Wednesday, November 25, 2015

Kenapa Pindah Dokter atau Rumah Sakit?

BY 69HUM dot com IN , No comments

Tenaga Medis (Source: shiftindonesia.com)

Kemarin saat si Jagoan Kecil sakit mata, saya segera bawa ke dokter spesialis di RS yang biasa kami kunjungi. Tapi ternyata kali ini sedikit kecewa, sampai di sana ternyata dokter baru saja selesai praktik. Bagian pendaftaran sempat bertanya, "tadi belom daftar dulu ya, Pak?" Dengan tampang sok cool saya jawab, "kalau dari tadi mBak angkat telpon, saya pasti sudah terdaftar dan pesan ke mBak minta Pak Dokternya tunggu sebentar, apalagi saya datang sebelum jadwal dokter berakhir lho..!?" Kebetulan saat itu telpon di sampingnya sedang berdering dan si mBak dengan malu-malu sambil meringis mengangkat telpon yang sudah berdering dari tadi.

Karena dokter praktik berikutnya masih lama dengan embel-embel belum bisa dipastikan praktik atau tidak, akhirnya saya segera memutuskan untuk pindah RS. Telpon ke salah satu RS terdekat, langsung nyambung, langsung daftar dan langsung meluncur ke sana.

Ucapan saya tadi bukan cuma bluffing atau isapan jempol semata, karena dari 2 jam sebelum sampai RS sudah coba telpon berkali-kali ke bagian rawat jalan RS tadi dan tidak ada yang ngangkat. Dua kali nyambung ke operator kemudian di arahkan ke bagian pendaftaran rawat jalan, sampai telpon mati sendiri tetap tidak ada yang angkat. Istri yang coba telpon juga dari kantor sama saja, nihil. Kebetulan telpon bisa koneksi ke perangkat di mobil sehingga tetap aman berkendara sehingga bahkan sepanjang perjalanan dari rumah ke RS saya coba telpon terus tetap tidak ada yang angkat.

Pada tulisan sebelumnya saya sempat menulis tentang RS dan dokter yang bekerja dengan hati, bisa dibaca di sini (Dok, Bekerjalah dengan Hati) dan di sini (Cara Rumah Sakit Siloam Tangani Pasien BPJS). Hal-hal yang saya tulis itu adalah hal yang membuat kita balik lagi ke RS atau dokter yang sama, tentunya ketika kita membutuhkan pertolongan atau saat sakit saja, karena semua orang tentunya mau sehat, kan?

Tapi dari pengalaman di atas tadi, saya jadi ingat beberapa kunjungan ke RS dan dokter yang membuat kami harus pindah tempat. Apa saja sih hal-hal yang bisa membuat kita berpaling ke lain hati? Saya coba ulas beberapa hal versi saya dari pengalaman pribadi.

Tenaga Non Medis RS yang Kurang Profesional 
Salah satu contoh seperti kasus cerita di atas, pelayanan yang buruk dari tenaga non medisnya. Kondisi pasien bisa bermacam-macam kategorinya. Ada yang gawat darurat butuh pertolongan cepat, hanya kontrol kesehatan pasca sakit atau kontrol kandungan berkala sampai dengan sekedar imunisasi buat anak. Masing-masing mempunyai tingkat urgensi yang berbeda-beda. Fungsi hotline telpon untuk emergency maupun pendaftaran rawat jalan sangat berguna buat pasien. Apa jadinya jika kita sudah coba telpon berkali-kali tapi no respons dan begitu sampai RS ternyata.... Zonk...!?

Untuk pasien yang punya banyak waktu, baik hati dan tidak sombong mungkin akan bersedia menunggu dokter berikutnya datang. Tapi bagaimana jika kondisi emergency? Memang masih ada bagian IGD, jika mau langsung ditangani dokter jaga. Bagi sebagian orang mungkin akan seperti pilihan saya tadi, telpon ke RS lain dah pindah tempat segera. Mungkin tidak balik lagi ke RS tersebut. Lebih gawat lagi cerita-cerita ke orang lain tentang pengalamannya yang kurang bagus seperti saya ini...:D

Manajemen RS yang Buruk 
Manajemen dari RS memang sangat menentukan kualitas pelayanan buat pelanggan. Pernah atau sering harus antri dokter atau obat di apotik RS? Jika antri karena banyak pasien mungkin kita masih bisa maklum, tapi bagaimana kesalnya kita ketika lama menunggu tanpa terlihat banyak antrian? Yang membuat lama bisa jadi masalah birokrasi maupun lambatnya pelayanan.

Saya pernah punya pengalaman "terpaksa kabur" setelah cek dokter karena tidak tahan menunggu selesainya obat dari apotik RS. Lamanya pelayanan ini bukan hanya dialami satu dua orang saja karena konon kabarnya ada juga yang melakukan aksi kabur seperti saya, entah alasannya sama atau tidak. Alih-alih memperbaiki kecepatan pelayanannya, manajemen RS malah menerapkan aturan yang super duper aneh, setiap pasien wajib meninggalkan KTP di pendaftaran dan diambil setelah selesai. Buat jaminan biar nggak kabur, gitu kali ya..?! Untung saya dah keburu kabur dan nggak pernah balik-balik lagi ke situ #hihi

Tarif yang Mahal 
"Murah kok njaluk slamet", begitu mungkin ungkapan sarkastik yang kadang harus kita telan. Biaya medis dan obat-obatan untuk kesehatan kita ternyata mahal harganya. Padahal pemerintah kita sedang gembar-gembor tentang jaminan kesehatan gratis, semoga bisa terwujud ya? Aamiin. Yang saya coba angkat di sini adalah harga obat atau tarif RS yang "lebih mahal" dari seharusnya. Bisa dengan komparasi pelayanan atau kelengkapan alat-alat yang digunakan maupun harga obat-obatan. Dengan mudah kita bisa browsing segera obat-obatan yang ada di resep dokter dan tahu harganya. Pengalaman kami dan beberapa teman di salah satu RS yang pernah saya kunjungi ketika dibandingkan ternyata harga obatnya lebih mahal dan bukan kebetulan di sebelah RS persis ada sebuah apotik umum.

Jadi yang kami lakukan adalah berobat, bayar dokter kemudian ambil resep dan beli di apotik sebelah. Alih-alih mengevaluasi harga obat-obatan di RS tersebut, pihak manajemen malah menerapkan sistem satu pintu, jadi bayar dokter sama obat jadi satu untuk mencegah pasien kabur ke apotik sebelah. Kami pribadi memilih untuk tidak kabur ke apotik sebelah, tapi kabur tidak periksa ke RS itu lagi #hihi. Padahal di RS tadi ada satu dokter anak yang cukup bagus dan komunikatif. Mengenai birokrasi RS dan mahalnya obat-obatan di RS ini pernah kami diskusikan dengan Bu Dokter tersebut yang bingung juga jawabnya #haha. Kabar terakhir Bu Dokter ikut kabur juga dari RS tersebut. Kemarin sempat menyapa saat ketemu di RS yang kami kunjungi saat periksa mata Si Jagoan Kecil.

Fasilitas yang Minim 
Fasilitas di sini bisa saya kategorikan menjadi fasilitas medis dan non medis. Fasilitas medis misalnya peralatan untuk cek dokter maupun lab. Ketika diskusi dengan dokter biasanya kalau perlu kami juga minta uji lab sebagai referensi dan untuk lebih yakin kondisi yang dialami. Hal ini juga mempermudah dokter dalam diagnosa sekaligus bisa jadi bahan diskusi. Fasilitas pendukung medis yang kurang lengkap menjadi salah satu pertimbangan kami untuk pindah ke RS yang lebih komplit. Meskipun kelengkapan sarana penunjang medis juga tergantung dari besar kecilnya tingkat RS.

Fasilitas lain yang masuk kategori non medis misalnya tempat parkir. Dari pengalaman, hampir setiap RS yang pernah kami kunjungi bermasalah dengan tempat parkir. Entah karena saking banyaknya pengunjung atau memang lahan yang terlalu sempit. Pernah pengalaman saat nengokin teman yang lahiran anak, agak shock ketika harus parkir muter-muter naik gedung dengan alur yang sempit dan kapasitas tiap lantai parkir sangat minim. Terlihat tembok di tiap tikungan ada bekas baret-baret kecium bumper mobil #hadeh. Ternyata dari cerita teman yang kami kunjungi, dia memilih parkir di gedung sebelah bukan di RS tersebut meski nginapnya di RS tersebut #loh

Dokter yang Kurang Komunikatif 
Pelayanan pelanggan merupakan kekuatan dari RS meskipun fungsi utama yang lebih berperan pada gilirannya adalah tenaga medisnya baik dokter maupun perawat. Ada pengalaman dulu saat si Kakak masih bayi. Kalau bernapas grok...grok seperti pilek. Kita bawa ke dokter anak di RS dekat rumah. Setelah dapat giliran masuk ruangan periksa, dokter langsung cek ini itu trus tulis ini itu juga...kasih resep tanpa babibu... Sudah....

Lha anak saya ini sakit apa? Kami mau diskusi Dok....bukan minta obat trus...selesai. Bisa jadi setelah minum obat sembuh, tapi edukasi buat proteksi selanjutnya bagaimana? Apa memang mesti ke dokter lagi? Dengan bengong dan memang sudah illfil, kita nggak pengen tanya-tanya lagi. Lihat resep trus browsing, ternyata dikasih obat pilek. Yo wis lah....mungkin flu biasa.

Setelah seminggu lebih kok belum ada tanda-tanda sembuh akhirnya kita konsultasi ke dokter ke RS lain. Dokter kali ini berbeda. Diskusi panjang lebar mewarnai sesi cek Si Kakak. Dari hasil diskusi, diagnosa dokter mengarah ke alergi susu sapi. Dan sekali lagi dokter tidak men-judgement langsung, jadi perlu observasi dan bukan dokter yang akan melihat tapi kita sendiri sebagai orang tua yang akan lebih tahu karena terlibat langsung berinteraksi dengan si Kecil. Ternyata orang tua itu lebih hebat lho dari dokter spesialis sekalipun. Itu kata dokter kami tadi.

Dokter Cowboy - Hajar Bleh.. 
Cerita lain ketika saya masih jomblo, dulu saat awal kerja. Secara history saya punya alergi kulit terhadap lingkungan baru. Hampir sama saat dulu pertama kali kuliah dan kost, kulit tiba-tiba luka sana-sini mengelupas. Singkat cerita datang ke dokter kulit tapi bukan konsultasi kelamin lho ya.. :D

Dengan berapi-api dokter langsung nyerocos. Ini kena serangga. Anak kost ya? Tidur kasur di lantai? Males bersih-bersih? Jarang mandi.? 

Meski pernyataan sang dokter banyak benarnya tapi ya jangan gitu donk, kasih kesempatan pasien buat menjelaskan keluhannya. Karena kurang puas dengan sang dokter beberapa hari kemudian coba ke RS lain. Pas dapat giliran masuk ruangan... Ohh.. No.. Ternyata dokternya sama dengan yang kemarin #tutupmuka. Tapi ternyata sang dokter lupa dengan saya karena langsung beraksi sama, bicara panjang lebar..dan sekali lagi sama persis diagnosanya... Serangga..!! 

Akhirnya coba pindah lagi ke RS lain. Kali ini lebih hati-hati dan teliti melihat siapa dokternya #kalem. Ketemulah dengan dokter spesialis kulit dan kelamin... Ibu Dokter.. :) Dengan ramah dan sistematis Bu Dokter berdiskusi untuk mendiagnosis penyakit saya. Untuk memperkuat diagnosa disarankan untuk melakukan skin test. Dari hasil diskusi dengan Bu Dokter tadi akhirnya sampai sekarang saya tahu trend yang muncul dan bisa mengantisipasi ketika keluhan datang. Sayang masalah yang mesti di cek Bu Dokter tadi bukan kulit di bagian kelamin yak... #ehh

Dokter dan Apotik yang Konservatif 
Pernah saat kami sekeluarga sedang berlibur ke kampung halaman. Tiba-tiba si kakak badannya panas dan mulai muncul bintik-bintik berair di badannya, cacar air. Segera kita bawa ke dokter anak yang buka praktek di rumahnya. Setelah cek ini itu dan karena jelas sakitnya kita tidak banyak diskusi. Resep dari dokter kita ambil di apotik sebelah. Agak aneh ketika mendapati botol sirup obat yang polos tanpa label lagi karena sengaja dilepas, diganti tempelan manual. Kata kakak saya, "itu memang biasa di sini, biar orang tidak tahu itu obat namanya apa dan tidak beli sendiri tapi datang lagi ke dokternya." #duh. Padahal di tutup botol masih ada tulisan kecil nama obatnya yang bisa dengan segera kita cari tahu dengan tanya ke mBah Gugel #hehe.

Masih ada lagi cerita tentang dokter di kampung halaman yang konservatif juga. Ketika "terpaksa" di rawat di kampung, saya coba untuk diskusi dengan dokter tentang progress kondisi saya. Tentu saja berbekal smartphone di tangan berbagai informasi saya coba gali terkait penyakit yang menyerang saya saat itu. Tapi yang terjadi bukan sebuah diskusi seru, dokter senior itu bahkan bilang dengan santainya,"ndak usah percaya apa kata internet, isinya orang ngapusi semua." #waduh. Akhirnya saya dengan sabarnya menunggu saatnya sembuh tanpa pengen diskusi dengan bekal informasi "ngapusi" dari internet #xixi

Dokter tidak Kompeten 
Selain manajemen RS yang bagus serta peranan interaksi antara dokter dan pasien yang sangatlah penting untuk membangun kepercayaan, masalah kompetensi dari tenaga medis juga memegang peranan yang tidak kalah penting. Hal ini bisa kita lihat dari orang yang lebih suka langsung ke dokter spesialis ketika mau konsultasi dibanding ke dokter umum. Orang juga cenderung mencari dokter yang cess pleng, langsung sembuh. Masalah kompetensi ini sangat mudah kita buktikan, ketika dengan gampang dan percaya kita mau buka baju di hadapan dokter. Bagaimana coba kalau saya yang minta seorang gadis untuk buka baju di depan saya..? Bisa dikepruk langsung keluar bintang-bintang seketika.. #meringis

Mungkin masih banyak lagi pertimbangan pasien untuk memilih tenaga medis maupun RS yang akan dikunjungi. Tapi sepertinya cerita di atas sudah terlalu panjang lebar. Jadi saya cukupkan sekian. Kasihan istri kalau terlalu panjang dan lebih kasian lagi buat suami kalau terlalu lebar #ehh #nyengir  

Salam,
HUM


0 comments:

Post a Comment