Friday, July 29, 2016

Seberapa Ganjilkah Peraturan Ganjil Genap?

BY 69HUM dot com IN 3 comments

Ganjil Genap
Kata ganjil bisa punya konotasi sebagai sesuatu yang aneh, lho:) Nah, aturan baru mengenai pemberlakuan mobil dengan plat nomor ganjil dan genap untuk melintasi jalan-jalan protokol yang ditentukan sudah mulai diuji coba per hari Selasa (27/07/16). Sambil melihat seberapa ganjilnya peraturan yang baru ini apakah efektif untuk mengurangi kemacetan di Ibukota? Sambil nyruput kopi nasgitel, mari kita coba ulas beberapa point jika dibandingkan dengan peraturan yang lama, 3 in 1,  yang dinilai kurang efektif sehingga muncul wacana ganjil genap ini.

Volume Kendaraan
Salah satu parameter terjadinya kemacetan di titik-titik penting jalanan Ibukota adalah volume kendaraan yang cukup padat dan hal ini terjadi pada saat rush hour, sesuai peraturan yang diberlakukan yaitu di pagi dan sore hari saat berangkat dan pulang kerja. Saat 3 in 1 diberlakukan, salah satu point utama objektifnya sama dengan peraturan ganjil genap ini, sama-sama bertujuan mengurangi volume kendaraan. Dengan 3 in 1, diharapkan dengan satu mobil berisi 3 penumpang atau lebih, orang akan saling nebeng untuk berangkat atau pulang kerja sehingga yang tadinya 3 mobil menjadi 1 mobil (turun 66.66%). Dengan metode ganjil genap, parameter pembagi cuma dua sehingga jika dengan logika yang sama alias nebeng, cukup 2 mobil menjadi 1 mobil (turun 50%). Jadi dari parameter jumlah kendaraan yang berkurang ternyata lebih efektif aturan 3 in 1. Akan lebih besar lagi rasio penurunan kendaraan jika diberlakuan 4 in 1 (turun 75%), 5 in 1 (turun 80%) dan seterusnya sesuai maksimal kapasitas kendaraan. Dengan melihat kondisi ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa angkutan massal dengan daya angkut banyak akan lebih efektif menurunkan volume kendaraan.

Bisnis Otomotif
Pada saat aturan 3 in 1 berlaku, bisnis produsen otomotif tidak begitu terpengaruh atas kebijakan tersebut. Volume produksi bergerak naik turun semata dipengaruhi faktor makro ekonomi dan kemampuan daya beli masyarakat. Tapi dengan aturan ganjil genap, faktor ekonomi dan daya beli tadi akan ditambah faktor "orang berduit". Bagi kalangan segmen atas, mempunyai kendaraan lebih dari satu adalah hal yang biasa. Jadi jika saat ini hanya punya satu mobil dengan plat nomor ganjil, bisa jadi dengan mudah untuk memutuskan beli mobil baru dan "beli" plat nomor genap. Alih-alih mengurangi volume kendaraan, aturan ganjil genap malah memicu untuk menambah jumlah kendaraan baru. Walaupun dipakai bergantian ganjil genap di jalanan yang ditentukan, kan bisa juga dipakai bersamaan di area lain. Tambah macet secara keseluruhan. Potensi terjadi deal politis dan bisnis antara pejabat pemerintah dengan para pelaku bisnis otomotif bisa saja mewarnai terbitnya aturan ini, who knows..?

Imbas terhadap Petugas Lapangan
Dari setiap aturan yang ada pasti ada celah yang bisa "dimanfaatkan" oleh oknum petugas lapangan untuk kepentingan pribadi. Potensi untuk damai ditempat bisa terjadi baik untuk para pelanggar aturan 3 in 1 maupun ganjil genap. Jadi dari faktor ini bisa dianggap skor seri. Tinggal tergantung tingkat kadar keimanan masing-masing petugas lapangan bertahan berapa lama setelah aturan baru diberlakukan. Sebagai catatan, kecil kemungkinan petugas yang paling bejad sekalipun akan melakukan tindakan kolusi damai di tempat saat peraturan baru sedang diterapkan, masih hangat, masak ya mau dipanaskan :)

Imbas terhadap Petugas Administratif
Peraturan 3 in 1 bisa dibilang murni petugas lapangan yang terlibat. Sedangkan aturan ganjil genap, selain petugas lapangan untuk kontrol operational, tentu saja akan melibatkan petugas dalam urusan administratif, hal ini terkait pembuatan plat nomor. Secara standard umum, plat nomor akan diberikan acak sesuai running number. Jadi kemungkinan dapat nomor ganjil atau genap adalah 50:50. Tapi pada prakteknya di lapangan, kita sering menjumpai kendaraan dengan nomor cantik, tentu saja atas pesanan sang pemilik kendaraan dan tentunya saja dengan tambahan sekian rupiah untuk "beli" nomor cantik tadi. Nah, dengan peraturan ganjil genap ini diberlakukan, bukan hanya nomor cantik yang bisa jadi komoditas jualan oknum petugas, bahkan nomor ganjil atau genap yang merupakan nomor curah bisa akan naik nilainya sesuai pesanan dari pemilik kendaraan. Satu potensi terjadinya kolusi di lapangan. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa aturan ganjil genap berpotensi memunculkan celah kolusi yang baru.

Imbas Terhadap Lingkungan
Kebijakan 3 in 1 pada kenyataannya di lapangan memunculkan praktek perjokian. Sesuai kodrat manusia yang diberi akal, dengan cerdiknya peraturan 3 in 1 itu dijadikan sebagai ladang mata pencaharian para joki. Dengan terang-terangan kita bisa melihat di pinggir jalan para joki berjajar bahkan berdampingan tidak jauh dari para petugas, sama-sama bekerja cari sesuap nasi, mungkin punya konsensus bersama satu guru satu ilmu tidak saling mengganggu rejeki masing-masing. Dengan peraturan ganjil genap, praktis usaha perjokian tadi langsung gulung tikar. Sudah tidak perlu lagi bantuan orang untuk menambah jumlah penumpang. Dari faktor ini, aturan ganjil genap terbukti lebih efektif menghilangkan praktek joki di jalan raya yang kadang mengabaikan faktor keselamatan diri. Mudah-mudahan mereka para joki bisa mendapatkan rejeki dari pekerjaan lain yang lebih aman dan mulia dibanding harus berjajar berpanas-panasan di pinggir jalan bersama anak kecil dalam gendongan mereka.


Psikologis Pemilik Kendaraan
Jika 3 in 1 memunculkan ide-ide untuk "mengakali" dengan melibatkan orang lain, bisa petugas lapangan, petugas administratif maupun joki di pinggir jalan, peraturan ganjil genap ini bisa memunculkan ide "mengakali" secara personal. Potensi penggunaan plat nomor palsu untuk menyesuaikan hari ganjil dan genap sangat bisa dilakukan oleh pemilik kendaraan yang mempunyai otak kriminil secara DIY (Do It Yourself), hal ini berlaku bagi pemilik kendaraan dengan kantong cekak, alih-alih beli mobil baru dengan plat nomor baru mendingan buat plat nomornya saja, lebih irit dan ekonomis kan? :)

Ulasan di atas sama sekali tidak bisa dijadikan patokan atau pun untuk menarik kesimpulan tentang seberapa efektif kah aturan ganjil genap nantinya. Kita monitor saja hasil evaluasi dari masa uji coba yang sedang berjalan. Saya pribadi berprinsip untuk ikuti setiap aturan yang berlaku karena dengan kesadaran dan itikad baik dari para pemakai jalan untuk mematuhi peraturan berlalu-lintas niscaya perjalanan kita akan aman, nyaman, lancar tanpa macet bahkan tanpa perlu ada aturan 3 in 1 maupun ganjil genap.

Akhir kata, mohon dimaafkan jika ada salah-salah kata dari tulisan ganjil dari orang setengah genap ini.. #nyengir

Salam,
HUM


3 comments: