dan siap masuk pintu rumah tanpa permisi. Maklum, pengalaman pertama yang sungguh spektakuler.

Tidak memakan waktu lama kira-kira satu jam lebih air sudah mulai melewati teras dan menerobos masuk ke dalam rumah. Tetangga juga terlihat panik. Mobil di garasi masing-masing segera berseliweran keluar ke area yang lebih tinggi. Air di jalanan sudah naik setinggi pinggang orang dewasa dan semakin naik lagi. Dengan minimnya pengalaman dan sedikit banyak panik, berbagai macam barang di dalam rumah yang berada di bagian bawah tidak sempat untuk diselamatkan dan akhirnya terendam air kotor kecoklatan sepeti air susu yang pasti tidak manis rasanya. Kulkas dan mesin cuci langsung tenggelam bak perahu karam. Bahkan vacum cleaner yang tinggal diangkat saja tidak sempat terselamatkan. Dua buah motor yang dimasukkan ke dalam rumah di belakang juga menjadi korban tidak sempat dikeluarkan karena air di jalan sudah terlanjur tinggi. Yang paling parah adalah lemari pakaian yang ikut terendam. Meski tidak semua bagian terendam, kebetulan kami menata semua celana ada di bagian terbawah…dan tidak sempat diselamatkan juga. Alamat side a side b nunggu kering nih *nyengir.

Semenjak pengalaman pertama kebanjiran tersebut, setiap masuk musim penghujan kami menjadi sedikit was-was. Bukan tetesan air dari atap bocor yang kami khawatirkan, tapi munculnya air dari jalanan yang nyelonong masuk tanpa permisi atau pun basa-basi. 7 tahun kami lewati dengan aman meskipun setiap hujan tiba menjadi lebih waspada. Meski rumah kami “sementara” bebas banjir, banyak daerah di sekitar kami yang setiap tahunnya mengalami nasib sama dengan pusat ibukota. Air menggenang betah di dalam rumah tidak mau pulang sudah hal biasa bagi penduduk yang langganan banjir. Tahun lalu kami bersama komunitas sepeda CBC sempat melakukan aksi baksos untuk membantu para korban banjir di sekitar tempat tinggal kami, kisahnya bisa dibaca di tulisan “Menyusuri Jejak Korban Banjir”.

Ketika tahun ini memasuki musim hujan dan banjir kembali melanda beberapa wilayah di tanah air, kembali teman-teman CBC mengadakan aktivitas baksos. Hari Minggu ini kembali melakukan aktivitas yang sama seperti tahun kemarin, tapi sayangnya saya dan keluarga tidak bisa ikut serta. Kenapa? Rumah kami juga sedang dalam status siaga. Ya, hujan yang terus menerus mengguyur selama beberapa hari terakhir ini sempat membuat air menyentuh bibir batas teras pada sabtu dini hari. Gelombang yang tersapu ketika ada mobil lewat depan rumah bahkan membuat air sedikit malu-malu melewati pintu depan. Berbekal pengalaman pertama 7 tahun yang lalu, dengan sigap mobil segera diungsikan ke area lebih tinggi. Barang-barang segera naik ke atas, tidak lupa celana di tumpukan lemari terbawah naik kasta. Gerak cepat dilakukan meski membuat seisi rumah seperti kapal pecah, paling tidak untuk minimalisir dampak apabila air dengan  senang hati mengajak bala tentaranya masuk ke dalam rumah. Alhamdulillah setelah begadang menjelang subuh air mulai surut dan pamit jalan lagi sebelum mengetuk pintu rumah.

Kampung halaman saya tidak jauh dari kota Solo. Meski Solo pernah mengalami banjir akibat luapan Bengawan Solo, Jokowi mungkin sama dengan saya ketika menginjakkan kaki di ibukota, geleng-geleng kepala menghadapi banjir dimana-mana. Sebagai orang nomor satu di ibukota, Jokowi dituntut untuk berpikir keras menghadapi masalah satu ini. Banjir merupakan masalah yang cukup kompleks untuk diurai benang kusutnya. Meski banjir tahun ini tidak hanya melanda Jakarta saja, problem yang ada sedikit beda dengan di daerah. Sistem drainase dan tata kota menjadi salah satu pemicu utama banjir ketika menghadapi curah hujan yang tinggi. Di kampung halaman saya sampai saat ini masih aman dan bebas banjir karena memang masih cukup banyak daerah resapan. Sangat jauh berbeda dengan kondisi Jakarta. Daerah resapan sudah berubah menjadi mall dan perumahan. Sungai yang berubah menjadi aliran sampah berjalan.

Sebenarnya cukup sederhana kalau kita lihat dari ilmu fisika alam bahwa air akan mengalir dari satu titik ke titik lain yang lebih rendah. Secara alamiah, titik terendah sebagai tempat tujuan air adalah lautan luas. Kita juga seringkali mengambil patokan ketinggian suatu tempat diukur dari atas permukaan laut, hal ini menunjukkan bahwa laut merupakan titik nol atau sebagai datum ketinggian permukaan tanah. Dari kenyataan ini satu point yang bisa kita ambil untuk mengatasi masalah banjir ini adalah dengan mengatur lagi tata kota dengan sistem drainase yang bagus untuk mengalirkan air menuju tempat akhir yang seharusnya, yaitu lautan luas. Cara ini pastilah tidak mudah dengan kondisi yang ada saat ini. Hal yang bisa dilakukan dengan infrastruktur yang ada saat ini adalah dengan normalisasi aliran sungai yang ada. Pengerukan kedalaman sungai sehingga bisa menambah debit air yang lewat.

Mungkin ada perbedaan ketinggian yang tidak beraturan karena kontur tanah atau bangunan yang sudah ada sehingga aliran alami air ke titik lebih rendah menjadi terhambat. Hal ini bisa diatasi dengan membuat sumur-sumur resapan di titik-titik tertentu. Cara paling sporadis yang bisa dilakukan adalah membuat lubang biopori di halaman rumah masing-masing, seperti yang kami terpakan di halaman sempit rumah mungil kami.

Kebiasaan buang sampah sembarangan juga merupakan pemicu utama masalah banjir ibukota. Kesiapan infrastruktur dan kesigapan petugas kebersihan menjadi hal yang cukup penting. Contoh dari seorang pemimpin juga merupakan pendorong sporadis bagi penduduk untuk mengikuti apa yang dilakukan pemimpinnya. Disiplin dengan dimulai dari diri sendiri ketika sudah menjalar ke masing-masing orang akan memberikan dampak viral yang cukup signifikan. Ketika seorang pemimpin tidak peduli dengan rakyatnya maka rakyat akan menjadi tidak peduli dengan yang mereka perbuat dan akibat selanjutnya.

Meski untuk “sementara” kondisi aman, rasa was-was senantiasa muncul ketika hujan deras terus menerus mengguyur bumi sepanjang hari. Hujan yang dulu merupakan momen yang dinanti ketika masa kecil di kampung halaman, kini berubah menjadi sebuah momok yang ditakuti. Hujan yang merupakan anugerah buat para petani, sekarang menjadi musuh yang merendam hasil pertanian dan mengancam gagal panen. Benar-benar bagaikan anugerah yang menjadi sebuah musibah. Kenapa hal ini bisa terjadi? Mungkin benar apa yang dikatakan Ebiet G. Ade ini..
Mungkin Tuhan mulai bosan.
Melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita.
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…
Mari kita lihat bersama apakah Jokowi berhasil mendapatkan jawaban dari rumput yang bergoyang.. ^_^

Salam,
HUM


e

0 comments:

Post a Comment