Sunday, October 30, 2016

Misi Penyamaran

BY 69HUM dot com IN , No comments

MISI PENYAMARAN

Genderang perang melawan pungli sudah ditabuh. Reaksi beragam muncul di lapangan. Ada sebagian yang agak pesimis dan menganggap hal ini bakalan hangat-hangat tai ayam. Apakah lebih hangat dari selimut tetangga? Entahlah...silahkan Anda coba sendiri...

Pak Komandan mengantar anak ke sekolah
Beberapa waktu yang lalu muncul berita tentang seorang Kapolda yang menyamar sebagai warga biasa dan berhasil menangkap tangan anak buahnya sendiri yang melakukan pungli pada dirinya. Keren kan? Ini ni yang dulu pernah jadi impian saya, jadi seorang pahlawan pembela kejahatan dengan melakukan penyamaran. Entah mau disebut Pahlawan Bertopeng atau Pahlawan Kesiangan atau apalah apa namanya. Sayangnya takdir saat ini berkata lain. Meski lahir di kota militer, seragam militer yang membuat terlihat gagah tadi urung saya pakai karena satu dan lain hal yang tak pantas untuk diceritakan di sini, apalagi di media sosial seperti ini, khawatirnya akan menimbulkan fitnah karena tanpa disertai  bukti-bukti dan belum tabayun. Halah.

Tapi ceritanya ternyata lain, misi penyamaran tanpa sengaja berhasil. Cerita berawal ketika liburan pulang ke kampung halaman. Saat makan malam bersama keluarga kebetulan di depan komplek akademi militer. Ternyata di situ menyediakan berbagai macam aksesoris militer, replika tentunya. Singkat cerita kami beli beberapa aksesoris militer buat anak-anak, salah satunya sarung loreng buat si jagoan kecil dan saya sendiri ambil topi loreng.

Pas pulang balik ke Ibu Kota, tidak ketinggalan sepanjang perjalanan topi loreng nangkring di kepala. Ditambah kacamata hitam obat ganteng melawan teriknya matahari. Pas waktu sholat dhuhur kami berhenti di sebuh SPBU untuk istirahat sekalian sholat dhuhur. Tukang parkir mengarahkan mobil di area parkir dengan cekatan. Tanpa melepas topi dan kacamata saya langsung menuju mushola. Ternyata di mushola kecil itu tidak tersedia sarung, padahal saat itu saya pakai celana pendek. Akhirnya ingat sarung loreng punya si jagoan kecil yang kemarin beli. Langsung buka bagasi dan slempangin sarung loreng di pundak. Terlihat di kejauhan sang tukang parkir mengamati setiap mobil yang jadi tanggung jawabnya.

Nah, pas saat mau jalan lagi seperti biasa tukang parkir mengarahkan mobil yang mau keluar. Kaca jendela saya buka sambil mengulurkan lembaran di tangan...yang ternyata ditolak oleh sang juru parkir.  Ohh...baiklah, kami lanjutkan perjalanan meski sambil mikir kenapa sang tukang parkir tadi menolak duit parkir. Ahh sudahlah... Mungkin dia lelah.

Sambil injak pedal pelan-pelan masih kepikiran sama kejadian barusan. Atau jangan-jangan tukang parkir tadi mengira saya anggota militer? Trus dia takut, segan, nggak enak minta duit parkir? Bisa jadi...bisa jadi..!! Dan pembuktian langsung saya lakukan. Misi penyamaran dimulai.

Arus lalu lintas dua arah yang padat membuat orang-orang tidak sabar dan saling berebut. Ambil kanan saat terlihat kosong dan akhirnya terjebak di arus lawan arah. Dan akhirnya itulah yang menambah parah kemacetan. Pas posisi macet kebetulan di samping kanan terlihat sebuah mobil sejuta umat yang dikendarai seorang bapak dan istrinya. Kaca jendela terbuka lebar. Mungkin mereka sedang pengen menikmati udara panas siang itu dengan asap kenalpot dari kendaraan di sekitar. Pelan-pelan saya buka jendela dan sengaja nongolin kepala  dengan topi loreng keluar. Si bapak terlihat agak kaget dan tersenyum tertahan.

Saya ajak ngobrol pelan, setengah berisik dalam keramaian, "Pak, kalau sampeyan ambil kanan ya begini jadinya, ngunci nggak gerak kan?"
Si bapak mengangguk pelan dan  terlihat diiyakan oleh sang istri disampingnya. Pelan-pelan kemudian beliau kasih sign kiri dan masuk ke jalur kiri di depan mobil saya, sengaja saya kasih jalan. Dan selama sekian jam saya buntuti, mobil si bapak tidak neko-neko sama sekali, still on the track. Wow....it works...!!

Masih banyak cerita lain ketika saya pakai topi loreng tadi. Dari mulai pemotor yang serampangan, anak-anak kecil berboncengan gaya-gayaan tanpa helm sampai sopir bus ugal-ugalan yang terpaksa nunduk ketika saya buka kaca dan nongolin kepala di sampingnya. Sebenarnya apalah saya, siapa sih lu....? Aku hanyalah butiran debu.
Topi loreng  powerfull

Saya jadi berandai-andai dan semoga semakin banyak orang yang punya kuasa menggunakan power-nya untuk hal yang positif. Atribut loreng tadi adalah simbol power, sebuah kekuatan yang bisa digunakan untuk hal positif maupun sebaliknya. Kita semua punya power-nya masing-masing dan tidak ada salahnya coba misi penyamaran seperti saya. Pakailah topengmu dan gunakan untuk kebaikan atau keburukan... The power is yours...!

Salam,
HUM

0 comments:

Post a Comment