Monday, February 6, 2017

KASIH JALAN

BY 69HUM dot com IN , , No comments


Pernah kesal ketika di tengah kemacetan tiba-tiba ada rombongan dengan sirine meraung-raung minta jalan? Bagaimana kalau yang minta lewat adalah mobil ambulance?

Reaksi yang lebih mengesalkan buat saya adalah orang-orang yang memanfaatkan rombongan bersirine tadi, entah mobil mewah yang dikawal polisi atau ambulance, dengan ikut mengekor di belakangnya. Dan saya menebak juga bahwa orang-orang yang mengekor tadi paling tidak 69% adalah orang-orang yang kesal ketika ada rombongan bersirine lewat.

Manusiawi memang ketika kita merasa "hak" kita dirampas, merasa terdzolimi oleh rombongan bersirine tadi karena merasa sama-sama pemakai jalan raya. Menganggap arogan rombongan bersirine tadi. Dalam hal ini kita kesampingkan sirine mobil ambulance. Saya juga pernah merasakan hal yang sama, sampai sebuah pengalaman membuat saya sekarang akan langsung berusaha menepi atau KASIH JALAN ketika mendengar suara mobil bersirine di belakang, entah itu ambulance atau rombongan horang kaya lewat. Karena saya jadi berpikir bahwa rasa kesal tadi sejatinya itu adalah rasa iri melihat orang lain senang, menurut kita, padahal bisa jadi mereka sedang mengalami kesulitan.

Pengalaman itu terjadi sekian tahun yang lalu. Tepat saat hari raya Idul Fitri di kampung halaman. Cerita bermula saat istirahat siang sejenak setelah capek berkeliling silaturahmi ke saudara dan tetangga sekitar. Baru saja mau menikmati makan siang ketika dari luar terdengar kabar ada kecelakaan di jalan raya. Singkat cerita ada seorang bapak yang tertabrak mobil pick up dan menderita luka cukup serius di kepala belakang. Mobil penabrak pecah berantakan kaca depannya. Akhirnya saya ambil inisiatif membawa si korban naik mobil saya segera ke rumah sakit. Sang sopir ikut di samping dan si korban dalam pangkuan istrinya di kabin belakang.

Kondisi darurat ketika melihat keadaan si korban membuat saya segera memacu kendaraan meski tetap waspada di jalan. Mobil tanpa sirene terpaksa mengandalkan bunyi Klakson yang harus  berkali-kali ditekan untuk meminta pengendara lain minggir. Ada yang minggir segera dan ada pula yang tampang cuek bebek. Lampu merah hampir saya terobos kalau tidak terhalang antrian kendaraan. Semakin panik ketika sepanjang perjalanan sang istri menangis memeluk suaminya dengan darah yang penuh berceceran. Petugas tiket parkir rumah sakit yang terlalu lama membuka palang pintu sempat kena saya semprot sambil membuka jendela memperlihatkan kondisi korban di kabin belakang. Syukurlah dia langsung cukup sigap membuka palang pintu dan menunjukkan tempat Instalasi Gawat Darurat.

Secepat kilat mobil merapat dan disambut suster dan dokter jaga yang cukup sigap. Sejenak termenung di samping mobil mereka-reka kejadian yang baru saja kami alami. Sekian menit berlalu ketika dokter memanggil saya masuk ke dalam ruangan dan memberi kabar bahwa mereka sudah berusaha tapi Tuhan berkehendak lain. Innalillahi wa innailaihi roji'uun...jerutan histeris sang istri demi mendengar informasi dari dokter.

Sedih, bingung dan shock campur aduk berkecamuk di dada ini. Tambah spechless ketika melihat tiga orang anaknya yang masih kecil usia SD datang menyusul dan mendapat kabar ayah tercintanya telah tiada 😭.

Jadi, marilah kita segera KASIH JALAN ketika ada mobil bersirine minta jalan lewat di belakang kita, entah itu ambulance atau pun rombongan di kawal polisi. Kita tidak pernah tahu apa urusan orang di mobil bersirine tersebut. Meski takdir ada di tangan Yang Maha Kuasa, mungkin saja ketika kita KASIH JALAN tadi, kita telah membantu selamatkan satu nyawa.

Salam,
HUM

0 comments:

Post a Comment