Tuesday, November 25, 2014

Kuntilanak dan Genderuwo Pencetak Tuyul Menjadi Sarjana

BY 69HUM dot com IN No comments

Tidak salah memang apa kata pepatah yang mengatakan “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, karena ternyata menuntut ilmu bahkan bisa dilakukan sampai ke ‘dunia lain’.

Saya bukan sedang mau bercerita atau membahas masalah klenik perdukunan dan tetek bengeknya bukan pula mengenai teteknya dukun beranak *duh. Maksud saya dukun beranak kan biasanya membantu persalinan seorang ibu yang harus segera mempersiapkan tetek bengeknya buat si jabang bayi. Coba bayangin gimana kalau teteknya sang ibu sedang bengek..? apa jadinya coba..? *loh.. ngomong apa to ini? **sudah mbayangin tetek yang bengek..? *mringis
Cukup.! Kita kembali ke topik tetek yang sehat tanpa bengek..*nyengir


SD SETAN (doc : HUM)

Jadi begini *mulai serius nih, di hari guru ini saya akan bercerita tentang sebuah sekolah yang nyata adanya, bukan kisah fiktif dengan penuh rekayasa tapi sebuah kisah nyata dengan lokasi nyata dan tokoh nyata yang bisa dikonfirmasi tentang kebenaran kisah ini. Anda tentu mengenal sebuah candi yang masuk menjadi 7 keajaiban dunia kan? Yap, candi Borobudur yang berdiri megah di sebuah kota kecil yang sejuk di lereng bukit Tidar. Orang mungkin banyak yang mengira bahwa Borobudur berada di wilayah Jogjakarta, padahal sejatinya masuk wilayah kota Magelang, Jawa Tengah. Nah, ada sebuah SD di wilayah Kabupaten Magelang, meski bukan berada di daerah terpencil tapi suasana nyaman dan sejuknya udara pedesaan masih bisa kita jumpai di daerah ini. Di situ berdiri sebuah sekolah yang bernama SD Negeri SETAN. Tidak salah jika para siswa didiknya kita sebut ‘TUYUL’ dan Bapak Ibu guru pengajarnya kita panggil ‘KUNTILANAK’ dan ‘GENDERUWO’. Nama aneh dari sekolah dasar ini sebenarnya diambil dari nama desa tempat lokasi sekolah berada. Masalah pengejaan notasi huruf ‘E’ dengan beberapa intonasi suara membuat nama menjadi masuk kategori ‘dunia lain’. Sebenarnya tulisan ‘SETAN’ ini bukan dibaca seperti kata SETAN makhluk dunia lain, tapi dengan intonasi seperti membaca kata ‘SEBEL’ atau seperti kita mengeja tanpa huruf ‘E’, jadinya dibaca ‘STAN’.

Meski sebuah sekolah dasar di desa, SD ini sudah mencetak para ‘tuyul’ menjadi sarjana di berbagai bidang dengan profesi yang beraneka ragam. Hal ini tidak luput dari usaha para ‘kuntilanak’ dan ‘genderuwo’ yang telah mengabdikan untuk mengajar di SD SETAN. Para ‘tuyul’ alumni SD ini berhasil mencicipi gelar sarjana dari perguruan tinggi favorit seperti ITB, UGM dan UNDIP, salah satunya saya *senyum. Yup, saya adalah salah satu ‘tuyul’ yang pernah masuk ke dunia lain di SD SETAN ini. Masih teringat di kepala dengan rambut yang mulai memudar bak tanaman padi menguning yang siap dipanen, masa-masa kecil yang penuh canda tawa ceria bersama teman-teman sesama ‘tuyul’ menghabiskan hari dengan serius mendengarkan wejangan dari para ‘kuntilanak’ dan ‘genderuwo’ yang tidak lain adalah bapak dan ibu guru kami. Salah satu ‘kuntilanak’ yang memimpin SD SETAN ini tidak lain tidak bukan adalah ibunda tercinta. Kisahnya bisa Anda baca di Ibu Guruku, Guru Nyata dalam Kehidupanku.


Tuyul di SD SETAN (Doc: HUM)

Jika Anda berkesempatan mengunjungi kota sejuk Magelang untuk melihat kemegahan candi Borobudur, tidak ada salahnya mampir berpoto selfie di plang SD SETAN, bisa jadi nantinya masuk menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia….lain.*nyengir

Selamat Hari Guru Nasional…jayalah pendidikan Indonesia..!!

Salam,
HUM

0 comments:

Post a Comment