Wednesday, February 17, 2016

Karena LGBT Kami Ada dan Menyatu Bersama

BY HUM IN , , No comments

Love LGBT (source: dreamstime.com)

Maraknya LGBT saat ini mengingatkan saya pada masa lalu. Meski istilah LGBT baru trend saat ini, hal ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Dengan perkembangan saat ini, sudah bukan hal yang asing lagi orang secara terbuka dan terang-terangan memproklamirkan diri sebagai kaum LGBT. Melalui tulisan ini saya coba untuk terbuka dan jujur cerita tentang masa lalu yang berhubungan dengan LGBT. Dan ini adalah kisah nyata saya.

Terlahir sebagai anak bungsu dari 6 orang bersaudara dengan jarak lumayan jauh dari kakak membuat saya menjadi sosok kecil yang sangat dimanja. Tiga orang kakak perempuan hampir sebaya 1-2 tahun dengan jarak 7 tahun lebih dari saya membuat saya kecil bak boneka buat mereka. Masih teringat di kepala ini bagaimana saya ikut serta dalam permainan mereka. Permainan perempuan. Mulai main boneka, masak memasak atau pun dokter-dokteran. Dan sialnya,  saya yang selalu jadi objek permainan mereka.

Meski terlahir dengan jelas punya belalai ala Shin Can, tubuh mungil dan muka imut membuat penampilan sosok kecil saya lucu dan ngegemesin. Bahkan tetangga memanggil saya dengan sebutan 'Cah Ayu'. Dandanan ala anak perempuan dengan bedak dan lipstik menjadikan saya objek eksperimen kakak-kakak dan teman-teman perempuannya. Tidak terbersit sedikit pun perasaan aneh dengan perlakuan kakak-kakak saya tadi. Yang ada hanyalah rasa senang dan gembira bermain bersama tertawa lepas bahagia.

Itulah sekelumit gambaran masa kecil saya dulu. Kita skip perjalanan masa remaja saya. Langsung saya masuk ke masa kuliah di Jogja, kost sendiri jauh dari orang rumah. Apakah masa lalu saat saya kecil masih terbawa sampai masa dewasa memasuki masa kuliah? Jawabannya tentu saja. Yang pasti bahkan sampai sekarang pun masih menyisakan wajah imut ini #nyengir. Lalu apa hubungannya dengan LGBT? Seberapa jauh sepak terjang saya berikutnya di dunia LGBT? Mari kita simak cerita selanjutnya.

Saat memasuki masa kuliah, saya hidup mandiri dengan tinggal di tempat kost, meski jarak rumah tidak terlalu jauh dari kampus, kira-kira ditempuh selama 1-1.5 jam perjalanan dengan motor ala pembalap. Satu kost sesuai ingatan saya ada 11 kamar yang semua adalah laki-laki. Singkat cerita ada salah satu teman kost saya, asli dari Jombang. Teman saya ini terpaut kurang lebih 2-3 tahun di atas saya. Dia mengambil kuliah Fakultas Hukum di salah satu perguruan tinggi di Jogja. Saat itu periode tahun era millenium. Teman saya ini sedang menyelesaikan tugas akhirnya. Pada suatu hari sambil santai di sore hari kita ngobrol di teras kamar. Dia cerita tentang tugas akhirnya yang ternyata mengambil judul tentang bagaimana perilaku kekerasan yang terjadi pada kaum LGBT ditinjau dari aspek hukum. Tema yang cukup aneh, bukan? Tapi begitulah kenyataannya. Teman saya ini coba mencari referensi dari berbagai nara sumber terkait tugas akhirnya. Sedikit mengernyitkan dahi saya coba berpikir untuk membantu teman saya ini. Saya teringat punya satu teman perempuan yang kuliah di Fakultas Psikologi dan cukup aktif di kegiatan mahasiswa. Mungkin bisa membantu sebagai referensi nara sumber untuk teman saya tadi.

Akhirnya setelah janjian, pada suatu hari selepas maghrib, kami berdua meluncur di atas motor kesayangan menuju tempat kost teman perempuan saya tadi. Gayung bersambut. Ternyata teman perempuan saya ini cukup aktif di unit kegiatan mahasiswa dan ikut dalam berbagai aktivitas penyuluhan HIV-AIDS. Diskusi panjang mewarnai pertemuan kami malam itu dan berlanjut dengan janjian ketemuan berikutnya. Kali ini atas saran teman perempuan saya tadi,  dia akan ajak salah satu teman laki-lakinya yang lebih dalam terlibat dalam membahas dunia LGBT.

Seperti rencana sebelumnya akhirnya kita ketemuan lagi, kali ini jadi berempat. Diskusi seru kembali mewarnai pertemuan 8 mata malam itu. Di situ juga saya pertama kali tahu dan baca sebuah majalah kaum LGBT yang berjudul 'Gaya Nusantara'. Berbagai ulasan dan kehidupan kaum LGBT dibahas di situ. Teman kost saya begitu senang dan antusias karena apa yang dia inginkan untuk bahan tugas akhirnya bisa didapat. Karena kita berempat dan teman kost saya tadi menemukan teman diskusi yang seru, akhirnya perbincangan terbagi menjadi dua kubu. Saya lebih banyak ngobrol bareng teman perempuan anak Psikologi tadi. Obrolan ringan yang ternyata cukup seru mewarnai waktu. Berbagai eksperimen mulai dari coba tes kepribadian,  menggambar pohon, gambar orang dan permainan anak Psikologi yang lain saya coba. Beberapa hasilnya membuat teman perempuan saya terbengong-bengong.

Pertemuan-pertemuan berikutnya berlangsung beberapa kali,  dengan format yang sama saya menemani dan ngobrol dengan teman perempuan Psikologi tadi. Ntah sadar atau tidak perasaan nyaman ngobrol dan bertemu itu menjadi sebuah aktivitas yang saya tunggu-tunggu. Bahkan ketika teman kost saya tidak butuh untuk ketemu diskusi, saya tetap cari-cari alasan untuk datang ke tempat teman perempuan Psikologi tadi, dengan berbagai macam alibi tentunya.

Lalu akhirnya bagaimana? Bagaimana hubungan dengan LGBT tadi? Yup, bagi Anda yang sudah membaca kisah saya di '3 Kali Hamil Akibat Merayakan Vakentine' tentu sudah bisa menebak kisah lanjutannnya. Gadis Psikologi tadi adalah sosok yang ada di cerita itu, yang akhirnya hamil 3 kali akibat perbuatan saya #nyengir.

Yup.. Sosok gadis Psikologi tadi adalah pendamping hidup saya saat ini. Dan tepat hari ini,  17 Februari, 15 tahun yang lalu kami jadian. Sepotong coklat menjadi senjata saya untuk menembaknya. Dan saya meski punya masa lalu sebagai 'Cah Ayu', sosok anak kecil imut yang sering didandani ala perempuan oleh kakak-kakak saya adalah seorang lelaki tulen yang gagah perkasa. Sosok Ayah sebagai pengayom keluarga dan 2 kakak laki-laki yang siap setiap saat untuk maen bola atau berantem membuat jiwa laki-laki saya tetap mendominasi, dibuktikan dengan hasil 3 orang krucil lucu yang mewarnai hari-hari bahagia kami. Dan semua itu ada dan kami menyatu bersama karena LGBT.


Salam,
HUM

*dedicated to My Beloved.... Hari ini kita jadian,  Ma....!! :)


Tuesday, February 2, 2016

Hati-hati Bagi Anda Pemilik Mobil Sedan

BY HUM IN No comments

Pamer mobil habis dipoles 


Punya teman yang menggeluti dunia MLM? Pernah lihat foto mereka bergaya di depan mobil kerennya untuk menunjukkan hasil kerjanya? Pernah tahu juga posting mengenai foto-foto mereka yang ternyata di depan mobil orang? Entah benar atau tidak postingan itu tapi yang pasti saya menghindari untuk foto-foto di depan mobil sendiri,  pasti dianggap hoax...hahaha..

Boleh dibilang saya adalah penikmat kenyamanan. Dari mobil pertama dulu dan yang sekarang dipakai harian menggunakan type sedan. Mobil jenis sedan sering dianggap dan diposisikan sebagai mobil mewah.  Dan anggapan inilah yang membuat banyak kejadian konyol menimpa saya. Mobil saya sih sebenarnya tidak terlalu bagus,  biasa saja. Indikasinya lebih karena tampang saya yang terlalu pas-pasan,  pas dan meyakinkan duduk di kabin sopir. Nasib #nyengir

Jadi ceritanya suatu malam pulang kerja iseng-iseng mampir ke tukang martabak di pinggir jalan, oleh-oleh buat anak bini di rumah. Dengan cekatan tukang martabak yang masih muda itu memulai aksinya.  Ngobrol sana sini, akhirnya selesai pesanan dibungkus.  Nah...pas serah terima martabak,  si penjual melontarkan kata-kata mutiaranya,  "Mas,  kalok ada lowongan nyupir kayak sampeyan kabarin ya,  bosen juga jualan martabak,  capek dapetnya segini-segini saja."
"Ohh...ok deh.." #mlongo trus ngeloyor ngemplok martabak spesial dua telor

Yang paling sering kejadian adalah pada waktu isi bensin. Minta struk di pom bensin merupakan kebiasaan wajib saya,  alasannya bisa baca di sini ni..
Nah,  efeknya ya itu...dituduh buat klaim ke Boss,  sampek ditawarin struk dengan nilai lebih besar #iya deh

Yang lucu lagi #hahaha...pas kemaren ban kiri depan kok indikator anginnya merah,  akhirnya belok ke tukang ban nitrogen di pom bensin. Cek ternyata ada paku gedhe nancap. Prosesi pencabutan dan penambalan dengan cepat dieksekusi. Beres.
Ehh..tanpa angin tanpa hujan,  tukang tambalnya ngomong sambil pegang paku pembocor tadi,  "Mas,  ini pakunya mau dibuang di sini atau dibawa buat bukti ke Boss?" 
Mak #jleb.. Serasa seribu paku menusuk dalam ke jantung ini.

Kejadian lain pas mau ganti ban yang dah botak. Mampirlah ke salah satu toko ban. Disambut senyum lebar si engkoh yang langsung tunjuk sana sini ban yang cocok. Pas giliran tanya harga, jawaban meyakinkan kekuar dari mulut lebar si engkoh, "Owe kasih murah ni, owe potong 25%, ntar kwitansi owe kasih harga belum diskon,  lumayan tu buat lapor ke Boss." 
#langsungsalto

Karena baik hati dan tidak sombong, kadang pas pulang kerja ada yang ikutan nebeng. Waktu itu masih pakai mobil silver, ada yang ikut nebeng turun di jalan raya depan. Nah, pas turun seperti biasa say hello. Pas mau jalan lagi, lha kok tiba-tiba pintu mobil belakang ada yang buka trus duduk manis di belakang. Saling pandang sejenak. Bengong.
"Ehh..maaf, saya pikir ini tadi taxi.." kata sang penumpang gelap tadi sambil nyengir turun lagi.
Hehh...bayar dulu kali...tarip buka pintu #hadeh

Pernah satu kali ada agenda meeting di salah satu gedung megah di Sudirman Thamrin sono. Agenda meeting jam 1 siang. Datang agak awal langsung masuk parkiran gedung naik berkelok. Cari posisi parkir dekat dengan mushola. Turun, langsung ke mushola sholat dhuhur dulu. Cukup ramai di situ orang pada ngobrol. Setelah selesai sholat,  sambil pakai sepatu ikut nimbrung obrolan. Cukup lama ngobrol sana sini sampai akhirnya ada satu orang yang nyeletuk, "Mas, Boss meeting masih lama ya? Kalok mau tidur-tiduran di belakang situ ada ruang tunggu sopir."
Langsung deh pengen tiduran #tutupmata

Ada juga cerita teman yang mirip-mirip nasibnya. Ceritanya pas liburan sama anak istri, di jalan dia terlibat tabrakan beruntun, untung kondisi nggak begitu parah. Karena posisi mobilnya di tengah,  moncong mobil sempat kebentur mobil depan. Turunlah kawan satu ini. Yang ditabrak nggak terima dan minta ganti rugi yang langsung di iya in sama kawan saya tadi karena memang merasa salah agak melamun tadi. Lawan bicaranya malah bengong, "nggak tanya majikan dulu tu di dalam?" #senasib

Dari semua pengalaman yang sudah terjadi...terjadilah. Tak ada satu pun yang saya coba lakukan klarifikasi,  ntar malah suruh bawa Boss sebagai barang bukti #nyengir. Tapi untungnya masih ada satu kisah yang sedikit membuat besar hati #senyum.

Ceritanya pas ada outing bareng ke daerah Lembang. Acara nginep semalem trus mau pada lanjut jalan-jalan Sabtu siangnya. Karena Sabtu pas ulang tahunnya si Kakak kedua,  akhirnya biar lebih fleksibel berangkat dengan mobil sendiri. Pada saat menyusuri Cipali, ehh..ketemu sama bus rombongan. Akhirnya ikut deh menginthili di belakang. Pas masuk kota Subang,  selepas lampu merah tiba-tiba bus di stop Polisi. Akhirnya ikut menepi juga di depan bus. Sopir bus turun dan ngobrol dengan Pak Polisi, sempat nunjuk-nunjuk ke mobil saya juga. Ternyata bus/truk tidak boleh langsung masuk dalam kota,  harus mutar ke lingkar luar. Dan akhirnya bus cuma disuruh putar balik dan tidak ditilang atau diminta duit sama Pak Polisi. Usut punya usut,  kata sopir busnya Pak Polisi agak ngeper karena bus dikawal mobil sedan. Hahahaha...ternyata cukup ampuh juga ya mobil saya,  apalagi mobil hitam pas kinclong habis di poles penuh keringat tadi pagi, plus plat nomer 2 digit bikin tambah ngeper tu Pak Polisi, dikira mobil menteri kali...mentri hewan. Untung saya tetep di mobil, kalok pakai acara turun bakalan ilang wibawanya #nyengir

Kadang memang serba susah sih punya style pembalap gini,  apalagi kalok pas bareng bini. Bini duduk di belakang sudah jelas tuduhan orang. Terdakwa #Sopir.
Giliran bini duduk di samping depan dibilang sopir kurang ajar,  berani nggodain majikan. Nasib #nyengir


Salam,
HUM

Sunday, January 17, 2016

Polisi Stylish dan Teroris Modis (Filosofi CD Bolong)

BY HUM IN , No comments



Sudah pada lihat foto-foto teroris dan polisi yang sedang beraksi pada teror bom Sarinah kemarin,  kan?

Polisi keren dan stylish dengan sneakers Gucci dan Adidas serta tas selempang Coach menjadi perbincangan seru dan trending topic di media sosial. Belum lagi sosok teroris dengan kaos dan celana jeans branded serta topi Nike benar-benar di luar bayangan sosok teroris yang mainstream,  berjenggot tebal,  celana cingkrang,  tutup kepala dan rompi penuh geranat bergelantungan dengan tubuh penuh lilitan kabel bom.

Eittss..tunggu dulu,  itu tampilan luar dari sosok sosok di atas,  bagaimana dengan dalemannya? Kita tidak tahu kan kalau ternyata misalnya Polisi keren itu pakai CD bolong...#ehh
Langsung deh pada ilfill para abege yang naruh hastag #kaminaksir #hihi

Tanpa mengurangi rasa prihatin dan turut berduka kepada para korban atas kejadian teror bom Sarinah kemarin,  saya juga sedang tidak ingin membahas tentang kasus ini tapi jadi lebih tertarik pada daleman bolong tadi #hihi

Saya jadi ingat beberapa tahun silam saat mengalami kecelakaan agak lumayan cukup parah sekali sehingga menyebabkan tak sadarkan diri atas kejadian tersebut. Saat tersadar pertama kali dan mata ini terbuka melihat ke atas langit-langit, putih. Sekeliling tirai, putih. Dalam hati langsung bergumam, "Wah..gw di rumah sakit nih. Berarti habis kecelakaan.. "

Aksi sepontan selanjutnya adalah melihat sekujur tubuh. Badan setengah telanjang menyisakan celana dalam,  berganti baju pasien yang terbungkus sekedarnya.  Darah masih terlihat berceceran. Tangan kiri mati rasa,  dibungkus sesuatu. Ohh..mungkin patah. Muka tebal dan baal meski mata masih bisa melihat sempurna.

Kondisi saya yang sebenarnya saat itu adalah tangan kiri patah dengan pergelangan tangan dislokasi.  Muka bonyok dengan tulang pipi pecah dan pendarahan di dalam. Cukup serius, kan? Ya iya lah,  karena aktivitas selanjutnya saya mesti masuk ruang operasi untuk reparasi itu semua dan akhirnya pulih ganteng lagi seperti sediakala #uhuk

Tapi kondisi itu semua bukan yang terlintas pertama di pikiran. Yang muncul pertama kali adalah,  "Gw nggak pakai CD bolong, kan ya.?" #nyengir

Mau ditaruh dimana coba muka imut ini saat tadi suster cantik nolongin. Sobek baju dan celana luar trus ternyata liat saya pakai CD bolong. Syukurlah saat kejadian itu saya pakai daleman yang cukup beradab.

Oke...cukup ya bahas CD bolong sayanya, kita coba ambil refleksi dari kisah daleman saya tadi. Saya dan kebanyakan orang termasuk Anda tentunya sependapat bahwa berpakaian yang bagus agar terlihat baik di mata orang lain yang melihatnya. Lalu bagaimana dengan pakaian dalam yang tidak terlihat oleh orang lain? Kadang saya dan kebanyakan orang termasuk Anda berpikir, " Ahh nggak papa lah pakai daleman bolong, nggak ada yang lihat juga."

Lalu bagaimana dengan cerita kasus saya yang kecelakaan tadi? Tentu tidak berharap kan ada musibah yang menimpa,  sama seperti para korban bom Sarinah. Tapi kasus saya kecelakaan dan juga bom Sarinah tadi hanya Tuhan yang tahu. Saya tidak bisa menyiapkan CD terbagus saya karena tahu bahwa akan terjadi kecelakaan dan akan ada suster cantik yang membuat hampir polos tubuh ini.

Secara harfiah pemakaian daleman yang baik merupakan hal yang bagus untuk kita terapkan. Filisofinya lebih dalam lagi. Jika kita selalu ingin terlihat baik di mata orang, berbuat baiklah seutuhnya bukan hanya tampak luarnya saja. Kita tidak tahu kapan Tuhan akan menelanjangi kita di hadapan orang lain.

So... Buang segera CD bolongmu.. Jangan sampai menahan sakit karena malu sama suster cantik #nyengir

Salam,
HUM

Saturday, January 16, 2016

Panggung Sandiwara Teror Bom Sarinah

BY HUM IN , , 4 comments



Teror bom yang mengguncang Ibukota beberapa hari yang lalu menyisakan duka,  kesedihan dan komentar dari berbagai kalangan. Tanpa mengurangi rasa hormat dan berduka terhadap para korban dan keluarga,  saya coba coretkan tulisan ini.

Sebuah panggung sandiwara bisa kita lihat dari peristiwa teror bom di Sarinah ini. Jika disebut sandiwara tentunya melibatkan aktor-aktor di dalamnya,  bukan? Coba saya ulas satu-satu siapa saja pemerannya.

1. Teroris
Dari foto-foto hasil reportase para wartawan di lokasi memperlihatkan sosok teroris yang ada pada kejadian tersebut.  Yang cukup menonjol atau kita sebut teroris utama adalah seorang pemuda dengan dandanan masa kini.  Kaos dan celana jeans branded,  topi dengan logo Nike dan sepatu sport baru. Iklan terselubung dari American Branded.  Kurang cocok menggambarkan sosok seorang teroris. Akan lebih meyakinkan jika sosok teroris tadi berjenggot,  celana cinkrang,  pakai rompi bergelantungan granat dan tubuh penuh lilitan kabel bom.

Gaya pegang pistol juga menunjukkan seorang amatiran,  bukan teroris pro.  Sayang sekali dengan sekian banyak sasaran tembak di sekelilingnya bakalan meleset dan salah sasaran karena fokus tembakan ngawur.

Teroris yang akhirnya meledakkan diri di samping mobil juga kurang dramatis. Akan lebih heroik jika dia berlari ke arah kerumunan massa kemudian diberondong senapan mesin dari polisi sebelum akhirnya bom meledak menewaskan dirinya.

2. Polisi
Polisi yang baku tembak dengan teroris ada yang merupakan polantas.  Lebih meyakinkan jika polisi anti teror yang berdatangan ke lokasi,  lengkap dengan senjata laras panjang,  rompi anti peluru dan  masker wajah. Bukan polisi-polisi keren  bergaya stylish dengan sneakers Gucci dan Adidas,  tas slempang Coach, yang semuanya langsung bisa dicari tahu berapa harganya. Pesan sponsor lagi-lagi mewarnai kostum sang polisi keren.

Belum lagi pesan sponsor dari brand Toyota sebagai mobil yang dipakai untuk perlindungan para polisi saat baku tembak dengan teroris,  padahal penonton di sekelilingnya berkerumun dengan tenangnya tanpa pengaman apapun.

Mana sniper yang bertugas melumpuhkan teroris dan melindungi rekannya dari jarak jauh? Yang ada adalah polisi superhero dengan pakaian preman yang membuat bias mana polisi mana teroris.

3. Pak Jamal
Pak Jamal, tukang sate yang tetap tenang melayani pembeli dalam radius yang tidak jauh dari lokasi sempat mendapat sorotan kamera. Belum lagi tukang kopi dan pedagang asongan lainnya yang dengan enaknya mondar mandir lokasi,  semakin mengaburkan esensi sebuah aksi terorisme.

4. Presiden
Presiden dan para pejabat yang datang langsung ke lokasi hanya beberapa jam setelah aksi teror.  Jelas-jelas bukan waktu dan area steril untuk dikunjungi orang nomor satu di negeri ini,  tanpa body armor dan pengawalan yang ketat,  cukup fotografer kenegaraan yang selalu menempel. Tapi ceritanya tetap berlanjut dengan aman tanpa kejadian yang berpotensi membahayakan Presiden, area kotor yang steril.

5. Fotografer
Para fotografer dari media beneran maupun dadakan bermunculan mengabadikan momen teror tersebut. Video rekaman dari ponsel maupun CCTV mengabadikan setiap adegan yang ada. Sosok teroris dan polisi ganteng tidak akan jadi trending topic tanpa bantuan mereka.

6. Figuran
Orang-orang yang berkerumun menonton lokasi,  berlarian cerai berai ketika ternyata di dekatnya ada teman teroris,  kemudian berjajar rapi menonton di belakang aparat yang sedang baku tembak dengan gagahnya melawan teroris. Belum lagi figuran lain yang ikut berselfie ria masuk ke police line TKP. Sungguh sebuah cerita yang tidak masuk akal untuk sebuah drama terorisme.

7. Komentator
Media tidak kalah hingar bingar meramaikan pertunjukan panggung sandiwara ini. Broadcast message berputar antar group media sosial dengan gencarnya. Banyak yang melenceng dari perannya,  merasa sebagai penyampai berita aktual. Bumbu-bumbu berita bertebaran untuk menambah sensasional alur cerita.


Ya.... Semua hanyalah sebuah panggung sandiwara. Saya dan Anda semua adalah aktor dan aktris di dalamnya. Dunia hanyalah sebuah panggung sandiwara,  kita tidak bisa menolak scenario dari Yang Maha Kuasa. Semua kisah di atas tidak akan terjadi tanpa campur tangan-Nya.

Entah cerita apalagi yang akan mewarnai episode selanjutnya.  Apakah akan ada sekuel lanjutan atau berganti lagi dengan genre cerita yang lain? Kita coba nantikan saja dengan tetap optimis dan selalu berdoa untuk kejayaan negeri ini.

Berbagi untuk saling melengkapi karena hidup bisa berkali-kali sedangkan mati hanya satu kali..

Salam,
HUM






Catatan kaki:
*anggap tulisan di atas dari seorang kritikus film, sayangnya kejadian ini adalah nyata bukan sebuah film,  jadi abaikan kritikan dari kritikus film abal-abal di atas #nyengir

Friday, January 1, 2016

Tentang 69HUM.com

BY HUM IN , 5 comments

Sebut saja saya HUM, panggilan inisial yang melekat ketika saya beranjak dewasa. Saat masa anak-anak yang begitu lucunya sampai masa remaja yang sedemikian cerianya, tidak pernah terbersit sekalipun panggilan HUM, tapi yang namanya takdir siapa yang bisa menolaknya kan..?!

Demi mewujudkan resolusi tahun 2016, setelah dipikirkan dengan sesama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dan untuk memenuhi semangat kekinian, maka dengan sangat terpaksa mengudaralah blog ini dengan penuh perjuangan.

Kenapa 69HUM.com?
Karena menjadi nomer 1 sudah terlalu mainstream dan egosentris serta sedikit bau amis. Kalau Anda punya persepsi sendiri tentang angka 69, silahkan berimajinasi sendiri karena saya bukan seperti yang Anda bayangkan.

69 mempunyai arti yang sangat tinggi secara filosofi, filosofi saya. Simbol Yin Yang dengan 2 bagian hitam putih dengan membentuk angka 69 tentu sudah tidak asing buat Anda. Kalau masih belum bisa membayangkan bagaimana simbol Yin Yang,  coba Anda tanya pada salah satu Amoy yang membayangkan saya tadi di atas,  kadang di bawah juga sih. Yin Yang mempunyai filosofi sebagai bentuk keseimbangan dalam kehidupan,  saling berpasangan dan membuat sebuah sinergi yang menghasilkan sebuah kekuatan.

Karena simbol Yin Yang juga terlalu mainstream,  saya memilih simbol sepasang sandal jepit untuk logo blog ini,  69HUM.com, berbagi untuk saling melengkapi. Filosofi sandal jepit bahkan melebihi Yin Yang.  Kalau Yin Yang sebagai bentuk keseimbangan untuk menghasilkan kekuatan, maka sandal jepit selain simbol keseimbangan saling berpasangan juga mencerminkan sebuah filosofi sebagai pijakan bersama untuk menuju sebuah titik target dan melangkah lagi ke titik selanjutnya lagi...lagi...dan lagi...begitu seterusnya. Berbagi untuk saling melengkapi karena hidup bisa berkali-kali sedangkan mati hanya satu kali.

A Journey of a thousand miles begins with a single step.
Cengkeram erat dan jepit sandalmu...
Capai titik puncak dan raih klimaksmu...!!

Salam sandal jepit,
HUM


Wednesday, November 25, 2015

Kenapa Pindah Dokter atau Rumah Sakit?

BY HUM IN , No comments

Tenaga Medis (Source: shiftindonesia.com)

Kemarin saat si Jagoan Kecil sakit mata, saya segera bawa ke dokter spesialis di RS yang biasa kami kunjungi. Tapi ternyata kali ini sedikit kecewa, sampai di sana ternyata dokter baru saja selesai praktik. Bagian pendaftaran sempat bertanya, "tadi belom daftar dulu ya, Pak?" Dengan tampang sok cool saya jawab, "kalau dari tadi mBak angkat telpon, saya pasti sudah terdaftar dan pesan ke mBak minta Pak Dokternya tunggu sebentar, apalagi saya datang sebelum jadwal dokter berakhir lho..!?" Kebetulan saat itu telpon di sampingnya sedang berdering dan si mBak dengan malu-malu sambil meringis mengangkat telpon yang sudah berdering dari tadi.

Karena dokter praktik berikutnya masih lama dengan embel-embel belum bisa dipastikan praktik atau tidak, akhirnya saya segera memutuskan untuk pindah RS. Telpon ke salah satu RS terdekat, langsung nyambung, langsung daftar dan langsung meluncur ke sana.

Ucapan saya tadi bukan cuma bluffing atau isapan jempol semata, karena dari 2 jam sebelum sampai RS sudah coba telpon berkali-kali ke bagian rawat jalan RS tadi dan tidak ada yang ngangkat. Dua kali nyambung ke operator kemudian di arahkan ke bagian pendaftaran rawat jalan, sampai telpon mati sendiri tetap tidak ada yang angkat. Istri yang coba telpon juga dari kantor sama saja, nihil. Kebetulan telpon bisa koneksi ke perangkat di mobil sehingga tetap aman berkendara sehingga bahkan sepanjang perjalanan dari rumah ke RS saya coba telpon terus tetap tidak ada yang angkat.

Pada tulisan sebelumnya saya sempat menulis tentang RS dan dokter yang bekerja dengan hati, bisa dibaca di sini (Dok, Bekerjalah dengan Hati) dan di sini (Cara Rumah Sakit Siloam Tangani Pasien BPJS). Hal-hal yang saya tulis itu adalah hal yang membuat kita balik lagi ke RS atau dokter yang sama, tentunya ketika kita membutuhkan pertolongan atau saat sakit saja, karena semua orang tentunya mau sehat, kan?

Tapi dari pengalaman di atas tadi, saya jadi ingat beberapa kunjungan ke RS dan dokter yang membuat kami harus pindah tempat. Apa saja sih hal-hal yang bisa membuat kita berpaling ke lain hati? Saya coba ulas beberapa hal versi saya dari pengalaman pribadi.

Tenaga Non Medis RS yang Kurang Profesional 
Salah satu contoh seperti kasus cerita di atas, pelayanan yang buruk dari tenaga non medisnya. Kondisi pasien bisa bermacam-macam kategorinya. Ada yang gawat darurat butuh pertolongan cepat, hanya kontrol kesehatan pasca sakit atau kontrol kandungan berkala sampai dengan sekedar imunisasi buat anak. Masing-masing mempunyai tingkat urgensi yang berbeda-beda. Fungsi hotline telpon untuk emergency maupun pendaftaran rawat jalan sangat berguna buat pasien. Apa jadinya jika kita sudah coba telpon berkali-kali tapi no respons dan begitu sampai RS ternyata.... Zonk...!?

Untuk pasien yang punya banyak waktu, baik hati dan tidak sombong mungkin akan bersedia menunggu dokter berikutnya datang. Tapi bagaimana jika kondisi emergency? Memang masih ada bagian IGD, jika mau langsung ditangani dokter jaga. Bagi sebagian orang mungkin akan seperti pilihan saya tadi, telpon ke RS lain dah pindah tempat segera. Mungkin tidak balik lagi ke RS tersebut. Lebih gawat lagi cerita-cerita ke orang lain tentang pengalamannya yang kurang bagus seperti saya ini...:D

Manajemen RS yang Buruk 
Manajemen dari RS memang sangat menentukan kualitas pelayanan buat pelanggan. Pernah atau sering harus antri dokter atau obat di apotik RS? Jika antri karena banyak pasien mungkin kita masih bisa maklum, tapi bagaimana kesalnya kita ketika lama menunggu tanpa terlihat banyak antrian? Yang membuat lama bisa jadi masalah birokrasi maupun lambatnya pelayanan.

Saya pernah punya pengalaman "terpaksa kabur" setelah cek dokter karena tidak tahan menunggu selesainya obat dari apotik RS. Lamanya pelayanan ini bukan hanya dialami satu dua orang saja karena konon kabarnya ada juga yang melakukan aksi kabur seperti saya, entah alasannya sama atau tidak. Alih-alih memperbaiki kecepatan pelayanannya, manajemen RS malah menerapkan aturan yang super duper aneh, setiap pasien wajib meninggalkan KTP di pendaftaran dan diambil setelah selesai. Buat jaminan biar nggak kabur, gitu kali ya..?! Untung saya dah keburu kabur dan nggak pernah balik-balik lagi ke situ #hihi

Tarif yang Mahal 
"Murah kok njaluk slamet", begitu mungkin ungkapan sarkastik yang kadang harus kita telan. Biaya medis dan obat-obatan untuk kesehatan kita ternyata mahal harganya. Padahal pemerintah kita sedang gembar-gembor tentang jaminan kesehatan gratis, semoga bisa terwujud ya? Aamiin. Yang saya coba angkat di sini adalah harga obat atau tarif RS yang "lebih mahal" dari seharusnya. Bisa dengan komparasi pelayanan atau kelengkapan alat-alat yang digunakan maupun harga obat-obatan. Dengan mudah kita bisa browsing segera obat-obatan yang ada di resep dokter dan tahu harganya. Pengalaman kami dan beberapa teman di salah satu RS yang pernah saya kunjungi ketika dibandingkan ternyata harga obatnya lebih mahal dan bukan kebetulan di sebelah RS persis ada sebuah apotik umum.

Jadi yang kami lakukan adalah berobat, bayar dokter kemudian ambil resep dan beli di apotik sebelah. Alih-alih mengevaluasi harga obat-obatan di RS tersebut, pihak manajemen malah menerapkan sistem satu pintu, jadi bayar dokter sama obat jadi satu untuk mencegah pasien kabur ke apotik sebelah. Kami pribadi memilih untuk tidak kabur ke apotik sebelah, tapi kabur tidak periksa ke RS itu lagi #hihi. Padahal di RS tadi ada satu dokter anak yang cukup bagus dan komunikatif. Mengenai birokrasi RS dan mahalnya obat-obatan di RS ini pernah kami diskusikan dengan Bu Dokter tersebut yang bingung juga jawabnya #haha. Kabar terakhir Bu Dokter ikut kabur juga dari RS tersebut. Kemarin sempat menyapa saat ketemu di RS yang kami kunjungi saat periksa mata Si Jagoan Kecil.

Fasilitas yang Minim 
Fasilitas di sini bisa saya kategorikan menjadi fasilitas medis dan non medis. Fasilitas medis misalnya peralatan untuk cek dokter maupun lab. Ketika diskusi dengan dokter biasanya kalau perlu kami juga minta uji lab sebagai referensi dan untuk lebih yakin kondisi yang dialami. Hal ini juga mempermudah dokter dalam diagnosa sekaligus bisa jadi bahan diskusi. Fasilitas pendukung medis yang kurang lengkap menjadi salah satu pertimbangan kami untuk pindah ke RS yang lebih komplit. Meskipun kelengkapan sarana penunjang medis juga tergantung dari besar kecilnya tingkat RS.

Fasilitas lain yang masuk kategori non medis misalnya tempat parkir. Dari pengalaman, hampir setiap RS yang pernah kami kunjungi bermasalah dengan tempat parkir. Entah karena saking banyaknya pengunjung atau memang lahan yang terlalu sempit. Pernah pengalaman saat nengokin teman yang lahiran anak, agak shock ketika harus parkir muter-muter naik gedung dengan alur yang sempit dan kapasitas tiap lantai parkir sangat minim. Terlihat tembok di tiap tikungan ada bekas baret-baret kecium bumper mobil #hadeh. Ternyata dari cerita teman yang kami kunjungi, dia memilih parkir di gedung sebelah bukan di RS tersebut meski nginapnya di RS tersebut #loh

Dokter yang Kurang Komunikatif 
Pelayanan pelanggan merupakan kekuatan dari RS meskipun fungsi utama yang lebih berperan pada gilirannya adalah tenaga medisnya baik dokter maupun perawat. Ada pengalaman dulu saat si Kakak masih bayi. Kalau bernapas grok...grok seperti pilek. Kita bawa ke dokter anak di RS dekat rumah. Setelah dapat giliran masuk ruangan periksa, dokter langsung cek ini itu trus tulis ini itu juga...kasih resep tanpa babibu... Sudah....

Lha anak saya ini sakit apa? Kami mau diskusi Dok....bukan minta obat trus...selesai. Bisa jadi setelah minum obat sembuh, tapi edukasi buat proteksi selanjutnya bagaimana? Apa memang mesti ke dokter lagi? Dengan bengong dan memang sudah illfil, kita nggak pengen tanya-tanya lagi. Lihat resep trus browsing, ternyata dikasih obat pilek. Yo wis lah....mungkin flu biasa.

Setelah seminggu lebih kok belum ada tanda-tanda sembuh akhirnya kita konsultasi ke dokter ke RS lain. Dokter kali ini berbeda. Diskusi panjang lebar mewarnai sesi cek Si Kakak. Dari hasil diskusi, diagnosa dokter mengarah ke alergi susu sapi. Dan sekali lagi dokter tidak men-judgement langsung, jadi perlu observasi dan bukan dokter yang akan melihat tapi kita sendiri sebagai orang tua yang akan lebih tahu karena terlibat langsung berinteraksi dengan si Kecil. Ternyata orang tua itu lebih hebat lho dari dokter spesialis sekalipun. Itu kata dokter kami tadi.

Dokter Cowboy - Hajar Bleh.. 
Cerita lain ketika saya masih jomblo, dulu saat awal kerja. Secara history saya punya alergi kulit terhadap lingkungan baru. Hampir sama saat dulu pertama kali kuliah dan kost, kulit tiba-tiba luka sana-sini mengelupas. Singkat cerita datang ke dokter kulit tapi bukan konsultasi kelamin lho ya.. :D

Dengan berapi-api dokter langsung nyerocos. Ini kena serangga. Anak kost ya? Tidur kasur di lantai? Males bersih-bersih? Jarang mandi.? 

Meski pernyataan sang dokter banyak benarnya tapi ya jangan gitu donk, kasih kesempatan pasien buat menjelaskan keluhannya. Karena kurang puas dengan sang dokter beberapa hari kemudian coba ke RS lain. Pas dapat giliran masuk ruangan... Ohh.. No.. Ternyata dokternya sama dengan yang kemarin #tutupmuka. Tapi ternyata sang dokter lupa dengan saya karena langsung beraksi sama, bicara panjang lebar..dan sekali lagi sama persis diagnosanya... Serangga..!! 

Akhirnya coba pindah lagi ke RS lain. Kali ini lebih hati-hati dan teliti melihat siapa dokternya #kalem. Ketemulah dengan dokter spesialis kulit dan kelamin... Ibu Dokter.. :) Dengan ramah dan sistematis Bu Dokter berdiskusi untuk mendiagnosis penyakit saya. Untuk memperkuat diagnosa disarankan untuk melakukan skin test. Dari hasil diskusi dengan Bu Dokter tadi akhirnya sampai sekarang saya tahu trend yang muncul dan bisa mengantisipasi ketika keluhan datang. Sayang masalah yang mesti di cek Bu Dokter tadi bukan kulit di bagian kelamin yak... #ehh

Dokter dan Apotik yang Konservatif 
Pernah saat kami sekeluarga sedang berlibur ke kampung halaman. Tiba-tiba si kakak badannya panas dan mulai muncul bintik-bintik berair di badannya, cacar air. Segera kita bawa ke dokter anak yang buka praktek di rumahnya. Setelah cek ini itu dan karena jelas sakitnya kita tidak banyak diskusi. Resep dari dokter kita ambil di apotik sebelah. Agak aneh ketika mendapati botol sirup obat yang polos tanpa label lagi karena sengaja dilepas, diganti tempelan manual. Kata kakak saya, "itu memang biasa di sini, biar orang tidak tahu itu obat namanya apa dan tidak beli sendiri tapi datang lagi ke dokternya." #duh. Padahal di tutup botol masih ada tulisan kecil nama obatnya yang bisa dengan segera kita cari tahu dengan tanya ke mBah Gugel #hehe.

Masih ada lagi cerita tentang dokter di kampung halaman yang konservatif juga. Ketika "terpaksa" di rawat di kampung, saya coba untuk diskusi dengan dokter tentang progress kondisi saya. Tentu saja berbekal smartphone di tangan berbagai informasi saya coba gali terkait penyakit yang menyerang saya saat itu. Tapi yang terjadi bukan sebuah diskusi seru, dokter senior itu bahkan bilang dengan santainya,"ndak usah percaya apa kata internet, isinya orang ngapusi semua." #waduh. Akhirnya saya dengan sabarnya menunggu saatnya sembuh tanpa pengen diskusi dengan bekal informasi "ngapusi" dari internet #xixi

Dokter tidak Kompeten 
Selain manajemen RS yang bagus serta peranan interaksi antara dokter dan pasien yang sangatlah penting untuk membangun kepercayaan, masalah kompetensi dari tenaga medis juga memegang peranan yang tidak kalah penting. Hal ini bisa kita lihat dari orang yang lebih suka langsung ke dokter spesialis ketika mau konsultasi dibanding ke dokter umum. Orang juga cenderung mencari dokter yang cess pleng, langsung sembuh. Masalah kompetensi ini sangat mudah kita buktikan, ketika dengan gampang dan percaya kita mau buka baju di hadapan dokter. Bagaimana coba kalau saya yang minta seorang gadis untuk buka baju di depan saya..? Bisa dikepruk langsung keluar bintang-bintang seketika.. #meringis

Mungkin masih banyak lagi pertimbangan pasien untuk memilih tenaga medis maupun RS yang akan dikunjungi. Tapi sepertinya cerita di atas sudah terlalu panjang lebar. Jadi saya cukupkan sekian. Kasihan istri kalau terlalu panjang dan lebih kasian lagi buat suami kalau terlalu lebar #ehh #nyengir  

Salam,
HUM


Monday, November 16, 2015

Pahlawan Kemalaman

BY HUM IN , No comments


"Pahlawan" secara etimologi berasal dari bahasa Sanskerta "phala-wan" yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran atau pejuang yang gagah berani.

Pada bulan November ini berturut-turut ada momen yang menggugah semangat kepahlawanan yang telah lama tersimpan di dalam dada ini. Begitu bergeloranya semangat yang membuncah di dalam dada ini sehingga mau tidak mau mesti saya keluarkan dengan penuh heroik lewat tulisan ini. Kita coba simak bersama, ya..

Dengan diiringi hentakan suara melengking Axl Rose melantunkan lagu fenomenal "November Rain", hujan yang menyejukkan mengawali hadirnya bulan November yang ceria ini. Siraman air hujan yang begitu dinantikan terasa masuk menyentuh ke dalam relung jiwa ini..segar..nyess rasanya. Hujan inilah yang dinanti-nanti juga oleh saudara-saudara kita di Sumatera dan Kalimantan sana yang sedang prihatin dengan bencana asap yang melanda. Momen ini juga lah yang membuat saya kembali semakin bersyukur masih dikarunia sehat dan bisa meghirup udara segar yang masih gratis ini. Allahumma shoyyiban nafi’an..Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat. Aamiin...

Momen berikutnya tentu saja adalah tanggal 10 november, Hari Pahlawan. Suasana heroik ala Bung Tomo menjadi trending topik di media sosial. Disusul berikutnya tanggal 12 November sebagai hari Ayah. Dan tidak terasa saat ini saya sudah menjadi seorang Ayah dari tiga bocah lucu yang setiap hari menghiasi warna-warni hidup ini. Dan tanggal 12 November 10 tahun yang lalu persis bertepatan dengan hari jadi ketika dua kasih bertemu untuk memadu janji sehidup saja tapi tidak semati, karena akan terasa konyol kalau kita ditagih janjinya saat sudah mati, trus siapa yang mau nagih coba?

Dan hari ini, tepat tanggal 16 November merupakan hari yang sangat bersejarah buat bangsa ini, sayangnya belum sempat menjadi catatan dalam hari besar nasional untuk merayakannya. Padahal di negeri tetangga sana dijadikan sebagai hari libur nasional ketika sang pemipin bangsanya berulang tahun. Yup, tanggal 16 November ini salah seorang pemimpin bangsa ini merayakan ulang tahunnya. Saya bilang salah seorang pemimpin bangsa karena tentunya bangsa ini terdiri dari jutaan orang sebagai warga negara dan salah satunya saya yang tercatat dalam lembar Kartu Keluarga merupakan Kepala Keluarga, pemimpin bagi keluarga kecil tercinta dengan seorang istri yang cantik #sesuai request dan tiga anak lucu yang soleh dan solehah. Sungguh merupakan sebuah anugerah terindah dari yang Maha Kuasa.

Kalau kita dengar kata "Pahlawan", sebuah arti yang positif langsung menyeruak di dalamnya. Tapi bagaimana jadinya kalau kata tadi kita tambah menjadi "Pahlawan Kesiangan"? Sebuah istilah dengan konotasi yang negatif. Masih menurut KBI, "Pahlawan Kesiangan" mempunyai arti orang yg ketika masa perjuangan tidak melakukan apa-apa, tetapi setelah peperangan selesai menyatakan diri pejuang. Lalu apa arti "Pahlawan Kemalaman"? Silahkan Anda nilai sendiri istilahnya positif atau negatif, tapi saya akan pakai istilah ini untuk menggambarkan diri saya secara positif, tentu saja untuk sebuah pencitraan, mumpung sedang trend.

Kenapa saya sebut Pahlawan Kemalaman? Secara harfiah menurut KBI tadi, tentunya saya ingin menjadi sosok pahlawan bagi keluarga, anak istri tercinta. Sosok yang gagah berani membela kebenaran dan menjadi contoh suri tauladan yang nyata bagi keluarga terutama untuk anak-anak. Secara harfiah juga, pahlawan satu ini ternyata sering harus pulang kemalaman sehingga kadang harus pulang dengan disambut temaramnya lampu teras dengan suara jangkrik yang berlomba bernyanyi. Masuk pintu gerbang kadang seperti maling profesional yang dengan sigap melompati pagar, kutak-katik mengeluarkan kunci cadangan dan pelan-pelan membuka pintu agar tidak mengeluarkan suara yang bisa membangunkan sosok-sosok mungil yang tengah terbuai dalam mimpi indahnya. Sungguh sebuah aksi perjuangan yang heroik dari seorang pahlawan.

Dalam suasana hening malam ditemani suara katak bersautan dari empang sebelah, seringkali saya coba menuangkan isi kepala ini ke dalam tulisan-tulisan yang sangat inspiratif, menurut penilaian saya sendiri tentunya dan minimal menginspirasi buat saya sendiri. Jangan menunggu inspirasi datang untuk menulis, tapi menulis lah maka inspirasi akan muncul dari tulisan kita. Sungguh inspiratif, bukan? Dan salah berapanya saya tidak tahu karena belum dinilai oleh bu guru, tulisan ini terposting di tengah malam ini menyambut pergantian usia yang sangat fenomenal ini. Sungguh fenomenal ketika saya ambil kamera hand phone mencoba selfie melihat ke atas, rambut seperti bulir padi yang mulai menguning. Satu persatu meranggas berguguran, bahkan rambut di lobang hidung tidak ketinggal ikut-ikutan berubah warna menyesuaikan, mimikri.

Biar berimbang tidak selalu melihat ke atas, baiklah saya coba lihat ke bawah. Tertegun ketika melihat gundukan di balik kaos lusuh yang saya pakai malam ini. "Ahh..anak-anak nggodain dengan memasukkan mainannya nih..", sejenak bergumam dalam hati sambil tangan menyusup ke dalam kaos. Ahh...ternyata gundukan lemak di perut yang bersaing dengan mamah-mamah muda yang telat tiga bulan. Musti lebih rajin gowes lagi nih untuk mengembalikan kondisi tubuh six pack yang dulu.....ya..yang dari dulu ada di angan-angan. Mimpii...!

Dan di malam bahagia yang sangat bersejarah ini, ucapan syukur alhamdulillah tidak hentinya saya sampaikan atas karunia-Nya. Karunia keluarga yang bahagia dengan sosok-sosok lucu yang hadir dengan canda tawa mewarnai dan juga sosok cantik yang menemani #sesuai request lagi. Meski kadang harus pulang kemalaman dan bangun kesiangan, pahlawan ini melakukan semuanya dengan tulus dan ikhlas. Kalau ada orang tua yang rela untuk berpuasa demi anak-anaknya kenyang makan, saya bukan lah orang itu.

Kalau ada orang tua yang rela kehujanan dan kepanasan dengan memberikan payung kepada anaknya, itu bukan saya. Saya akan memilih untuk makan kenyang bersama anak istri tercinta. Saya akan memilih untuk mencari payung lagi sehingga kita sama-sama tidak kehujanan dan kepanasan. Saya bukan orang yang rela mati berkoban untuk kebahagiaan keluarga, tapi saya adalah orang yang akan terus berjuang untuk hidup bersama keluarga tercinta, menikmati kebahagiaan bersama. Saya bukan orang yang rela kedinginan dengan memberikan selimut buat anak istri, tapi saya akan pinjam selimut tetangga siapa tahu lebih hangat.. #ehh

Tidak ada kata terlambat untuk menjadi seorang pahlawan bagi keluarga tercinta, meski menjadi seorang pahlawan kemalaman. Semoga bertambahnya usia di sisa umur ini membawa berkah dan kami sekeluarga senantiasa dalam lindungan-Nya. Aamiin..

Hepi b'day to me...salam gelap-gelapan dari Pahlawan Kemalaman.. *nyengir

Salam,
HUM