Wednesday, October 2, 2013

Merindukan Semangat G30-S PKI dan Kesaktian Pancasila

BY 69HUM dot com IN No comments


Rindu Menjadi Anak Indonesia (source: pariamantoday.com
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, rindu mempunyai arti sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Definisi lain yang menggambarkan perasaan, rindu adalah ketika kamu menginginkan kehadiran seseorang atau sesuatu yang sudah lama tidak kamu temui atau lakukan. Rindu kampung halaman, sanak saudara atau orang-orang yang kita cintai merupakan hal yang sering sekali kita alami, manusiawi.

Di penghujung bulan September dan memasuki awal bulan Oktober, sebuah rasa kerinduan menyeruak di dalam dada ini. Rindu akan gaung peristiwa G30-S PKI yang kemudian menjadi bukti akan kesaktian Pancasila. Sejarah mencatat peristiwa besar yang terjadi sekian puluh tahun yang lalu sebagai catatan kelam dalam sejarah bangsa ini, sekaligus sebuah catatan “prestasi” atas kesaktian Pancasila.

Kerinduan macam apa yang munculnya saat ini? Ya, sebuah kerinduan akan semangat nasionalisme, semangat perjuangan, semangat cinta tanah air dan sekumpulan semangat kecintaan kita terhadap ibu pertiwi. Masih teringat ketika masa kecil, setiap tahun kita disuguhi dan bahkan “dipaksa” menyimak film G30-S PKI. Film G30S/PKI ini digarap tahun 1984 dan kemudian wajib ditayangkan di TVRI dan seluruh televisi swasta setiap malam tanggal 30 September. Dalam perkembangan selanjutnya, memasuki era reformasi film ini tidak ditayangkan lagi per 1 Oktober 1998. Berbagai pro kontra mewarnai film yang dianggap penuh kontroversi ini.

Masih teringat dalam catatan di kepala kekejaman dari PKI yang telah menyiksa para Jenderal dan kemudian berakhir di sumur Lubang Buaya. Masih jelas terlihat gambaran para Gerwani menyanyikan lagu “Genjer-genjer” dengan riangnya. Masih jelas terngiang kata-kata “Darah itu merah, Jenderal..”, ketika penyiksaan demi penyiksaan dialami oleh para Jenderal.

Kerinduan ini sama sekali  bukan kerinduan terhadap kebengisan, kekejaman, kesadisan orang-orang yang digambarkan sebagai pemberontak, PKI, dalam film tersebut. Tapi, kerinduan akan munculnya semangat nasionalisme yang menggelora di dada ini. Cerita yang benar-benar digambarkan sebagai hitam-putih begitu melekat di hati ini. 7 orang Pahlawan Revolusi yang menjadi korban mampu membangkitkan semangat revolusi dibandingkan tewasnya ribuan nyawa setelah peristiwa G30-S PKI. Korban rakyat yang berjatuhan setelahnya digambarkan sebagai efek dari pembuktian akan Kesaktian Pancasila.

Saya sama sekali tidak mempersoalkan atau memperdebatkan sejarah G30S-PKI maupun lanjutan efek pembantaian berdarah berikutnya. Sejarah dibukukan tentu saja dari sudut pandang “pencatat” sejarah. Pemberontak bisa jadi merupakan Pahlawan di mata kelompoknya, begitu pun sebaliknya. Yang menjadi ganjalan kerinduan saya saat ini adalah kerinduan saat-saat gaung akan rasa yang menggelora untuk bela bangsa. Di masa-masa itu kita disuguhi doktrin dalam rangkaian cerita tentang dua warna hitam-putih, pemberontak-pahlawan. Terhadap siapa? tentu saja keutuhan bangsa ini.

Masih terbayang betapa gagahnya para pejuang kita ketika bertempur melawan musuh dalam serangan fajar di 1 Maret. Atau teriakan membahana Bung Tomo untuk membangkitkan semangat arek Suroboyo. Masih ingatkah sosok Temon, anak kecil yang begitu merindukan ayahnya yang tengah berjuang? Sosok imajiner yang mampu membangkitkan imajinasi anak Indonesia di masa kecil dahulu.

Apa yang bisa kita lihat atau ceritakan kepada anak kita sekarang? Setiap hari disuguhi berita politik, bukan berbicara tentang bangsa, tapi dengan jelas, terang benderang bahkan menyilaukan ketika teriak atas nama kelompok, golongan, partai, bahkan citra personal. Cukup sulit kita untuk membedakan mana hitam mana putih, semua serba abu-abu, bahkan monyet pun bingung ketika warna kulitnya dipakai oleh berbagai elit politik yang menyuarakan aspirasi rakyat, semua serba abu-abu.
Saya rindu akan sebuah cerita, tontonan, acara, tayangan program televisi yang memberikan batasan hitam-putih untuk membangkitkan semangat kebersamaan, bukan sebuah perdebatan saling benar, perpecahan dan kebimbangan terhadap arah para pemimpin negeri ini. Kalau seorang komentator “jebret” mampu untuk membangkitkan rasa nasionalisme, bangga terhadap bangsa, artinya cukup mudah untuk sekedar membangkitkan jiwa nasionalisme dari anak-anak bangsa ini.

Saya rindu akan sebuah cerita tentang semangat kebangsaan meskipun itu hanyalah sebuah cerita dramatisasi dari sejarah, daripada setiap hari disuguhi oleh kenyataan dari orang-orang yang pintar bersandiwara untuk kepentingan golongannya semata.

Salam,
HUM

0 comments:

Post a Comment