Sunday, November 20, 2016

Anak Titipan

BY 69HUM dot com IN , , No comments

Hari ini kami sekeluarga menikmati liburan week end dengan makan siang di salah satu tempat pemancingan di Karawang Barat, Mang Ajo. Bukan pertama kali kami  ke tempat ini untuk sekedar leyeh-leyeh menikmati angin sepoy-sepoy sambil melihat anak-anak bermain atau mancing ikan. 
Makan siang di Saung Mang Ajo
Bukan tempatnya yang mau saya review alias endorse biar dapet gratis ikan nila bakar lho ya...? 😅, saya cuma teringat entah beberapa tahun yang lalu saat kami ke sini bareng Si Bibi asisten rumah tangga kami dari kampung. Asisten kami itu sudah berumur dan punya tiga orang anak. Anak yang besar perempuan. Dari anak perempuan pertama ini lah Si Bibi akhirnya menemani keluarga kecil kami.

Jadi ceritanya si anak pertama Si Bibi tadi adalah asisten rumah tangga Kakak saya yang di Jakarta. Pas dia pulang kampung, Si Bibi maksa ikut ke Jakarta untuk mbantuin sekaligus buat tambahan uang dapur mereka biar ngebul. Karena Kakak saya sudah cukup yang mbantuin makanya akhirnya si Bibi ikut keluarga kami, jarak juga tidak terlalu jauh jadi masih bisa saling berkunjung nengokin anak perempuannya.

Lalu apa hubungan Si Bibi sama Saung Mang Ajo? 
Memang setiap kali kita jalan bareng anak-anak, Si Bibi sering kami ajak. Nah, pas waktu kami ke Saung Mang Ajo, saat leyeh-leyeh menikmati suasana sehabis menyantap ikan bakar, tiba-tiba Si Bibi terlihat menerawang sambil meneteskan air mata. Istri saya coba bertanya ada apa?
Saya coba terjemahkan kata-kata ke bahasa Indonesia, aslinya Si Bibi bicara bahasa Jawa Kromo Inggil, "Saya ini terharu saking gembiranya, tidak pernah membayangkan bisa merasakan senang seperti ini, makan enak menikmati suasana  ramai. Tapi saya jadi teringat anak yang di rumah, jam segini belum tahu apakah sudah makan atau belum?", jawabnya sambil menyeka air matanya. 

Deg! Mak Jleb rasanya di hati ini. Saya coba membayangkan kalimat yang keluar dari mulut Si Bibi yang lugu itu. Memang karena pas datang ke Jakarta dulu bareng anak perempuannya yang besar, jadi kami sekeluarga tidak langsung melihat rumah atau kondisi keluarga Si Bibi di kampung. Yang kami dapatkan informasi bahwa Si Bibi punya 3 anak, yang nomor dua sudah sekolah SMP trus yang satu masih kecil kira-kira waktu itu usia 2 tahun lebih. Anak kami yang paling kecil baru lahir.

Akhirnya pada saat libur lebaran kami pulang kampung. Sore menjelang malam kami sempatkan langsung ke rumah Si Bibi yang terlihat sudah tidak sabar melihat anaknya. Selepas Isya' sekitar jam 7 malam lewat kami sampai di kampung yang masih sepi. Jalanan masuk gelap gulita. Mobil kami parkir di pinggir jalan raya dan kami jalan kaki menyusuri jalan kampung menuju rumah Si Bibi. Rumah sederhana di ujung kampung di bawah rerimbunan pohon bambu terlihat sepi. Nyala lampu temaram memancar dari sela dinding anyaman bambu rumah itu. 

Dengan tidak sabar Si Bibi langsung masuk rumah, kami ikuti di belakangnya. Langsung menyeruak gorden sebuah ruangan yang ternyata kamar anak kecilnya yang sedang tertidur pulas yang kemudian terbangun dan langsung menangis memeluk Ibundanya. Rasa kangen yang membuncah terlihat dari dua insan ibu anak yang sekian bulan tidak bertemu itu. Rasa haru bahagia bercampur sedih berkecamuk di dada ini ketika menyaksikan sebuah adegan yang bukan sebuah tayangan sinetron yang biasa kita lihat. Nyata dan alami, tanpa pencitraan mewarnai.

Saya jadi ingat pernah baca di timeline seorang teman yang dulunya seorang wanita karier kemudian memilih menjadi seorang ibu rumah tangga penuh untuk anak-anaknya. Sebuah pilihan yang bagus. Saya mencermati beragam komentar pro kontra tentang pilihan seorang wanita berkarier atau menjadi ibu rumah tangga. Saya tidak setuju dengan komentar yang hitam putih alias menjadi ibu rumah tangga full time adalah baik dan menjadi wanita karier adalah buruk atau sebaliknya karena menurut saya semua adalah pilihan. Ada yang mencemooh seorang wanita karier dengan komentar bahwa tega-teganya anak diberikan pada pembantu yang tidak berpendidikan sedangkan ibunya sibuk mengejar materi. Sebuah penghakiman yang sadis. 

Istri saya masuk sebagai kategori wanita karier yang harus membagi waktunya buat pekerjaan dan anak-anak di rumah. Si Bibi bahkan lebih tinggi derajatnya dari hanya seorang wanita karier. Si Bibi rela meninggalkan anaknya yang masih kecil di rumah untuk bekerja mengasuh anak orang lain. Masih tega kah kita menyebut orang seperti Si Bibi tidak punya perasaan meninggalkan anaknya untuk ngurusin anak orang?

Kita tahu apa yang kita lakukan lebih dari yang orang lain ketahui. Menghakimi apa yang dilakukan orang lain dari sudut pandang kita adalah hal yang memalukan diri kita sendiri. Tabayun jadi istilah yang lagi ngehits di era saling mengakimi dan menganggap lebih benar dari yang lain. Semoga kita semua dan keluarga selalu diberikan anugerah dan rahmat dari yang Maha Kuasa.

Hidup adalah pilihan and the choice is yours...!!
Anak-anak kita hanyalah titipan dari Sang Maha Kuasa.

Salam,
HUM 

0 comments:

Post a Comment