Wednesday, January 23, 2013

Menyusuri Jejak Korban Banjir

BY HUM IN , No comments


Banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya pekan ini membuat lumpuh aktivitas warganya. Sedikit klise memang berbicara mengenai banjir yang melanda Ibu Kota ini yang berulang setiap tahun dan semakin parah pada siklus lima tahunannya. Saya tidak akan membahas masalah banjir dan solusinya karena memang sangat kompleks dan terus terang saya bukan ahli metadata urusan banjir ini :)
13587811971205689293
Gowes menyusuri jejak banjir (Doc : CBC)
Minggu pagi seperti biasa diisi dengan aktivitas bersepeda santai menghirup hawa segar menyusuri perkampungan yang mulai kurang bersahabat dengan udara bersih karena sudah terkepung banyak pabrik di sekelilingnya. Gowes minggu pagi kali ini sedikit lain dari biasanya. Bersama rekan-rekan yang tergabung dalam komunitas sepeda CBC (Cikarang Baru Cycling), agenda pagi kali ini mengambil rute menyusuri tempat korban bencana banjir. Dengan titik kumpul di pertigaan Movieland Cikarang Baru, start jam 6 pagi lebih kita mulai menyusuri rute ke arah saluran irigasi Kalimalang dan menyebrang ke kolong tol Jakarta-Cikampek menuju lokasi banjir di pinggir sungai Ci Beet. Ci Beet adalah anak sungai Ci Tarum yang menjadi batas alami antara Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Karawang. Ci Beet merupakan salah satu sungai yang memasok air ke saluran irigasi Tarum Barat atau biasa disebut Kalimalang. Daerah yang terkena dampak meluapnya sungai Ci Beet ini hanya berjarak sekitar 15 km dari tempat tinggal kita dan rute “kolong tol” ini merupakan salah satu rute jarak dekat favorit goweser. Di kolong tol ini biasa dijadikan tempat istirahat sejenak sambil makan minum di warung-warung yang berada di situ. Tapi pada pagi ini tidak bisa kita jumpai lagi para penjual yang biasa mangkal di situ, hanya tersisa bekas-bekas warung mereka. Hempasan luapan banjir membuat semua hanya tinggal cerita.
13587817861197499799
Bekas batas ketinggian air (Doc : CBC)
Banjir yang melanda daerah ini pada hari Jum’at sebelumnya mencapai ketinggian  lebih dari 2 meter yang membuat warga harus mengungsi ke daerah yang lebih tinggi. Pilihan tempat pengungsian mereka adalah tepat di pinggir jalan tol Jakarta-Cikampek Km 40. Tenda-tenda darurat didirikan warga dibantu aparat di rerumputan sepanjang jalan tol. Kami menyusuri jalanan yang penuh lumpur sisa banjir untuk mencapai lokasi posko pengungsian. Air yang sudah surut membuat warga sudah bisa mulai membersihkan rumah dan perabotan dari sisa-sisa banjir. Kalau biasanya teman-teman CBC sengaja cari jalan off road yang sedikit menantang dari yang masih gowesable sampai dengan yang bikin gowes sebel :D, kali ini tidak perlu nyari rute off road karena di sepanjang jalan di tengah perkampungan penuh dengan lumpur sisa banjir. Agenda ‘blusukan’ ini sudah kita lakukan jauh hari sebelum JokoWi ‘blusukan’ di pelosok ibu kota :)
13587841721818060712
Puing-puing reruntuhan tersapu banjir (Doc : CBC)
Sempat ngobrol dengan beberapa warga yang tengah bersih-bersih rumah tentang kondisi terakhir di pengungsian dan kebutuhan bahan bantuan. Kondisinya memang cukup memprihatinkan. Meski terlihat sembako dan bahan makanan lain di tenda pengungsian, tapi mereka lebih membutuhkan makanan siap saji karena cukup kesulitan untuk tempat masak dan mempersiapkan makanan. Belum lagi kondisi pakaian yang basah dan kotor, hujan yang melanda sepanjang hari membuat persediaan pakaian bersih semakin dibutuhkan. Kondisi cuaca yang dingin juga stamina yang terkuras membuat rentan terhadap sakit, terutama balita dan orang lanjut usia.
Di posko pinggir jalan tol Jakarta-Cikampek Km 40 ini ada sekitar 85 kepala keluarga atau sekitar 250 orang yang membutuhkan bantuan. Bantuan tenda dari aparat kepolisian dan air bersih dari PDAM cukup membantu aktivitas para pengungsi ini. Kita sempat ngobrol dengan pak Daman, ketua RT yang sekaligus koordinator di pengungsian tersebut. Dengan berbekal informasi dari pak RT dan melihat langsung kondisi di lokasi, sekitar jam 9 pagi kita kemudian memutuskan untuk balik ke base camp sambil koordinasi dengan rekan-rekan yang tidak ikut gowes pagi itu untuk penggalangan dana dan bantuan bagi korban banjir tadi. Kontak via telepon dan group di jejaring sosial mempercepat koordinasi.
13587844571891294975
Tenda pengungsi
Sekitar 250 nasi bungkus, minuman, obat-obatan dan pakaian pantas pakai sudah siap sekitar jam 11 siang, koordinasi yang cepat dan sigap dari teman-teman CBC. Melihat kondisi lapangan kita rencanakan mengirimkan bantuan dengan mobil via jalan tol. Sengaja duo krucil saya ajak serta bareng mamanya untuk ikutan bareng teman-teman CBC menuju lokasi posko banjir. Ikut bersimpati dan berempati terhadap orang yang sedang mengalami kesusahan bisa mulai kita sampaikan sejak dini pada anak-anak. Sepanjang jalan si Kakak serius mendengarkan cerita saya tentang lokasi pengungsian, bagaimana kondisi anak-anak seusianya yang tetap ceria bermain meski sedang dalam kondis yang kurang bagus. Si Adik yang belum mau sekolah cuma ikut manggut-manggut melihat ekspresi serius si Kakak.
13587837041315145607
Supply bantuan (Doc : CBC)
Jam 12 siang lewat dua mobil yang membawa bantuan tiba di lokasi disambut oleh pak Daman dan warga yang segera ikut membongkar bahan bantuan. Gowes kali ini meski harus balik kucing (rute pulang = berangkat) cukup membawa kesan dan bermakna bagi saya. Bantuan kecil yang kita lakukan hari ini ternyata sangat membantu para pengungsi korban banjir. Semoga semua bisa segera pulih normal seperti sedia kala dan warga bisa kembali beraktivitas lagi. Tidak usah menunggu pemerintah untuk mengatasi bencana ini, cukup dimulai dari masing-masing kita untuk lebih peduli dengan sesama dan lingkungan. Bumi dan lingkungan ini adalah anugrah dari sang Maha Kuasa untuk kita dan anak cucu kita. Tidak perlu menghemat atau membatasi diri untuk memanfaatkan energi yang ada di dalamnya, tapi saatnya kita untuk berpikir mengubah menjadi energi yang terbarukan. Ingat..energi tidak dapat diciptakan atau pun dimusnahkan, energi hanya bisa dirubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Tidak perlu membakar bensin untuk bepergian dengan kendaraan bermotor, cukup bakar lemak dengan gowes bersama kita dan membantu sesama…setuju..?! :)

Salam Gowes,

It's All About Bicycle

Thursday, October 11, 2012

Korban Prostitusi Sejatinya adalah Kaum Lelaki

BY HUM IN , , No comments

PSK adalah profesi (pic: mediaindonesia.com)
Tidak bisa dipungkiri memang bahwa prostitusi menjadi sebuah fenomena yang tidak pernah hilang dari muka bumi ini. PSK atau Pekerja Seks Komersial merupakan sebuah profesi yang cukup tua dan hadir sejak jaman nenek moyang kita. Bisnis prostitusi ini seringkali dikaitkan dengan fenomena sosial yang terjadi di negeri ini yang seringkali mengangkat masalah ekonomi sebagai alasan sang PSK menjalani profesinya dan dibumbui dengan drama sebagai korban dari bisnis esek-esek ini. Benarkah demikian? Apakah yang terjadi bukan malah sebaliknya? Coba kita simak data dan fakta yang ada di lapangan.

Bisnis prostitusi saat ini memang melibatkan secara eksplisit kaum wanita sebagai yang menjalani profesi itu, belum kita jumpai adanya lokalisasi yang berisikan kaum lelaki. Dari fakta lapangan ini memposisikan kaum wanita sebagai objek dari bisnis ini sehingga digeneralisir menjadi "korban" dari bisnis syur ini. Padahal kalau kita lihat dari sudut pandang bisnis, justru pihak penjual (dalam hal ini wanita PSK) merupakan pihak yang menangguk keuntungan dari bisnis ini. Fungsi seks sebagai rekreasi merupakan sasaran bisnis ini. Hubungan yang dilakukan oleh pria dan wanita untuk rekreasi ini tentunya dirasakan berdua baik oleh pembeli maupun penjual (wanita PSK), tapi yang harus merogoh kocek adalah si lelaki. Sungguh merupakan dobel bonus dan keuntungan buat sang PSK, dapat kesenangan dan juga imbalan materi atas jasa yang dilakukan. Sungguh tidak fair jika faktanya dua-duanya mendapatkan kesenangan yang sama tapi hanya satu pihak yang harus membayarnya. Siapa yang jadi korban dalam bisnis ini? Jawabnya adalah Kaum Lelaki.

Dalam hal ini, alasan ekonomi sebagai pendorong munculnya para PSK bisa dibilang tepat. Bukan karena ekonomi yang kurang mampu sebagai pendorongnya, tapi hukum ekonomi lah yang mendorongnya, bahwa dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan untung yang sebesar-besarnya. Jadi faktor tuntutan ekonomi sebagai alasan di balik layar bisa dikatakan tidak relevan dalam hal ini. Masih ada fakta lain yang menunjukkan bahwa kaum lelaki yang seharusnya lebih pantas disebut sebagai korban.

Dari sudut pandang kesehatan, wanita PSK merupakan pembawa (carrier) berbagai penyakit kelamin seperti HIV AIDS dan sebangsanya. Dengan profesi yang dilakukan artinya secara langsung bersentuhan dengan sekian banyak pelanggan dan hal ini tentunya merupakan pemicu berbagai penyakit tadi. Siapa yang potensial menjadi korbannya? Tentu saja Kaum Lelaki sebagai pelanggannya.

Fakta berikutnya juga menunjukkan Kaum Lelaki sebagai korbannya. Bisnis prostitusi ini sampai saat ini merupakan bisnis ilegal di tanah air ini. Artinya tentu saja dilakukan secara sembunyi-sembunyi walaupun sebenarnya mudah sekali kita jumpai tanpa perlu buka mata buka telinga lebar-lebar. Dengan masih tingginya norma budaya timur bangsa ini, kaum lelaki sebagai pelanggan tentunya tidak akan secara terbuka dalam bertransaksi. Resiko terjaring razia dari aparat menjadi ancaman tersendiri bagi kaum lelaki. Siapa kira-kira yang lebih dirugikan jika terjadi razia dan tertangkap basah. Kaum lelaki sebagai pelanggan merupakan pihak yang jadi korban, nama baik akan tercemar, efek yang besar terhadap kredibilitasnya di lingkungannya. Sedangkan sang PSK, mengingat profesinya dipandang sebagai profesi yang tidak baik jadi nothing to lose kan?

Himbauan buat para wanita PSK, tidak perlu mendramatisir sebagai korban dari profesi ini. Alasan ekonomi tidak cukup kuat sebagai alasan utama yang digeneralisir. Masih banyak wanita, ibu-ibu, janda-janda miskin yang tetap berpegang pada prinsip kehormatan meski harus banting-tulang peras keringat untuk menopang ekonomi keluarga, bukan basah berkeringat dengan nafas tersengal penuh nafsu membara. *agen kompor gas

Buat kaum lelaki, ingat..Anda lah korban dari bisnis ini. Sudah saatnya berteriak untuk menyuarakan diri sebagai korban. Resiko tercemar nama baik, terjangkit penyakit mematikan dan harus mengeluarkan rupiah untuk memberikan kesenangan yang sama buat wanita PSK. Jauhkan diri dari dunia kenikmatan sesaat ini karena kerugian yang akan didapat.

Mungkin pemerintah perlu memberikan subsidi sebagai kompensasi dari seorang korban. Sebagai win-win solution yang cukup realistis sebenarnya apabila bisnis ini tannpa harus mengeluarkan uang sepeser pun alias GRATIS :D


Salam,
HUM

Tuesday, August 14, 2012

Berani Poligami, Cermin Lelaki Sejati

BY HUM IN , , No comments

Poligami, laki-laki sejati (pic: zamrudhijau.blogspot.com)
Sebagai laki-laki saya menyatakan dukungan untuk Poligami. Tapi untuk mewujudkannya saya harus berpikir 1000 kali. Poligami merupakan hal yang mudah dibicarakan untuk menyulut kontroversi, tapi bukan merupakan perkara yang mudah untuk dipahami dan dijalani. Hanya lelaki sejati yang bisa dan berani menjalani Poligami.

Poligami sama sekali tidak sama atau disamakan dengan selingkuh. Selingkuh atau zina mudah sekali dilakukan, kapan saja di mana saja dengan siapa saja. Begitu membuka layar dan berselancar di dunia maya, potensi zina ada di sana. Bermodalkan gadget baru untuk chatting, potensi selingkuh bisa datang kapan saja. Jalan keluar rumah, prostitusi terbuka maupun terselubung sudah di depan hidung. Sedangkan Poligami, butuh berbagai macam pemikiran dan pertimbangan jeli untuk melakoninya.

Kenapa pelaku Poligami saya katakan lelaki sejati? Pertama, secara fisik diperlukan tubuh yang sehat dan penuh vitalitas untuk mampu ber-Poligami. Point ini sengaja saya angkat pertama mengingat pandangan orang terhadap poligami terkonotasi ke arah kebutuhan biologis. Dan memang tidak bisa dipungkiri bahwa seorang lelaki yang berani memproklamirkan untuk Poligami tentunya punya modal ini. Dan tentunya tidak banyak lelaki yang bisa mewujudkannya, terbukti dengan maraknya iklan dari anak cucunya mak Erot maupun berbagai macam obat kuat lelaki angkat istri. *:senyum

Kedua, seorang lelaki yang berani Poligami tentunya sudah siap secara lahiriah untuk menjalaninya. Setelah siap dengan memenuhi kebutuhan batiniah para istri, tentunya siap memenuhi kebutuhan materi. Hidup dengan istri lebih artinya punya cadangan lebih tanpa mengorbankan kondisi yang ada saat ini. Tentunya siap juga untuk menjamin kehidupan termasuk keturunan yang dihasilkan dari hasil Poligami tadi.

Ketiga dari sisi spiritual, ketika memutuskan untuk Poligami, tentunya sudah dengan pertimbangan yang matang dan mempelajari semua ketentuan tentang Poligami dengan berbagai macam aturan dan persyaratan serta konsekuensinya. Paham betul tujuan dan manfaat yang didapat ketika memutuskan untuk menjalani Poligami ini.

Yang keempat, seorang suami yang berani meminta restu sang istri untuk poligami tentunya sudah siap secara mental. Secara realita, setiap wanita tentunya tidak ingin untuk dimadu, dan ini merupakan tantangan besar buat suami secara mental untuk bisa minta restu sang istri dan meyakinkan bahwa Poligami tadi bertujuan yang lebih bermanfaat. Jadi bila ada laki-laki yang selingkuh atau nambah istri dengan mengatasnamakan Poligami, itu adalah pengecut sejati. *:nyengir So...say YES or No to Poligami..?!

Salam,
HUM

Sunday, June 10, 2012

Astra Green Lifestyle : Ayo Kita “Selingkuh”..!

BY HUM IN No comments


1339259734551549981
Bumi dalam sarang (pic: beritalingkungan.net)
Ayo Kita “Selingkuh”..!
Sebuah tulisan tertera dalam Green Sign Commitment pada acara Astra Green Lifestyle hari minggu pagi ini. Lho kok Astra mengajak kita untuk selingkuh?

Sebelum dapat komplen keras terus dipecat sama Boss-nya Astra, saya luruskan dulu deh judul di atas. Yup..dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup seduni dan HUT Astra ke-55, akhir pekan ini (9 - 10 Juni 2012 ) di Kawasan Plaza Timur Monas diselenggarakan event Astra Green Lifestyle. Astra Green Lifestyle mengajak masyarakat untuk belajar lebih mengenal lingkungan dan berbagai tips seputar pengelolaannya, melakukan dan mengaplikasikan pengetahuan tersebut pada kehidupan sehari-hari. Diharapkan, kegiatan tersebut dapat memberi contoh dan mengajarkan kepada lingkungan sekitar untuk senantiasa menjaga kelestarian lingkungan. Lha terus apa hubungannya dengan selingkuh? Ayo Kita “Selingkuh”..!!SELamatkan LINGKUngan Hidup..!! cocok kan? jadi jangan berpikiran negatif dulu yah..*:senyum.
1339336000122715647
Green Sign Commitment : Ayo SELINGKUH..! (Doc: HUM)
Nah, dalam rangka ikut memeriahkan event ini, saya ‘n friends ikutan dalam salah satu agendanya, yaitu funbike, dengan rute Monas - Senayan - Monas melalui jalan Sudirman yang setiap hari kerja pamer paha dan penis (padat merayap tanpa harapan dan pengen nangis - red). Hari minggu pagi sepanjang jalan ini ditutup untuk kendaraan bermotor (Car Free Day) jadi para goweser dan pejalan kaki bisa santai menikmati jalanan luas tanpa terganggu kemacetan dan asap polusi kendaraan.
13393363182028295221
Santai menikmati jalanan ibukota (Doc: HUM)
Karena event funbike kali ini lumayan jauh dari tempat tinggal kita yang di kampung pinggiran ibukota, maka event kali ini merupakan gowes “di” bukan “ke” Monas. Kereta angin tunggangan pagi-pagi sudah naik ke truk diangkut duluan ke lokasi. Para penunggangnya masih menyempatkan diri sarapan sambil nunggu team komplit. Karena jalan tidak barang ini lah yang membuat sedikit  ribet pas sampai lokasi. Kondisi cukup crowded dengan banyaknya orang dengan berbagai agenda di lokasi acara. Muter-muter mencari tempat parkiran yang sudah padat dan ternyata harus muter lagi karena tempat unloading sepeda ada di parkir sisi lain.
13393365751753569536
Narsis sejenak (Doc: HUM)
Akhirnya dengan penuh perjuangan, rombongan dapat juga lokasi parkir di dekatunloading sepeda. Langsung injak pedal ke lokasi start…dan..tada… area start dah kosong melompong.. waduhh…sudah ketinggalan kereta ni..*:nyengir. Tapi ternyata kita tidak sendirian, karena ada beberapa goweser yang masih mengerumuni meja registrasi panitia, ambil snack dan masukin kupon doorprize, siapa tahu beruntung dapet Nissan Juke *ngayal.com.
1339336769331377500
Meja registrasi (Doc: HUM)
Tidak menunggu lama, langsung injak pedal mengejar rombongan yang sudah di depan. Untungnya karena ini memang event funbike, jadi peserta gowes dengan santai sehingga kita bisa langsung mengejar peserta di depan. Tua muda, laki perempuan,  anak-anak sampai orang tua ikut serta dalam event santai ini. Beragam juga sepeda yang menjadi tunggangan para peserta, mulai dari mountain bike yang paling banyak dijumpai sampai sepeda on road dan sepeda lipat. Banyak juga fixieyang berseliweran dengan warna warni mencolok khas anak muda. Tidak ketinggalan juga peserta “unik” dengan dandanan sepeda “aneh” mereka turut meramaikan suasana pagi yang cerah berawan tersebut. Suasana pagi tadi memang lumayan mendukung, matahari cukup bersahabat dan udara cukup nyaman terhirup masuk ke paru-paru, seakan bukan sedang melewati jalanan utama ibukota yang biasanya padat dan sarat dengan polusi.
13393375711413712039
Unik & Menarik (Doc: HUM)
Dengan rute yang relatif pendek dan full on road, jam 9 kurang sudah kembali lagi ke titik start. Bersantai sejenak sambil menikmati snack dan minuman ringan sambil melihat berbagai booth pameran dari beberapa perusahaan Astra. Selain funbike, event kali ini mengusung berbagai macam agenda yang berkaitan dengan lingkungan hidup yaitu Green Action berupa pembuatan 550 biopori. Selain itu, ada juga acara yang disebut Green Alarm yaitu kegiatan pengumpulan dan pemilahan sampah di sekitar Monas setelah itu akan dikumpulkan ke Bank Sampah untuk penimbangan dan akan dihancurkan menggunakan mesin pencacah sampah. Di Green Alarm ini para pengunjung yang berhasil mengumpulkan sampah terbanyak akan mendapatkan berbagai hadiah menarik.

Uji Emisi Gratis juga ada di sini yang merupakan wujud kepedulian Astra untuk mendukung program pemerintah dalam mengukur emisi gas buang kendaraan bermotor. Ada juga Green Talk, disini para pengunjung akan mendapatkan pengetahuan tentang mengenal alam dan bersahabat dengan lingkungan serta hidup sehat dari berbagai narasumber, diantaranya Dik Doank yang mengusung konsep sekolah alam Kandang Jurank, Melly Manuhutu tentang pola hidup sehat dengan makanan organik dan Amilia Agustin yang dikenal sebagai Ratu Sampah akan berbagi tentang pengelolaan sampah menjadi kompos.

Masih ada lagi Green Exhibition dan Education, para pengunjung dapat melihat pameran CSR lingkungan dari Grup Astra dan beberapa komunitas lingkungan yang juga akan menampilkan aksi kepedulian terhadap lingkungan dan mengenalkan gaya hidup ramah lingkungan.

Event-event peduli lingkungan semacam ini memang perlu untuk terus digalakkan dan tentunya perlu untuk dilanjutkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena kalau hanya dengan event seperti ini saja, pembuatan 550 biopori maupun pembersihan sampah seppanjang Thamrin - sudirman tidak ada gunanya jika warga jakarta masih tetap membuang sampah seenaknya atau jika dibandingkan dengan jumlah pohon yang ditebang setiap harinya melalui pembalakan liar oleh oknum-oknum yang tidak bertang gungjawab.
13393378981429989773
Hijaukan sepeda kita yukk..! (Doc: HUM)
So, kapan lagi kita berbenah untuk negeri ini, awali sekarang dan mulai dari diri kita. Kemudian carilah orang lain untuk kita ajak selingkuh..upppss…SELamatkanLINGKUngan Hidup ya..!!? :)

Salam Gowes,

It's All About Bicycle

Sunday, May 13, 2012

Jalanku Bukan Untukmu, Berbagi Bukan Saling Serobot

BY HUM IN , No comments




13369133981161377131
Pedagang kaki lima di jalur sepeda (Doc: HUM)

Gowes minggu ini "terpaksa" diwarnai dengan aksi "pembubaran" pedagang kaki lima di pinggir jalan. Setelah blusukan masuk perkampungan sekitar, rute pendek kali ini dilanjutkan menyusuri bike road di kompleks perumahan menuju pulang kembali ke titik nol. Seperti terlihat di atas, gambar diambil pada rute bike zonedi area depan sebuah kampus di titik 2 km sebelum masuk rumah. Sempat ambil gambar kemudian berhenti sejenak ngobrol melakukan mediasi dengan para pedagang dengan hasil  mereka bergeser posisi sekian derajat dari titik awal tidak mengambil jalur sepeda.

Di perumahan tempat kami tinggal memang sudah disediakan jalur khusus untuk goweser di pinggir jalan utama. Hal ini tentunya merupakan bentuk apresiasi pengembang terhadap para goweser yang mulai cukup banyak terlihat eksistensinya. Mulai dari sekedar olahraga bareng keluarga maupun aktivitas bike to work di pagi maupun petang ketika pulang kerja. Pembuatan jalur khusus sepeda ini sangat bermanfaat tentunya bagi para pengguna kereta angin tersebut. Tapi yang sedikit disayangkan adalah di beberapa titik, hak pengguna sepeda telah "diserobot" dengan aktivitas yang lain, salah satunya seperti gambar di atas. 

Satu titik lain tepatnya di depan sebuah supermarket "raksasa", goweser juga harus menjumpai bike roadyang diambil sebagai tempat mangkal ojeg menanti penumpang sehabis belanja. Yang sering dijumpai juga adalah pengguna kendaraan bermotor yang "mengambil hak" goweser dengan melewati jalur sepeda tersebut, bahkan seringkali yang terjadi adalah dengan melawan arus. Beberapa kali sengaja saya adu banteng tunggangan dengan biker yang melawan arus dan meyerobot jalur sepeda. Sengaja pitstop dengan posisi melintang dan mengingatkan pengguna kendaraan bermotor tadi untuk menggunakan jalur yang semestinya. Hasilnya adalah senyum kecut dari bikers yang saya "hadang" tadi. Jadi sebenarnya mereka sadar bahwa tindakan yang dilakukan tadi tidak benar. 
13369134892079284904
Pangkalan ojeg di jalur sepeda (Doc: HUM)

Budaya saling serobot ini sudah biasa dan jamak di negeri ini. Mungkin budaya kekeluargaan dan saling berbagi di negeri yang terkenal ramah tamah penduduknya ini sedikit terpeleset disalahartikan menjadi saling mengambil hak orang lain. Lihat saja banyaknya pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang trotoar yang sebenarnya merupakan hak bagi para pejalan kaki. Parkir liar dengan mengambil sebagian badan jalan juga dengan mudah bisa kita temui di jalanan ibukota. Peran pemerintah dengan regulasi dalam berlalu lintas memang menjadi salah satu kunci untuk pengaturan pembagian "hak" ini. Di sisi lain, tugas kita sebagai warga negara yang mempunyai hak terhadap penggunaan jalan-jalan tadi sesuai fungsinya juga mempunyai peranan untuk pelaksanaan regulasi tadi. Dengan menggunakan jalur jalan sebagaimana fungsinya dan juga saling mengingatkan sesama pengguna yang lain untuk menghormati hak pengguna yang semestinya.

Kesadaran akan hak orang lain kadang sedikit terlupakan dengan dalih "sudah biasa" atau "terpaksa" dan kadang kala kita harus siap untuk memberikan theraphy dalam rangka menyadarkan orang lain. Aksi lawan arus atau menyerobot jalur sepeda tadi kebanyakan dilakukan oleh tukang ojeg, yang boleh dibilang mungkin lebih susah untuk disadarkan dibanding pengguna yang punya tingkat intelektual di atas mereka. Beberapa tukang ojeg yang pernah saya "hadang" tetap melanjutkan kendaraannya melawan arah meski senyum kecut dan tidak jarang malah mengumpat kesal. Sedikit lain dengan pengguna non ojeg yang tersenyum kecut dan "terpaksa" balik arah sesuai anjuran goweser yang menghadangnya *:senyum.

Memang dibutuhkan pendekatan yang berbeda untuk beragam tipikal pengguna jalan dan tingkat pemahaman serta kesadarannya. Kadang ironis juga ketika mendengar atau membaca berita pejabat dengan mobil dinasnya menyebot ke jalur busway. Semestinya dengan tingkat intelektualitas mereka, kesadaran akan hak pemakai jalan yang sebenarnya sudah tidak perlu diragukan lagi. Artinya memang beliau dengan sadar dan sengaja melakukannya, entah dengan pertimbangan apa.

Jika setiap pengguna jalan sadar akan haknya dan hak orang lain, tentunya akan tercipta sebuah budaya yang tertib dan teratur di negeri ini. Fungsi  kontrol dengan punishment yang dilakukan aparat kepolisian lalu lintas mejadi faktor yang penting untuk membangun budaya ini. Kita sebagai salah satu pengguna jalan juga memegang peran yang tidak kalah pentingnya. Taat terhadap aturan yang diberlakukan dan saling mengingatkan merupakan kunci terciptanya iklim saling menghormati hak pengguna yang lain. Saya melakukan hal kecil dengan cara seperti di atas, bagaimana dengan Anda?

Salam Gowes,
It's All About Bicycle




Saturday, May 12, 2012

Bersepeda Meningkatkan Gairah Seks Anda (?)

BY HUM IN , , , No comments



Sebagai penikmat bersepeda, saya menikmati kegiatan bersepeda ini sebagai sarana silaturahmi sekaligus media mencari keringat dan tentunya jalan-jalan ke tempat-tempat yang tidak jarang bisa terjangkau dengan kendaraan bermotor, seperti gang sempit maupun jalanan antah berantah *:senyum.

Kenapa bisa jadi media untuk ajang silaturahmi? Yup..dalam aktivitas bersepeda kita bisa lakukan secara individu maupun berkelompok dengan sesama goweser. Nah, judul di atas ini seringkali menjadi topik hangat di komunitas penggila sepeda di lingkungan saya yang menyebut dirinya CBC. Yup..saya sebut penggila karena sudah melewati fase penikmat seperti saya *:senyum. Bersepeda berangkat habis subuh pulang selepas maghrib ke tempat antah berantah tanpa sinyal kehidupan dengan perut keroncongan yang terpaksa diganjal dengan dedaunan sepanjang jalan merupakan salah satu dari sekian banyak kisah perjalanannya. Atau gowes malam hari (NR) sampai jam 1 malam hanya sekedar menikmati nasi uduk semur jengkol yang fenomenal di salah satu sudut kampung bisa jadi agenda mendadak yang disambut antusiasmember-nya.
13368383121229592727
NR Pit Stop dulu, menikmati semur jengkol (Doc: HUM)
Salah satu yang menjadi jargon yang selalu digaungkan oleh team member di milist maupun group jejaring sosial adalah khasiat dari bersepeda tadi. Salah satu testimoni yang cukup meyakinkan (meski bisa jadi hoax:D) kerap kali dilontarkan bahwa semenjak senang bersepeda tambah disayang istrinya *:senyum, bahkan telah terjadi peningkatan performa di atas ranjang sebesar 700% (7 kali ngangkat ranjang kalee..*:nyengir). Nah, bicara mengenai hubungan bersepeda dengan gairah hubungan suami istri ini coba saya bahas dari dua pendekatan.

Kesehatan dan Kebugaran Tubuh
Dari sisi kesehatan, bersepeda merupakan salah satu olahraga yang membutuhkan energi yang cukup banyak untuk dikeluarkan. Kekuatan otot terutama kaki menjadi salah satu area yang teruji endurannce-nya ketika sedang bersepeda, selain juga diperlukan pengaturan napas biar tidak jadi Senin Kamis, kembang kempis kehabisan oksigen *:senyum. Dengan bersepeda yang teratur dan tidak berlebihan maka akan terjaga kebugaran tubuh kita dan tentunya stamina akan selalu prima.

Bagi saya yang masih belum bisa pindah kuadran berkecimpung dengan pekerjaan yang menanti ketika mentari mulai tersenyum malu keluar dari peraduannya sampai dengan bulan muncul  memperlihatkan pipinya yang merah merona, susah sekali untuk bisa meluangkan waktu berolahraga. Nah, untuk menjawab kebutuhan akan stamina yang prima meski diforsir dengan rutinitas pekerjaan, bersepeda merupakan salah satu pilihan yang cukup reasonable. Bersepeda setiap week end maupun bike to work (B2W) merupakan rutinitas yang fun dan mengasyikkan, sekaligus menjadi media mandi keringat untuk menjaga stamina dan meningkatkan performa di atas ranjang *:senyum.

Kalau dilihat dari kacamata ini, bersepeda maupun olahraga yang lain memang menjadi faktor yang mendukung peningkatan performa ranjang suami istri, tentunya dalam konteks yang tidak dilakukan secara berlebihan, hasil olahraga ini akan membuat tubuh segar dan tidak mudah loyo. Jadi kalau Anda ingin performa meningkat 700% dan bukan hoax, silahkan coba bersepeda atau olahraga yang lain untuk melatih fisik dan menjaga stamina tetap prima.

Faktor Psikologis
Sebagai penikmat bersepeda apalagi yang sudah masuk level penggila atau maniak, spirit bersepeda ini akan memberikan dampak positif terhadap apapun yang menjadi obsesinya. Dengan keyakinan penuh bahwa olahraga ini mampu meningkatkan performa 700% tadi, secara tidak langung akan memberikan sugesti ke alam bawah sadar kita, sehingga alam bawah perut akan sadar diri mengikuti keinginan si empunya*:nyengir.

Faktor psikologis ini merupakan salah satu penentu terhadap aktivitas fisik yang dikendalikan oleh otak kita. Dalam dunia medis kita mengenal adanya eksperimen yang melibatkan beberapa orang sebagai kelinci percobaan. Eksperimen dilakukan dengan memberikan kapsul obat kuat ke sebagian orang dan kapsul kosong (placebo) kepada sebagian yang lain tanpa mereka tahu isinya. Hasilnya ternyata pemakai placebotadi mengatakan mengalami peningkatan performa ranjangnya, padahal sebenarnya kapsul yang dia makan tidak mengandung obat kuat tadi. Jadi secara psikologis, mereka tersugesti merasa sudah dibekali "senjata ampuh" sehingga meningkatkan percaya dirinya.

Untuk urusan ranjang memang ada berbagai macam media yang sering kita dengar untuk meningkatkan performa dan tahan lama, mulai dari pengobatan tradisional seperti pijat urut Mak Erot yang sangat fenomenal sampai berbagai obat mulai dari pil biru sampai pil unyu-unyu *:nyengir. Ada seorang teman yang pernah coba konsumsi salah satu obat-obatan penambah stamina tadi. Efeknya memang luar biasa, sang tugu monas tetap tegak berdiri tidak menunduk sekalipun lewat atasan yang sangat dihormati*:senyum. Cuma ternyata ada efek lainnya adalah "kelamaan" sehingga jadi frustasi apalagi melihat pasangan sampai sudah tertidur pulas kecapekan *:nyengir.

Jadi sebenarnya, untuk Anda yang normal, dalam artian tidak menderita suatu penyakit yang berdampak pada penurunan fungsi seksual, cukup dengan berolahraga teratur akan memberikan dampak positif terhadap aktivitas "olahraga malam" Anda dan salah satu bentuk olahraga yang menjadi pilihan saya adalah bersepeda...

So, gowes yukkk...dan rasakan manfaatnya. Tapi jangan lupa siap-siap beli earplug buat tetangga Anda, jangan sampai bunyi ranjang yang setara gempa 6.9 skala richter membuat orang sekampung terbangun*:nyengir lagi.

Salam Gowes,

It's All About Bicycle



Monday, May 7, 2012

Tidak Bisa Bertanya, Sesat di Taiwan

BY HUM IN No comments

13364024971209655953

Ungkapan malu bertanya sesat di jalan sepertinya sudah mulai ditinggalkan di jaman modern ini. Papan penujuk jalan sudah banyak kita temui di mana-mana. Sedikit lebih masuk ke teknologi dengan mudah kita bisa menggunakan GPS yang sudah banyak build in di gadget yang kita punya sebagai petunjuk jalan, atau tinggal tanya saja ke mBah Gugel..gitu aja kok repot *:senyum.

Tersesat di sebuah padang pasir atau hutan rimba di pedalaman yang tidak ada sedikit pun petunjuk arah maupun sinyal radio mungkin hal yang seru untuk diceritakan dengan ending kisah yang heroik, tapi tersesat di dalam keramaian sebuah kota modern mungkin lebih tepat sebagai kisah konyol dengan ending tertawaan teman yang tidak ikut menyaksikan kegalauan sang korban ketika tersesat dan tidak tahu arah.

Jadi kisahnya ketika jalan-jalan gratis ke Taiwan dalam rangka kunjungan kenegaraan..(halah..*:nyengir) beberapa waktu yang lalu. Sekitar jam 8 malam waktu setempat, check in di sebuah hotel di kota Jong Li (bener nggak nulisnya?). Kebetulan hotel tempat menginap berada di area pertokoan yang lumayan ramai. Mengurungkan niat untuk mandi, langsung jalan cari menu makan malam. Jalanan lumayan ramai dengan banyak orang lalu lalang dan lampu pertokoan warna warni yang menyilaukan. Jam 9 malam lewat sedikit kembali ke hotel untuk mandi dan istirahat siap besok musti bangun pagi. Partner kerja ternyata menyimpan keinginan lain, dasar orang udik, ternyata melihat keramaian dan gemerlapnya lampu malam yang diiringi cewek-cewek dengan pakaian belum jadi (baca: mini) yang berseliweran tanpa takut masuk angin, memicu rasa ingin tahu lebih untuk menikmati lebih lagi suasana malam itu.

Jam 12 malam lewat partner kerja baru balik lagi ke hotel, bukan dengan wajah ceria setelah menikmati suasana malam tapi terlihat pucat pasi meski terlihat sedikit senyum lega terpancar dari wajahnya yang kusut. Terpaksa tidak bisa menahan tawa di atas penderitaan teman ketika dia bercerita bahwa tersesat lebih dari dua jam keliling kota jalan kaki...hahhaha...uppss..

Jadi ceritanya si teman ini cukup pede untuk jalan-jalan sendirian melihat-lihat pemandangan yang ada, meski baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu dengan pertimbangan meski sudah malam tapi suasana masih cukup ramai. Dia berkeliling menyusuri pertokoan dengan berbagai macam jualan. Cukup jauh berkeliling menyusuri trotoar dengan hawa dingin sedikit menusuk meski sudah mengenakan jaket tebal, suhu luar saat itu di kisaran 15 derajat celcius, lumayan dingin dibanding suhu dingin di tanah air.

Setelah jalan-jalan dirasa cukup dan jarum jam sudah menunjukkan jam 10 malam lewat, dia memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat. Dan saat itu lah bencana dimulai. Pusat perbelanjaan dan pertokoan dengan lampu warna-warni di sepanjang jalan perlahan-lahan mulai tutup satu persatu. Mulailah rasa panik melanda, mengingat beberapa titik yang diingat adalah pertokoan tadi. Setelah toko pada tutup, tidak terlihat lagi jenis jualan yang dijajakan, yang terlihat hanyalah deretan pertokoan dengan tulisan kanji yang sama sekali tidak dimengerti di bawah temaramnya lampu kota di pinggir jalan. Memang jarang sekali huruf latin yang terlihat di sepanjang jalan dan pertokoan. Gelap sudah titik-titik sebagai penanda jalan pulang.

Cukup lama berputar-putar di sepanjang jalan dengan begitu banyak persimpangan dan deretan pertokoan yang hampir sama. Perasaan cuma bolak-balik saja di titik yang sama. Coba bertanya pada orang, ternyata susah sekali menemukan orang yang bisa bahasa Inggris, sedangkan bahasa Taiwan sama sekali nol besar. Bertanya ke Pinang Lady yang masih tersisa, malah jadi nggak konsen, tambah lupa jalan pulang *:nyengir. Mau coba telpon hotel ternyata tidak punya sedikitpun informasi hotel yang tercatat di hand phone maupun isi kepala. Coba menghubungi hand phone teman seperjalan, tidak aktif (maklum roaming, jadi hand phone off, ya maap *:nyengir).

Lumayan pustus asa sampai akhirnya duduk terdiam sendirian merenungi nasib tersesat di negeri orang. Bahkan katanya sempat terpikir bakalan merasakan jadi gelandangan di negeri orang dengan tidur di emperan, sungguh mengenaskan sekaligus susah untuk menahan tawa mendengar cerita penderitaan kawan satu ini. Klop sudah, membaca tulisan honocoroko-nya orang sono nggak ngerti, ngomong bahasa bule pada nggak ada yang bisa, bahkan sudah tidak malu-malu lagi untuk bertanya dengan bahasa Tarzan sampai capek nyari gaya yang mudah untuk dimengerti.

Coba untuk mencari ide dan mengingat-ingat lokasi yang cukup mudah untuk dikenali dan ditanyakan. Akhirnya dia teringat akan sebuah lokasi yang tidak jauh dari hotel tempat menginap, ya...sebuah setasiun kereta di bawah pertokoan. Dengan semangat baru akhirnya coba bertanya sekali lagi pada orang yang lewat, tentunya masih dengan bahasa Tarzan yang kali ini lebih serius peragaannya.

Naik kereta api..tut..tut..tut..siapa hendak turut..ke Bandung..Surabaya... dengan cerianya mendendangkan lagu anaknya ketika  setasiun kereta api berhasil ditemukan dan akhirnya bisa kembali ke hotel dengan selamat meski penuh perjuangan dan berdarah-darah (*lebay.com), untungnya tidak ditangkap polisi dikira TKI ilegal lagi *:senyum. 

13364042872133088618

Meski bukan saya sendiri yang mengalami kejadian tadi, saya bisa membayangkan bagaimana paniknya kawan saya saat kejadian. Ternyata meski tidak malu untuk bertanya, kita tetap  bisa tersesat juga kalau tidak bisa bertanya dan tidak bisa membaca meski lokasi jauh dari padang pasir atau hutan rimba belantara. Ternyata juga, bahasa Tarzan lebih manjur diterapkan di tengah kota modern ketimbang bahasa bule yah..*:senyum.

Salam,
HUM