Saturday, January 16, 2016

Panggung Sandiwara Teror Bom Sarinah

BY 69HUM dot com IN , , 4 comments



Teror bom yang mengguncang Ibukota beberapa hari yang lalu menyisakan duka,  kesedihan dan komentar dari berbagai kalangan. Tanpa mengurangi rasa hormat dan berduka terhadap para korban dan keluarga,  saya coba coretkan tulisan ini.

Sebuah panggung sandiwara bisa kita lihat dari peristiwa teror bom di Sarinah ini. Jika disebut sandiwara tentunya melibatkan aktor-aktor di dalamnya,  bukan? Coba saya ulas satu-satu siapa saja pemerannya.

1. Teroris
Dari foto-foto hasil reportase para wartawan di lokasi memperlihatkan sosok teroris yang ada pada kejadian tersebut.  Yang cukup menonjol atau kita sebut teroris utama adalah seorang pemuda dengan dandanan masa kini.  Kaos dan celana jeans branded,  topi dengan logo Nike dan sepatu sport baru. Iklan terselubung dari American Branded.  Kurang cocok menggambarkan sosok seorang teroris. Akan lebih meyakinkan jika sosok teroris tadi berjenggot,  celana cinkrang,  pakai rompi bergelantungan granat dan tubuh penuh lilitan kabel bom.

Gaya pegang pistol juga menunjukkan seorang amatiran,  bukan teroris pro.  Sayang sekali dengan sekian banyak sasaran tembak di sekelilingnya bakalan meleset dan salah sasaran karena fokus tembakan ngawur.

Teroris yang akhirnya meledakkan diri di samping mobil juga kurang dramatis. Akan lebih heroik jika dia berlari ke arah kerumunan massa kemudian diberondong senapan mesin dari polisi sebelum akhirnya bom meledak menewaskan dirinya.

2. Polisi
Polisi yang baku tembak dengan teroris ada yang merupakan polantas.  Lebih meyakinkan jika polisi anti teror yang berdatangan ke lokasi,  lengkap dengan senjata laras panjang,  rompi anti peluru dan  masker wajah. Bukan polisi-polisi keren  bergaya stylish dengan sneakers Gucci dan Adidas,  tas slempang Coach, yang semuanya langsung bisa dicari tahu berapa harganya. Pesan sponsor lagi-lagi mewarnai kostum sang polisi keren.

Belum lagi pesan sponsor dari brand Toyota sebagai mobil yang dipakai untuk perlindungan para polisi saat baku tembak dengan teroris,  padahal penonton di sekelilingnya berkerumun dengan tenangnya tanpa pengaman apapun.

Mana sniper yang bertugas melumpuhkan teroris dan melindungi rekannya dari jarak jauh? Yang ada adalah polisi superhero dengan pakaian preman yang membuat bias mana polisi mana teroris.

3. Pak Jamal
Pak Jamal, tukang sate yang tetap tenang melayani pembeli dalam radius yang tidak jauh dari lokasi sempat mendapat sorotan kamera. Belum lagi tukang kopi dan pedagang asongan lainnya yang dengan enaknya mondar mandir lokasi,  semakin mengaburkan esensi sebuah aksi terorisme.

4. Presiden
Presiden dan para pejabat yang datang langsung ke lokasi hanya beberapa jam setelah aksi teror.  Jelas-jelas bukan waktu dan area steril untuk dikunjungi orang nomor satu di negeri ini,  tanpa body armor dan pengawalan yang ketat,  cukup fotografer kenegaraan yang selalu menempel. Tapi ceritanya tetap berlanjut dengan aman tanpa kejadian yang berpotensi membahayakan Presiden, area kotor yang steril.

5. Fotografer
Para fotografer dari media beneran maupun dadakan bermunculan mengabadikan momen teror tersebut. Video rekaman dari ponsel maupun CCTV mengabadikan setiap adegan yang ada. Sosok teroris dan polisi ganteng tidak akan jadi trending topic tanpa bantuan mereka.

6. Figuran
Orang-orang yang berkerumun menonton lokasi,  berlarian cerai berai ketika ternyata di dekatnya ada teman teroris,  kemudian berjajar rapi menonton di belakang aparat yang sedang baku tembak dengan gagahnya melawan teroris. Belum lagi figuran lain yang ikut berselfie ria masuk ke police line TKP. Sungguh sebuah cerita yang tidak masuk akal untuk sebuah drama terorisme.

7. Komentator
Media tidak kalah hingar bingar meramaikan pertunjukan panggung sandiwara ini. Broadcast message berputar antar group media sosial dengan gencarnya. Banyak yang melenceng dari perannya,  merasa sebagai penyampai berita aktual. Bumbu-bumbu berita bertebaran untuk menambah sensasional alur cerita.


Ya.... Semua hanyalah sebuah panggung sandiwara. Saya dan Anda semua adalah aktor dan aktris di dalamnya. Dunia hanyalah sebuah panggung sandiwara,  kita tidak bisa menolak scenario dari Yang Maha Kuasa. Semua kisah di atas tidak akan terjadi tanpa campur tangan-Nya.

Entah cerita apalagi yang akan mewarnai episode selanjutnya.  Apakah akan ada sekuel lanjutan atau berganti lagi dengan genre cerita yang lain? Kita coba nantikan saja dengan tetap optimis dan selalu berdoa untuk kejayaan negeri ini.

Berbagi untuk saling melengkapi karena hidup bisa berkali-kali sedangkan mati hanya satu kali..

Salam,
HUM






Catatan kaki:
*anggap tulisan di atas dari seorang kritikus film, sayangnya kejadian ini adalah nyata bukan sebuah film,  jadi abaikan kritikan dari kritikus film abal-abal di atas #nyengir

4 comments: