Tuesday, March 28, 2017

TEMPAT TERNYAMAN

BY 69HUM dot com IN , No comments



Pas jaman kecil saya dulu, kamar Emak adalah tempat ternyaman. Tidur lelap dan damai dalam pelukan Ibunda adalah momen yang susah tergambarkan lewat kata-kata.

Menjelang usia sekolah tempat ternyaman versi saya tergantikan oleh tempat lain yang mungkin tidak terbayang di benak Anda. Tempat pertama adalah sebatang pohon jambu di depan rumah yang tepat menempel di pinggir atap rumah dan sebagian dahannya menjulur ke genteng rumah. Yup, menjadi tempat favorit karena di atas pohon ini saya bisa menghabiskan waktu untuk membaca buku sambil makan buah jambu segar langsung metik di atas pohon. Saking nyamannya di atas pohon ini pernah dengan sukses jatuh dari atas, untung jatuh ke genteng rumah jadi tidak terlalu tinggi dan berhasil menghancurkan 69 buah genteng hancur berantakan😅

Tempat nyaman lainnya saat itu adalah...toilet. Yup betul, Toilet! Di tempat ini saya dulu bisa dengan nyaman berlama-lama di dalamnya. BAB atau mandi berendam? Ternyata bukan. Nyambung dengan tempat nyaman di atas pohon tadi, saat menginjak usia sekolah dasar, mulai mengenal sebuah kesenangan baru. Sebenarnya paralel dengan menikmati membaca buku dengan nangkring di atas pohon tadi, sambil...merokok 😬. Yup..merokok di atas pohon sambil baca buku cerita merupakan sebuah kenyamanan tingkat tinggi, di ketinggian soalnya. Nah, tempat nyaman buat merokok yang sering digunakan oleh para perokok berat pasti tahu, Toilet!

Tiba saatnya pergi merantau tinggal sendiri di tempat kost saat kuliah. Kamar mungil dengan luas kotor 6.9 m² menjadi tempat ternyaman saat itu. Sepotong dipan kecil dengan kasur busa tipis menjadi tempat meletakkan badan setelah lelah disetrum seharian. Rak gantung penuh tumpukan buku hasil hunting di pasar senthir berderet rapi. Kamar mungil yang pengap dan panas tersejukkan dengan kipas angin kecil yang berputar malu-malu. Sebuah televisi hitam putih yang dulu nangkring di ruang keluarga di rumah sejak sebelum saya dilahirkan menambah kenyamanan menikmati berita sore yang sudah ditunggu-tunggu sama Bapak Kost yang baru keluar dari kamar saat Dunia dalam Berita selesai. Sebuah speaker aktif mengeluarkan dentuman bass dan suara gitar melengking dari Hetfield dan Richie Sambora, sesekali alunan merdu Joe Satriani ikut mewarnai. Satu set komputer Pentium dengan casing yang tidak pernah sempat ditutup karena lebih sering dioprek ikut menemani hari melewati malam berganti siang.

Pindah ke sebuah rumah kontrakan mungil saat awal-awal kerja. Masih ingat saat-saat Sabtu Minggu menghabiskan waktu tidur siang di kamar dengan cahaya matahari masuk langsung dari jendela. Bangun sore dengan keringat membasahi sekujur badan karena panasnya udara merupakan sebuah kenikmatan tersendiri.

Masih di rumah kontrakan yang sama, sepotong kasur busa tipis ukuran single kami pakai untuk alas tidur dengan nyaman sampai pagi menjelang. Kok kami? Iya kami. Kasur busa tipis single tadi merupakan alas tidur ternyaman saya dan istri saat melewati masa-masa honeymoon 😍. Kurang lebih 69 hari lamanya kami menikmati masa itu menunggu rumah kami yang telat renovasi.

Selanjutnya persis saat tahun baru, kami resmi menempati rumah mungil hasil nekat penuh perhitungan sebelum memutuskan membelinya sebagai rumah impian kami. Sebuah rumah mungil yang mirip property sebuah sirkus sulap. Kenapa begitu?Karena begitu pintu masuk dibuka langsung muncul pintu keluar, saking kecilnya..😅

Seiring munculnya krucil yang mewarnai rumah nyaman kami, tempat ternyaman kami selalu berganti-ganti. Sedikit merenung arti kata ter- dalam kata ternyaman. Menurut arti tata bahasa, awalan ter- tadi mestinya mempunyai arti "paling". Dan ternyata awalan kata ter- atau paling tadi tidak pernah ada habisnya. Selalu ada tempat TERnyaman yang berganti setiap saat. Dan ternyata TEMPAT TERNYAMAN itu tidak pernah pindah-pindah meski secara de facto selalu berpindah fisiknya, karena ternyata TEMPAT TERNYAMAN itu ada di HATI ini. Ya..ternyata di mana pun kita berada, cukup letakkan HATI pada tempat yang nyaman, cukup itu saja!

Salam,
HUM

0 comments:

Post a Comment