Monday, November 9, 2015

Maling Besar juga Pernah Kecil, kan?

BY HUM IN , No comments

Maling Besar Kecil (source: instagram @dhaniblitz)

"Tiga kasus koboi dlm semlm di wilayah cikarang jam 1.36 perampasan mobil jemputan karyawan dipintu jbbk korban luka bacok didada skrng di rs medika gombong .jam 2.36 perampasan sepeda motor dijbbk korban luka bacokan di tangan kanan bahkan celurit masih nancep ditangan.jam 3.52 usaha perampasan di indomart jl cagak spd mtr pelaku tertinggal di tkp."
Cuplikan tulisan di atas adalah pesan berantai tanpa editing dari group WhatsApp yang saya ikuti. Cukup miris dan jadi eneg perut ini ketika membaca dan membayangkan crita kronologis di atas. Kasus-kasus seperti di atas memang bukan hal baru dan mungkin sering kita dengar dan jumpai di lingkungan kita. Perampokan, penjambretan, begal dan kroni-kroninya yang disertai kekerasan bahkan penghilangan nyawa dari korbannya hampir menjadi sarapan pagi berita kriminal.

"Dari kejadian kehilangan innova teman saya di kedasih: Mobil sudah ditambahi kunci tambahan, berupa kunci setang 2. 1 ke dashboard 1 lagi ke rem." 
"Isunya ...mobil di dorong dorong dulu..." 
"Dan pagar gerbang jalan gemboknya sudah jebol, digantikan oleh tali pocong."
Beberapa komentar di atas muncul dari teman-teman di group tentang kasus pencurian sebuah mobil milik warga beberapa hari yang lalu. 

"Usaha pengamanan sudah maximum tapi masih jebol juga, jadi mesti gimana yah?" "Terus musti pasang kunci apa yg gabisa dibobol malinge?" 

Beberapa pertanyaan lanjutan mengisyaratkan kegalauan, warga mesti berbuat apa lagi untuk mengatasi kondisi ini. Salah satu member bahkan memberi penekanan lebih tentang kegalauannya.

"Maling itu ibaratnya elang. Kita. Saya loe loe juga ibaratnya anak ayam. Anak ayam gak punya ilmu elang. Bisa menciap ciap doang."

Trus kira-kira bagaimana solusinya. Diskusi di group berlanjut lagi dengan berbagai ide solusi untuk mengantisipasi hal ini.

"Pasang GPS. Di bejaan teh sok murugul", entah apa yang dimaksud teman satu ini soalnya saya roaming urusan bahasa Sunda, yang pasti pasang GPS :) 
"Banyak pengalaman tetangga saya ...dan teman saya dst ... Mobil melengkapi dg pengaman GPS.. 90persen mobil kembali", beliaunya menambahkan data empiris untuk memperkuat argumennya. Entah datanya diambil dari mana, yang penting ada angkanya.

Ada juga yang memberikan ide yang kreatif, "Cara mencegah kemalingan mobil ikuti cara mr.Bean... stir dicopot saja. simpan di kolong tempat tidur...😃" 
"Atau copot ban...? 😃" beliaunya menambahkan dengan ide jenius lainnya. 

Ide lain termasuk copot aki sampai dengan tidur di mobil mewarnai percakapan seru yang tiada ujung pangkal ini. 

Ada satu ide solusi yang cukup menggelitik saya yang ditawarkan dari salah satu member yang sudah pernah menginjakkan kaki di tanah suci bahkan berfoto dengan kostum sepedaan "CBC", sungguh menjiwai beliaunya. 

Solusi dari beliau adalah, "Kata ustadz solusinya.. perbanyak sedekah krn sedekah menghindari dri musibah dan marabahaya..."


Sebuah ide pendekatan secara religius yang ditanggapi semangat oleh member lain. 
"Setujuuuuuh...." 
"Super sekali.." 
Ditimpali juga oleh teman lain yang menguatkan, "Betul sekali om ***....kl segala cara pengamanan fisik sdh dilakukan....pamungkasnya pasrah pd Allah SWT dan perbanyak sedekah."

Sungguh religius ternyata group yang sering diskusi absurd ini. Disambung lagi oleh komentar member lain dengan solusi pendekatan ini. 
"Solusinya dengan menanamkan ilmu akhlak semenjak kecil sehingga menjadi anak yang sholeh..paham yang baik dan buruk...maling2 tadi pasti pernah kecil kan..?" 

Disamber oleh teman yang tinggi gedhe, "Nah.... ini salah satu bagian ajakan saya....duluuuuu.. Maling-maling besar itu tentu dulunya pernah kecil....

...yaitu maling maling kecil....", ternyata tambahan komentar yang absurd. 

Cukup panjang diskusi selanjutnya dengan bumbu sana-sini dan berkembang ngalor ngidul tanpa kesimpulan. Kemudian nyambung dengan diskusi lainnya yang bahkan nggak nyambung sama sekali. Benar-benar sebuah diskusi absurd dari group yang aneh.

Cukup! 
Tidak usah kita bahas ulah absurd para member yang aneh tadi, sudah terlalu panjang kalau harus copy paste satu-satu komentar mereka. Yang cukup menarik untuk kita simak adalah mengenai solusi yang terakhir tadi. Solusi pendekatan dari sisi moral dan agama yang dimulai semenjak dini. Apakah sudah telat? Hamil donk..#ehh... Tidak ada kata terlambat selama konsumsi pil KB Anda tidak lewat..uppss...

Stop! 
Kita lanjut diskusinya. Sudah telat kah? Sudah terlanjur? Sudah parah? Mustahil diperbaiki? Tentu tidak...!

Sama sekali tidak ada kata terlambat. Saat ini maling-maling tadi sudah besar, kita tidak tahu dulunya saat kecil seperti apa. Bisa jadi dulunya mereka anak-anak yang sopan santun atau memang berandalan dari semenjak ceprott..terlahir di muka bumi, tidak mungkin kalau yang ini. Anak-anak terlahir putih bersih tanpa embel-embel dosa warisan dari orang tuanya atau siapa pun.

Tapi yang bisa kita ambil sebagai insight-nya adalah bahwa tidak mudah membentuk sebuah moral pada setiap individu yang pada akhirnya merupakan cerminan dari mental bangsa ini. Bukan sebuah perkara mudah dan instan untuk membuat sebuah kultur budaya di masyarakat dan justru bahkan bisa sebaliknya, dengan sangat cepat untuk menghancurkannya.

Kultur budaya yang terbangun di masyarkat kira-kira siapa yang menciptakan? Tidak lain dan tidak bukan kita lah yang membangunnya. Jadi kalau saat ini diskusi di atas memperlihatkan kondisi masyarakat kita, maka itu adalah tanggung jawab kita bersama. Ada andil kita di dalamnya. Kita lah yang ikut menciptakannya, entah kita sadar atau tidak.

Jadi bagaimana solusinya. Solusinya cukup simple dan tidak perlu muluk-muluk. Cukup kita bangun dari hal yang kecil dari diri kita, keluarga kita, anak-anak kita. Berkembang lebih luas ke lingkungan sekitar kita, sejauh yang kita bisa jangkau untuk menebarkan energi positif. Bahkan dengan teknologi saat ini yang tiada batas kita bisa dengan segera dan saat itu juga menebarkan energi positif kepada lingkungan kita.

INGAT! 
Apa yang kita rasakan saat ini adalah hasil dari buah yang kita tanam sebelumnya, meski secara tidak langsung. Dan INGAT juga! apa yang kita lakukan saat ini juga akan membuahkan hasil kemudian, entah satu detik, satu minggu, satu bulan lagi atau satu tahun kemudian atau pun saat kita sudah tidak kuasa untuk menghitung lagi. Kebaikan itu akan selalu menyertai kita. 

Tidak perlu keluar Surat Edaran penebar kebencian, akan lebih baik jika diganti menjadi Surat Ajakan menebar kebaikan. Ingat lah bahwa kebaikan selalu lebih baik dari kejelekan. Tapi kalau wajah Anda jelek ya nggak usah berselfie ria trus langsung posting ke sosial media, jangan lupa untuk di-edit dulu. INGAT itu! *nyengir


Salam,
HUM

Friday, November 6, 2015

Hate Speech: I Miss You (Benci tapi Rindu)

BY HUM IN , No comments

Love & Hate Collide (source: flickr.com)

Ironis dan malu rasanya sebagai rakyat Indonesia ketika mendengar adanya surat edaran penebar kebencian yang bahasa kerennya Hate Speech ini. Sungguh ironis mengingat semboyan kita sebagai sebuah bangsa yang beradab, ramah tamah, ayem tentrem kerto raharjo, gemah ripah loh jinawi, tapi muncul sebuah peraturan yang kontradiktif dengan semboyan tadi. Malu tentu saja karena saya merupakan bagian dari rakyat Indonesia tercinta ini.

Kalau melihat dari pengalaman yang ada, pembuatan sebuah undang-undang atau lebih umum kita sebut sebagai peraturan, entah itu di skala kecil dalam RT/RW, sekolah sampai dengan konteks kenegaraan, biasanya berawal dari sesuatu yang sudah terjadi. Sehingga peraturan lebih banyak dibuat sebagai corrective dibandingkan preventive action. Keberadaan surat edaran  Hate Speech ini juga bukan tiba-tiba munculnya, tapi dipicu oleh maraknya praktek penebar kebencian terutama di media sosial.

Pernah lihat tayangan televisi candid camera reality show Just For Laugh? Adegan demi adegan dengan setting di kota Quebec, Montreal dan Vancouver di Kanada ini membuat kita ikut tertawa. Skenario korban yang dikerjain oleh anggota polisi adalah salah satu menu utama selain skenario orang yang minta tolong di tempat umum. Coba bandingkan dengan tayangan serupa produksi dalam negeri misalnya Super Trap. Skenario kira-kira sama yaitu mengundang tawa dengan ngerjain sang korban. Tapi coba kita lihat perbedaan reaksi dari para korban. Respon lugu dan tulus ketika ada orang asing yang tak dikenal minta bantuan di tempat umum atau reaksi 'biasa' ketika kendaraan di-stop oleh polisi 'gadungan' bisa kita lihat di Just for Laugh. Dan tentu saja dengan ending tertawa lebar dari sang korban setelah tahu bahwa dirinya dikerjain. Berbeda sekali dengan reaksi para korban tayangan produksi lokal. Rasa curiga, cuek, khawatir atau bahkan ketakutan mewarnai setiap reaksi yang ada, meski di akhirnya tertawa juga walaupun agak asem.

Hal ini bukan tanpa sebab. Kultur budaya di masyarakat Indonesia saat ini tercermin di dalamnya. Iri rasanya melihat suasana orang-orang dan lingkungan yang menjadi setting acara komedi Just for Laugh tadi. Betapa nyamannya orang berjalan-jalan di tempat umum dan saling memberikan pertolongan kepada orang asing yang tidak dikenalnya. Polisi yang menghentikan kendaraan dan memeriksa surat-surat disikapi dengan biasa. Jauh beda dengan kondisi kita saat ini. Polisi di jalan seakan momok yang menakutkan bagi pengendara karena merasa akan dicari-cari kesalahannya atau memang kita yang melakukan pelanggaran. Orang tak dikenal menepuk bahu kita bisa jadi pakai ilmu gendam, hipnotis, mengambil barang berharga kita dengan dalih minta pertolongan. Dan hal ini nyata terjadi di masyarakat kita yang seharusnya ramah tamah, kekeluargaan, suka menolong dan semangat gotong royong. Ironis sekali bukan?

Kemunculan surat edaran  Hate Speech ini tambah menegaskan kondisi yang terjadi di negara ini. Mestinya tidak perlu ada sebuah undang-undang yang mengatur masalah kebencian ini jika slogan dan semboyan di atas menjadi manifestasi dalam kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana kalau kita rubah menjadi sebuah kampanye atau seruan untuk saling menyayangi dan menghormati?

Sepertinya kita lupa pernah melewati masa adem ayem tentrem saat masih muda dulu. Atau malah terlalu menjiwai gelora jiwa muda yang penuh nafsu membara, sehingga berharap bahwa kebencian akan berubah menjadi sebuah kerinduan? Mudah-mudahan menjadi kenyataan apa yang dilantunkan oleh artis senior Diana Nasution: Benci tapi Rindu. Ahh..sudahlah... *music

Bukan hanya sekedar penghibur
Diriku ini sayang
Bukan pula sekedar pelepas
Rindumu oh sayang
Sakit hatiku
Kau buat begini

Kau datang dan pergi
Sesuka hatimu
Oh... kejamnya dikau
Teganya dikau padaku

Kau pergi dan datang
Sesuka hatimu Oh...
sakitnya hati
Bencinya hati padamu

Sakitnya hati ini
Namun aku rindu
Bencinya hati ini
Tapi aku rindu

Salam,
HUM


Monday, October 26, 2015

Dok, Bekerjalah dengan Hati (Refleksi Hari Dokter Indonesia)

BY HUM IN No comments

Satu hari setelah keluar ICU (Doc: HUM)

Kemarin pagi saat mengantar si Kecil buat ikut lomba porseni,  di jalan kita sambil mendengarkan radio. Baru tahu kalau tanggal 24 Oktober adalah hari Dokter Indonesia dari sang penyiar. Jadi ingat juga pengen nulis beberapa pengalaman urusan sama dokter dan rumah sakit. Pengalaman bagus atau jelek kira-kira ya? Karena sudah terlalumainstream kalau kita ngomongin hal jelek di media, saya pilih cerita yang baik saja deh.. :)
Ok deh,  saya mulai ceritanya ya? Seperti intro kisah-kisah inspiratif yang sering dapat dari broadcast message, saya juga kasih catatan bahwa ini adalah KISAH NYATA!! tentu dengan sedikit bumbu biar renyah dan gurih dibacanya. *senyum
Pengalaman awal urusan dokter dan rumah sakit saya alami saat masa kecil dulu. Puskesmas adalah rujukan pertama saat batuk pilek khas anak kecil. Satu hal yang membuat saya senang kalau diajak ke Puskesmas adalah karena ada penjual mainan dan kue yang digendong simbok-simbok penjual, pulang langsung main..sembuh deh.
Baru kalau agak lama nggak sembuh juga biasanya Ibu akan bawa ke dokter anak kota. Yup.. Dokter anak-anak di kota yang membuat saya kecil saat itu mengenal istilah MAMA untuk memanggil ke Ibu dan itu yang saya kecil selalu terapkan saat kunjungan ke dokter kota. Biar tidak kalah gaul sama anak yang lain. Geli juga kalau mengingatnya :D
Lompat ke masa sekarang. Punya tiga krucil tentunya sudah banyak pengalaman ketemu dokter dan berkunjung ke rumah sakit, tentunya bukan urusan sakit saja. Kami, saya dan istri punya pandangan yang sama bahwa pergi ke dokter atau rumah sakit bukan hanya untuk mencapai tujuan segera sembuh tapi juga sebagai ajang kita berdiskusi dengan dokter untuk menambah pemahaman tentang kesehatan anak dan keluarga. Cukup banyak RS dengan dokter spesialis handal di dekat rumah yang sudah pernah kita datangi sebagai bahan komparasi dalam hal pelayanan dan juga kompetensi sang dokter. Dari berbagai macam pertimbangan akhirnya kita ketemu dengan dokter dan RS yang sreg di hati.  Ya..bukan yang paling dekat rumah atau yang paling megah gedungnya,  tapi yang menurut kita bekerja dengan HATI .
Sebagai seorang ayah dari tiga krucil, pengalaman sebagai suami siaga tentunya sudah di luar kepala. Dokter kandungan selama masa kehamilan ketiganya kami percayakan pada satu orang dokter, meski tidak saat melahirkan. Lho kok? Kenapa bisa?
Dokter kandungan kami ini sudah cukup senior. Meski di usia yang sudah tidak lagi muda, semangat dan stamina ibu dokter ini nomor satu. Pasien yang banyak  tidak membuat beliau asal cek pasien biar cepat selesai. Diskusi enak tentang kondisi pasien diselingi obrolan ringan tentang berbagai hal yang bahkan tidak berhubungan dengan medis membuat prosesi berjalan santai dan close to personal.
Sampai dengan jam berapa maksimal Anda berkunjung ke dokter kandungan untuk cek berkala kondisi janin? Jam 9 malam? Atau 10 malam? Itu masih sore menurut dokter kandungan kami. Sebagai pasien terakhir pulang bareng jam 1:30 dini hari adalah rekor kami, bahkan ada pasangan temen kita yang cerita pernah rela menunggu sampai jam tiga pagi. Lanjut makan sahur deh..
Sayangnya pada lahiran anak pertama kami tanpa pertolongan sang dokter, soalnya terlanjur lahir di mobil pas jalan ke RS..upss.. Bisa dibayangkan paniknya seorang calon ayah di mobil melihat sang istri melahirkan, ditambah lagi didampingi ibu mertua, sungguh terintimidasi. Tapi ternyata tidak sepanik yang pemirsa bayangkan,  karena saya masih sempat mandi saat istri pecah ketuban dan cukup tenang ketika harus belok ke RS terdekat nyelonong ke IGD dengan membawa seorang ibu hamil, yang sudah kempes,  dan bayi mungil dengan ari-ari masih melilit yang membuat suster IGD langsung panik seketika.
Anak kedua meski tidak seheboh kakaknya saat lahiran,  ternyata lewat juga dari penanganan dokter tadi. Ceritanya saat kunjungan rutin 2 minggu sebelum HPL sang dokter bilang bahwa minggu depan dia ada acara reuni di luar kota sehingga mau cuti,  tapi kita tetap bisa cek kondisi janin karena ada dokter pengganti dan tidak perlu khawatir karena HPL masih 2 minggu lagi.  Tapi takdir berkata lain,  sang jabang bayi memaksa menghirup udara luar saat sang dokter cuti.
Tidak mau kecolongan lagi saat lahiran anak ketiga,  sang dokter mengatur strategi dan mewanti-wanti kami untuk kontak beliau kapan pun saat tanda awal lahir terasa, mengingat lahiran istri begitu cepat dan mudah merocotnya sang jabang bayi. Dan malam itu,  lebih tepatnya dini hari, saat kami menikmati week end dengan menonton filmDare Devil,  jam 2 dini hari tiba-tiba si Kecil dalam perut menendang dengan keras dan ketuban pun pecah. Panik? Tentu tidak. Kami masih ingat ketika dokter bilang bahwa salah satu kunci adalah don't panic.  Meski ketuban pecah,  kita masih bisa dengan tenang jalan ke Bandung,  begitu becandaan dokter untuk menjelaskan bahwa bayi masih cukup waktu dan nutrisi meski ketuban pecah asal tidak ekstrim kondisinya.
Singkat cerita kita sampai RS setengah jam kemudian dan langsung masuk ruang bersalin. Suster dengan sigap segera kontak bu dokter. Ternyata HP tidak aktif. Duh..gimana donk, bisa-bisa terlewat lagi ni bu dokter. Kemudian kita ingat dokter pernah bilang kalau tidak bisa hubungi nomornya bisa telpon ke nomor suaminya apalagi saat malam hari karena selalu di sampingnya, so sweet ya? Dan benar saja, telpon langsung diangkat. Tidak mau menjadi keledai yang terperosok ke lubang yang sama dengan melewatkan lagi kelahiran anak ketiga kami,  setengah jam kemudian bu dokter sudah muncul di ruang bersalin. 
Rumah yang lumayan jauh di Pondok Gede terbantu dengan kondisi lalu-lintas yang lancar di malam hari. Jam kerja dokter memang harus siap 24 jam. Tidak heran makanya ketika postingan photo dokter yang tertidur di meja kerja bukannya dapat cacian tapi malahan mendapat banyak komentar simpati karena sadar dan tahu bagaimana kerjaan seorang dokter. Akhirnya jam 05:10 pagi,  sosok mungil dengan mata sipit muncul disambut mentari pagi yang tersenyum cerah dengan pertolongan sang dokter.
Si kecil ini juga yang sempat membuat ketar-ketir karena musti masuk ICU saat usia masih berusia 8 bulan. Di sini juga sekali lagi kami bertemu dengan perawat-perawat yang bekerja dengan hati. Bisa dibayangkan ketika seorang bayi 8 bulan penuh selang infus di kedua tangan dan kaki. DIC (Disseminated Intravascular Coagulation) yang parah membuat kompartemen sindrom,  pembengkakan di lengan kanan kiri karena pendarahan keluar dari pembuluh darah mengisi jaringan. Selang dari hidung terpasang untuk menyedot pendarahan di dalam perut. Tidak tega rasanya melihatnya,  bahkan terpikir lebih baik saya yang merasakannya. Tapi si Kecil ternyata sangat tangguh.  Lidah mungil berulang kali menjulur membasahi bibir yang pecah-pecah akibat harus berpuasa. Terharu rasanya ketika melihat suster dengan sabar membasahi bibir mungil itu.
Meski ketika masuk ICU dokter yang menangani ganti,  dokter anak kami ternyata tidak lepas tangan . Setiap malam dokter cek ke ICU dan menyempatkan untuk diskusi dengan kami. Setiap perkembangan naik turun dari si kecil selalu update. Akhirnya setelah 8 hari di ICU, sebuah keajaiban atas pertolongan Yang Maha Kuasa si kecil dinyatakan stabil dan boleh pindah ke ruang perawatan biasa.  Sekali lagi rasa gembira bercampur haru ketika suster bergantian berphoto selfie bareng si kecil yang tertawa ceria.
Kisah di atas sebagian besar mengambil setting di RS terkenal di tempat kami,  yaitu RS Siloam Hospital. Kisah lain tentang RS ini bisa dibaca diCara Rumah Sakit Siloam Tangani Pasien BPJS. Tulisan tentang BPJS di RS ini mempertemukan kami dengan Direksi RS Siloam Hospital,  yang sekali lagi menunjukkan kepedulian dan bekerja dengan hati. Berawal dari sebuah curhat yang ditorehkan ke tulisandi Kompasiana, ternyata dibaca langsung oleh Direksi RS Siloam.
Undangan ramah tamah di ruang VIP RS menjadi sebuah diskusi yang menarik. Tidak berhenti sampai di situ, ketika sebuah email masuk.  Orang di email memperkenalkan diri dari sebuah konsultan yang sedang melakukan survey untuk RS di Asia. Orang tersebut membaca tulisan saya di Kompasiana dan tertarik sehingga menghubungi.  Singkat cerita saya diminta sebagai salah satu narasumber dan sebagai ucapan terimakasih diminta mengirim nomor rekening. Alhamdulillah :)
Pernah baca entah dimana saya lupa yang intinya bahwa segala macam penyakit bersumber dari hati. Jadi, temukanlah RS dengan dokter  dan perawat yang bekerja dengan HATI , niscaya akan sirna segala macam penyakit di muka bumi ini.  Aamiin...
Salam,
HUM


Thursday, October 1, 2015

Asap Roket Jokowi

BY HUM IN , No comments

Asap Roket (source: global.liputan6.com)
Sudah masuk bulan Oktober tapi Roket Sakti Jokowi belum terlihat juga. Baru asapnya saja yang terlihat membumbung di hutan sana. Ekonomi kita yang dikatakan akan meroket mulai bulan September, ternyata memperlihatkan hasilnya secara harfiah. Merujuk dari definisi ensiklopedia bebas, Roket merupakan wahana luar angkasa, peluru kendali, atau kendaraan terbang yang mendapatkan dorongan melalui reaksi roket terhadap keluarnya secara cepat bahan fluida dari keluaran mesin roket. Aksi dari keluaran dalam ruang bakar dan nozle pengembang, mampu membuat gas mengalir dengan kecepatan hipersonik sehingga menimbulkan dorongan reaktif yang besar untuk roket (sebanding dengan reaksi balasan sesuai dengan Hukum Pergerakan Newton ke 3). Tekanan gas yang menyembur keluar inilah yang menghasilkan gaya dorong bagi roket sehingga roket dapat bergerak maju atau ke atas. Jadi bisa jadi asap yang membumbung di kawasan hutan Sumatera dan Kalimantan saat ini adalah pembuktian Hukum Newton 3, ada aksi maka ada reaksi. Aksi meroketnya ekonomi yang menimbulkan reaksi asap yang tak kunjung berhenti.
Sebenarnya bisa dibilang tidak ada hubungannya antara pernyataan Pak Jokowi soal ekonomi kita yang akan segera meroket dengan bencana asap yang terjadi saat ini. Tapi saya coba mengubungkan keduanya karena satu jalinan benang merah yang sederhana saja, sama-sama tentang Indonesia.
Sebagai warga negara Indonesia tentunya saya sangat prihatin dengan kondisi kebakaran yang terjadi sehingga menimbulkan bencana asap yang tiada henti. Sebagai warga negara Indonesia juga saya sadar dan menghormati Pak Jokowi sebagai Presiden kita. Lalu apa hubungannya antara keduanya, roket dan asap?
Saya coba meninjau dari sisi positif yang bisa kita ambil. Pertama mengenai pernyataan bahwa ekonomi Indonesia akan segera meroket. Sebagai seorang pemimpin bangsa, salah satu fungsi dan perannya adalah sebagai pendongkrak semangat rakyat semua. Memberikan motivasi agar segenap bangsa ini tetap optimis akan kondisi yang sedang kita hadapi bersama.Ingat bahwa frekuensi dari sebuah garpu tala akan bisa mnghasilkan resonansi yang saling menggetarkan, menguatkan. Bisa dibayangkan apabila aura positif yang digetarkan dan berhasil menggetarkan hati setiap insan bangsa ini. Dan bayangkan pula jika aura negatif yang ditebarkan.
Coba kita melihat sejenak kebelakang pada masa-masa perjuangan melawan penjajah. Sosok pemimpin yang punya motivasi dan semangat tinggi sangat berperan di dalamnya. Bisa dibayangkan bagaimana semangat Soekarno saat berpidato mengobarkan semangat kemerdekaan, bagaimana Bung Tomo mengobarkan darah muda arek Suroboyo. Bagaiman Panglima Besar Jenderal Soedirman bersemangat juang dalam kondisinya saat itu. Apakah kondisi saat itu terlihat bahwa perjuangan cukup mudah? Apakah di atas kertas kita mampu melawan penjajah? Apakah Hukum Newton berhasil membuktikan bahwa aksi berondongan peluru dari senapan mesin, gempuran kendaraan lapis baja bisa dihadang dengan reaksi Bambu Runcing? Sejarah juga yang akhirnya membuktikan bahwa perjuangan para pahlawan kita tidak sia-sia. Begitu besarnya pengaruh dari getaran aura positif seorang pemimpin dalam membangkitkan semangat juang seluruh bangsa ini.
Saat ini, saat Pak Jokowi memegang amanah sebagai pemimpin bangsa ini, ungkapan meroketnya ekonomi bisa kita lihat sebagai sebuah ungkapan penuh aura positif yang diharapkan bisa menggetarkan frekuensi positif dari segenap anak bangsa ini. Apakah kondisi saat ini terlihat cukup mudah untuk melontarkan roket ekonomi kita? Apakah gempuran lonjakan dollar terlihat mudah untuk ditangani? Sekilas terlihat cukup berat dan sulit, tapi minimal lebih mendingan dibanding jaman perjuangan. Dengan cukup mudah kita menemukan gerai fastfood maupun coffee shop penuh sesak oleh pengunjung dibandingkan jaman perjuangan ketika orang banyak kelaparan dan kesulitan meski hanya untuk sekedar makan thiwul atau nasi aking. Tapi dengan semangat menggelora aura positif para pemimpin kita di masa itu, akhirnya kemerdekaan bisa kita dapatkan, tentu saja atas berkat rahmat Allah SWT.
Cukup prihatin dan ikut sedih atas bencana asap akibat kebakaran lahan hutan yang tak kunjung berhenti. Tapi ada sisi positif yang bisa kita lihat dari kasus asap kebakaran ini. Demikian luasnya area dan banyaknya titik api yang mengakibatkan asap tebal menyelimuti area Sumatera dan Kalimantan, bahkan negara tetangga juga ikut kena imbasnya ini menunjukkan bahwa betapa kayanya Indonesia akan sumber daya alam. Betapa besar potensi kekayaan alam kita jika dibandingkan dengan Singapura misalnya. Andai kita bayangkan jikalau yang terjadi kebakaran adalah Singapura yang seluas "only a dot on the map", tentunya akan segera dan sangat cepat untuk bisa ditanggulangi.
Bukan berarti pemerintah diam tidak melakukan apa-apa dalam usaha menanggulangi bencana asap ini. Cakupan area yang cukup luas dan sulit dijangkau dengan berbagai keterbatasan sarana yang ada merupakan faktor yang kurang mendukung proses penanggulangan. Tapi ingat, bambu runcing juga bisa mengantarkan bansa ini menghirup udara bebas kemerdekaan. Jokowi yang turun langsung ke medan tempur titik api dan asap mengepul merupakan cerminan tindakan seorang pemimpin yang terjun langsung ke garis depan pertempuran. Mestinya hal ini akan memicu semangat rakyat untuk optimis dan berpikir positif dalam usaha penanganan bencana asap ini. Sebuah aksi simbolis yang mestinya bisa menggetarkan aura positif bangsa ini seperti saat Jenderal Soedirman turun langsung ke lapangan meski harus ditandu karena kondisi kesehatannya. Tentu itu adalah pencitraan dari sang Panglima Besar saat itu, sebuah pencitraan untuk membangkitkan semangat para pejuang untuk pantang menyerah.
Yakinlah bahwa roket akan segera melesat membumbung tinggi dengan meninggalkan asap yang segera sirna diguyur siraman air hujan yang menyejukkan. Semangat optimis dari pemimpin kita yang diikuti oleh getaran frekuensi positif dari segenap insan bangsa ini niscaya akan segera membawa bangsa ini menuju kejayaan, tentu saja atas berkat rahmat Allah SWT. Dengan semangat Kesaktian Pancasila, kita coba ulang sejarah. Semangat bambu runcing melontarkan roket menembus batas cakrawala.
Salam,
HUM
catatan kaki :
*tulisan ini dengan mengabaikan setiap sisi negatif yang ada, cukup jadi catatan di kaki agar tidak menghalangi munculnya aura kasih *nyengir

Sunday, July 12, 2015

Membuang Ibu

BY HUM IN , No comments

Membuang Ibu (source: filmex.net)
Bunyi handphone berdering  memecahkan konsentrasi di tengah sebuah sesi meeting. Terlihat di layar ada panggilan dari sebuah nomor, bukan dari rekan kerja, customer atau Boss, tapi nomor Kakak di kampung. Sejenak berpikir untuk mengabaikan panggilan tersebut mengingat sedang meeting penting. Seperti hari-hari biasanya, Jum'at kemarin kesibukan kerja terasa apalagi menjelang persiapan libur Idul Fitri. Dari pagi catatan pekerjaan dan masalah harian datang silih berganti seperti tidak ada habisnya. Tapi akhirnya ambil keputusan keluar sebentar dari ruang meeting dan angkat telpon.
Suara Kakak perempuan di seberang terdengar meriah seperti biasa, menanyakan kabar dan kapan rencana mudik. Setelah ngobrol ini itu terdengar suara seorang perempuan di samping Kakak yg mau ikut ngobrol. Suara gembira dan terlihat antusias terdengar berikutnya. Ya..suara Ibunda tercinta. Dengan tertawa ceria beliau bercerita bahwa masih full puasanya, belum ada yang bolong karena badan sehat. Senyum lepas di bibir dan sedikit haru yang tertahan membayangkan wajah Ibunda di seberang sana.
Ya, Ibunda sudah tidak muda lagi usianya, menjelang delapan dasa warsa beliau mengarungi kehidupan ini. Membesarkan anak-anak termasuk si bontot yang paling nakal ini. Sejenak rasa kangen berkecamuk di dada. Tidak sabar rasanya untuk segera tancap gas mengunjungi beliau bersama anak istri saat libur lebaran sebentar lagi. Meski baru bulan lalu ketemu Ibu saat beliau berkunjung ke rumah bersama Kakak-kakak dan ponakan.
Saya jadi teringat sebuah cerita yang pernah saya baca entah kapan. Pernah mendengar cerita dari negeri matahari terbit 'Ubasuteyama'? Baru dengar ya? Memang sih kalah pamor dibanding cerita Doraemon atau Naruto bagi anak jaman sekarang. Ubasuteyama dalam bahasa Jepang, artinya 'Gunung Pembuangan Nenek'.
Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.
“Bu, kita sudah sampai”, kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya. Si ibu, dengan tatapan penuh kasih berkata, ”Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang Ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.
Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya Ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan”. Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang dan merawatnya dengan baik sampai akhir hayatnya.
Cuplikan kisah di atas bukan cerita hisapan jempol belaka. Di masa sekarang kisah di atas bisa mudah kita temui. Tidak sedikit dari kita seringkali 'Membuang Ibu' kita dengan tidak sadar. Melupakan hanya untuk sekedar bersilaturahmi dengan alasan kesibukan kita. Jangankan untuk berkunjung silaturahmi, menelpon untuk sekedar menanyakan kabar dan kesehatan beliau saja jarang kita lakukan.
Momen mudik lebaran setahun sekali ini tentunya sebuah momen yang penting dan sayang untuk dilewatkan. Bertemu dengan orang tua dan saudara serta kerabat di kampung halaman merupakan sarana untuk menyambung silaturahmi tadi. Bermacet ria dan panas sepanjang perjalanan bukanlah sebuah halangan. Meski pulang kampung bisa dilakukan kapan saja ketika ada kesempatan, bagi sebagian banyak orang termasuk kami, momen mudik lebaran ini sayang untuk dilewatkan.
Yang perlu dicatat adalah esensi dari mudik atau pulang kampung ini. Esensi untuk menyambung tali silaturahmi, kembali ke pelukan orang tua kita, bersujud di pangkuannya memohon maaf dan memohon doa restunya. Kadang kita terlupa dengan euforia berlebaran. Setelah malam takbir ceria dengan menyalakan petasan dan kembang api warna-warni, paginya sibuk berkeliling kampung ketemu orang-orang, setelah itu jalan-jalan ke tempat wisata, sementara orang tua kita terlupa. Tidak sadar kita telah membuangnya.
Selamat bermudik ria untuk kembali ke pangkuan Ibunda tercinta. Tetap hati-hati di jalan dan jaga kondisi selama perjalanan. Salam buat Ayah & Ibunda Anda yang tercinta. Orang-orang hebat dalam kehidupan Anda.
Salam,
HUM

Thursday, July 2, 2015

Bantahan Foto Selfie Pesawat Hercules

BY HUM IN 2 comments

Foto 'selfie' Pesawat Hercules

Munculnya foto dua orang wanita yang difoto oleh seorang berseragam polisi dengan latar belakang reruntuhan pesawat Hercules yang jatuh di Medan, membuat heboh media dan menuai kecaman dari para netizen. Tanpa mengurangi rasa keprihatinan terhadap musibah jatuhnya pesawat Hercules yang menelan cukup banyak korban jiwa ini, saya coba meluruskan pemberitaan yang sudah terlanjur beredar di masyarakat dan berbagai media sosial terkait foto selfie ini.
Merujuk dari arti kata jika ditelusuri lebih dalam pengertian ‘Selfie’menurut referensi pustakawan Britania adalah “sebuah pengambilan foto diri sendiri melalui smartphone atau webcam yang kemudian diunggah ke situs web media sosial.” Jika melihat dari foto 'selfie'berlatar belakang pesawat Hercules ini, saya katakan bahwa foto tersebut tidak masuk ke dalam kategori selfie, karena bukan diambil oleh diri sendiri melainkan oleh orang lain, yaitu pria berseragam polisi. Jadi foto tersebut sama sekali bukan foto selfie, hanya merupakan foto biasa dengan latar belakang yang 'tidak biasa'.
Foto 'selfie' Pesawat Hercules
Di luar konteks sebuah foto selfie atau bukan, fenomena berfoto 'ria' dengan latar belakang 'duka' memang menjadi sebuah hal yang kontroversial. Kasus seperti ini bukan baru sekali ini terjadi. Kasus serupa sebelumnya juga muncul ketika terjadi kecelakaan pesawat Air Asia di Pangkalan Bun. Yang perlu disorot di sini sebenarnya bukan mengenai foto selfie-nya, tapi konteks berfoto di tengah suasana keprihatinan yang menunjukkan kurang empatinya pelaku foto.
Jadi jika para netizen mengecam keras kasus ini dengan tujuan memberikan sanksi sosial kepada pelaku dan sebagai pelurusan mengenai etika sosial, maka saya juga coba meluruskan mengenai istilah selfie sehingga media tidak salah kaprah mengartikannya. Bijaklah dalam melihat situasi dan kondisi ketika berfoto, entah itu foto biasa atau selfie. Semoga kasus kecelakaan pesawat ini tidak berulang lagi dan tidak ada lagi foto-foto selfie maupun non selfie dengan latar belakangnya. Turut prihatin dan berduka atas musibah jatuhnya pesawat Hercules ini, semoga keluarga korban diberi ketabahan. Aamiin..
Salam,
HUM

Inilah Daftar Pasar Tumpah di Jalur Mudik

BY HUM IN No comments

Awas macet pasar tumpah! (source: tempo.co)
Lebaran sebentar lagi. Persiapan untuk perjalanan mudik sudah mulai dilakukan. Untuk pemudik jalur darat, perlu diwaspadai titik-titik rawan kemacetan, salah satunya yang diakibatkan oleh adanya pasar tumpah di sepanjang jalan.
Berikut saya rangkum dari berbagai sumber, daftar pasar tumpah di beberapa jalur mudik di Jawa Barat - Jawa Tengah. Bisa dicatat dan diperhatikan masing-masing hari pasaran sehingga kita bisa memilih waktu yang tepat atau alternatif jalur lain untuk menghidari kemacetan.
Area Cirebon
Pasar Tegalgubug, Arjawinangun : Selasa dan Sabtu
Pasar Minggu di Palimanan : setiap hari, Minggu padat
Pasar Pasalaran di Plered : setiap hari
Pasar Kue Weru : setiap hari
Pasar Mundu : setiap hari, Selasa padat
Pasar Gebang : Rabu dan Jum'at
Pasar Losari : setiap hari, Rabu padat
Pasar Celancang : Jumat
Pasar Ciledug : Sabtu
Pasar Sumber Jaya (Panjalin, batas Cirebon-Majalengka) : Senin dan Kamis
Karawang - Indramayu
Pasar Johar
Pasar Cikampek
Pasar Ciasem
Pasar Sukamandi
Pasar Pusakanagara
Pasar Karangampel
Pasar Bangkir
Pasar Jatibarang : Minggu dan Rabu
Pasar Patrol
Pasar Bugel
Pasar Sukra
Pasar Parean
Pasar Eretan
Kabupaten Brebes
Pasar Losari
Bulakamba
Dermoleng, Ketanggungan
Linggapura
Pasar Induk Brebes
Pasar Taraban, Paguyangan
Semua pasar itu riuh pada pukul 06.00-10.00 WIB. Jika ingin menghindari kemacetan, pemudik dari arah Jakarta yang ingin menuju Jawa Tengah, dianjurkan untuk melewati lokasi pasar tumpah tersebut diatas jam 12 siang, saat pasar berangsur-angsur sepi.
Untuk musim mudik tahun ini, arus jalur Pantura akan terpecah karena sudah dibukanya Tol Cipali sehingga tingkat kepadatan secara teoritis akan relatif berkurang.
Kabupaten Majalengka
Pasar Prapatan : Senin, Kamis dan Sabtu
Pasar Ciborelang : Rabu
Pasar Tanjungsari, Sumedang
Pasar Cimalaka
Pasar Jatiwangi
Untuk menghindari pasar tumpah di Kabupaten Majalengka, pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi dari arah Bandung menuju Jawa tengah, dapat mengambil jalur Sumedang-Tomo-Kadipaten- Majalengka kota-Sukahaji-Rajagaluh-Sumber-Cirebon.
Kabupaten Bandung
Pasar Banjaran,
Pasar Pangalengan
Pasar Ciparay
Pasar Dayeuhkolot
Pasar Majalaya
Pasar Baleendah
Kabupaten Tasikmalaya
Pasar Ciawi
Pasar Manonjaya
Pasar Karangnunggal
Pasar Sukaraja
Pasar Singaparna
Kota Tasikmalaya
Pasar Wetan
Pasar Pancasila
Pasar Cikurukbuk
Pasar Lama
Pasar Indhiang
Yogyakarta-Purworejo
Pasar Sentolo: Pahing dan Wage menurut penanggalan Jawa
Pasar Temon : Senin dan Kamis
Jalur alternatif (melewati Jalan Daendels)
Pasar Jangkaran, Temon : Selasa dan Jumat
Pasar Kranggan, Galur : Kliwon
Pasar Brosot, Galur : Pon dan Legi
Sukorejo - Magelang
Pasar Sukorejo : Wage
Pasar Ngablak
Pasar Kaponan (Pakis)
Pasar Tegalrejo
(jalur Magelang-Kopeng-Salatiga)
Pasar Krasak
Pasar Salaman
Pasar Tempuran
(jalur Magelang-Purworejo)
Pasar Muntilan
(jalur Magelang-Yogyakarta)
Pasar Payaman
Pasar Secang
(jalur Magelang-Semarang)
Solo-Jogja
Pasar Kraguman,Jogonalan
Pasar Srago, Klaten Tengah
Pasar Delanggu
Pasar Tegalgondo, Wonosari
Pasar Bonyokan, Jatinom
Pasar Pedan
Pasar Bayat
Pasar Wedi
Pasar Jongke
Pasar Kadipolo
Pasar Kembang
Pasar Harjodaksino
Pasar Gede
Pasar Nusukan
Pasar Mojosongo
Pasar Joglo
Pasar Kleco
Pasar Legi
Pasar Ayam
Pasar Gilingan
Pasar Sangkrah
Pasar Rejosari
Pasar Gading
Peta Pasar Tumpah (source: gmap screen shot)
Demikian rangkuman beberapa pasar tumpah yang menjadi potensi kemacetan di sepanjang jalur mudik. Jika ada informasi yang berbeda mengenai hari pasaran yang ada, silahkan untuk memberikan update informasinya. Perjalanan malam hari atau setelah jam 12 siang akan mengurangi potensi terjebak kemacetan akibat pasar tumpah. Pasar tumpah biasa mulai beroperasi jam 03:00 dini hari sampai dengan menjelang jam 12:00 siang hari.
Semoga bisa menjadi pencerahan untuk antisipasi kondisi macet saat mudik nanti. Have fun go mudik...ceriaa..!!
Salam,
HUM

Referensi :