Thursday, September 19, 2013

Konspirasi Politik di Balik Peluncuran Mobil Murah

BY HUM IN No comments


LCGC: Kebanggaan untuk Indonesia (Pic: otomotif.kompas.com)

Sebagai pengamat sekaligus pelaku dalam lingkaran industri otomotif, saya sedikit tergelitik untuk merangkai benang merah antara pengembangan proyek mobil murah atau istilah asingnya LCGC (Low Cost Green Car) dan LCE (Low Carbon Emission) dengan strategi politik dari para politisi di tanah air. Hal ini tentu saja ketika kita kaitkan dengan terbitnya Peraturan Pemerintah No.41 Tahun 2013 tentang barang mewah kena pajak. Mari kita coba analisa satu persatu bagaimana kaitannya.

Proyek LCGC ini sebenarnya sudah digulirkan dari tahun lalu. Kolaborasi Toyota-Daihatsu bahkan sudah punya master schedule untuk peluncuran mobil murah mereka yang diberi kode D80 di akhir tahun 2012. Dalam setiap proyek peluncuruanline up terbaru masing-masing car maker, strategi pasar pasti merupakan hal pertama yang harus dimiliki oleh setiap produsen mobil. Toyota-Daihatsu sebagai raksasa industri otomotif selalu menempatkan diri sebagai pionir untuk urusan mobil baru. Penetrasi pasar dengan produksi massal dengan jaminan kualitas tinggi danbrand image Toyota merupakan modal kuat untuk mendominasi pasar di setiap segmen.

Tapi dalam proyek LCGC kali ini, sedikit lain dari proyek yang biasanya. Tarik ulur kebijakan pemerintah menjadi salah satu penentu dalam permainan masing-masing produsen mobil. Begitu PP No. 41 resmi keluar pada bulan Juni yang lalu, peta percaturan industri otomotif langsung berubah. Kemunculan mobil murah dari berbagai ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek) secara hampir bersamaan meluncurkan line up masing-masing di bulan September ini. Hal ini sedikit “menyalahi” skenario proyek yang “biasanya” dimana raksasa Toyota-Daihatsu yang membuka pasar di awal kemudian akan diikuti oleh produsen yang lain. Suzuki yang biasanya mengambil porsi sebagai kuda hitam setelah peluncuran duet maut Toyota-Daihatsu, ternyata sudah siap untuk peluncuran mobil murahnya yang berkode YR9. Demikian juga Honda yang bersamaan juga meluncurkan Brio versi LCGC dengan kode 2CF yang akan disusul dengan 2MD dan juga Nissan dengan K2-nya. Padahal “biasanya” Honda tidak akan masuk ke segmen head to headdengan Toyota-Daihatsu dalam waktu bersamaan. Honda lebih mengambil strategi “exclusive” dan “brand minded” dari para penggemarnya dengan konsep luxury dan elegan, bukan produksi massal sejuta umat sehingga tetap mempunyai pasar tersendiri meski harga selalu di atas para pesaing dalam line up yang setara.

Lalu apa kaitannya dengan strategi politik di tanah air?

Seperti yang saya sampaikan di awal bahwa kebijakan pemerintah untuk mengeluarkan PP No.41 tadi lah yang mengakibatkan perubahan skenario proyek dari masing-masing pelaku industri otomotif. Kalau PP No.41 sudah keluar jauh-jauh hari di tahun lalu, urutan skenario peluncuran masing-masing merek tentunya tidak akan jauh-jauh dari “pakem” di atas, tentunya terkait dengan strategi pasar dan kesiapan produksi masing-masing produsen mobil.  Hal ini bisa jadi menguntungkan buat konsumen karena bisa “memilih” tanpa harus menunggu keluarnya model dari setiap produsen. Apakah merupakan sinyal positif bagi para pelaku industri otomotif? Saya bilang bisa jadi malah membuat bumerang bagi masing-masing pelaku industri otomotif. Dengan kebijakan yang tarik ulur dan cukup lama baru diterbitkan, kesiapan para pelaku industri otomotif dituntut kecepatan ekstra untuk segera penetrasi ke pasar, dan kali ini lebih berat karena setiap produsen sudah siap untuk mengeluarkan unitnya secara bersamaan. Artinya perlu strategi dan tenaga ekstra untuk bisa bersaing dengan kompetitor.

Bumerangnya seperti apa?

Dengan keluarnya kebijakan pemerintah, proyek yang cukup lama terkatung-katung harus segera digenjot kapasitas produksinya. Kecepatan akselerasi ini tentunya harus diikuti oleh mekanisme supply chain yang bagus. Kesiapan setiap suppliermenjadi penentu kecepatan akselerasi penetrasi ke pasar. Apa jadinya jika rencana awal investasi sementara hold karena belum keluarnya kebijakan yang kemudian tiba-tiba diluncurkan ketika mendekati 2014? Tentu saja akan terjadi rush productionyang menuntut kecepatan kesiapan sarana dan prasarana penunjang produksi dan bisa jadi efek samping terhadap kualitas terjadi.

Bukan tanpa alasan kenapa PP No.41 sempat tertahan hampir satu tahun dan tiba-tiba diluncurkan ketika mendekati penghujung 2013 menyongsong 2014. Pemilu tahun depan bisa jadi merupakan salah satu alasan di balik tertunda dan terbitnya PP ini. Kontroversi kenapa pemerintah lebih merangkul LCGC yang notabene produksi orang luar dibanding ESEMKA yang produksi anak bangsa menjadi bagian tersendiri dari sebuah strategi politik. Alasan secara logis kenapa pemerintah lebih memilih mengembangkan LCGC ini tentunya cukup beralasan karena jargon ‘mobil murah” tentunya memang harus murah. Pelaku industri di dunia otomotif tentunya lebih siap dengan sarana dan teknologi untuk produksi massal sehingga biaya yang dikeluarkan bisa ditekan rendah. Kalau tetap mengusung ESEMKA sebagai “mobil murah” bisa jadi malah akan menjadi “mobil murahan” karena untuk mencapai kualitas setara dengan pabrikan besar butuh biaya yang sangat tinggi. Jadi dengan menggandeng pabrikan otomotif besar yang sudah berpengalaman, “mobil murah” akan terealisasi yang memang benar-benar murah tanpa mengorbankan kualitas. Hal ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan menengah ke bawah untuk lebih “respect” pada pemerintah sekarang yang “memperhatikan” rakyatnya. Dan tentu saja bisa jadi modal untuk perolehan suara nanti pada Pemilu mendatang.

Kedua kalau kita lihat dari sisi psikologis politik. Pemilihan LCGC bukannya ESEMKA dijadikan peluru untuk mematahkan citra merakyat dari Jokowi. Kalau ESEMKA yang dikembangkan tentunya akan semakin meningkatkan pamor dari sosok Jokowi yang tentunya lawan politik dari penguasa sekarang. Berbagaistatement saling kontroversi dilontarkan baik oleh Jokowi maupun dari kubu pemerintah lewat sang menteri maupun wapres. Kita coba lihat hasil dari permainan politik masing-masing kubu selanjutnya.
Hal berikutnya bisa jadi merupakan strategi bisnis politik. Ijin produksi LCGC yang dikeluarkan tentunya menjadi angin segar bagi para pelaku industri otomotif. Target keuntungan dari setiap unit yang diproduksi menanti di depan mata. Deal politik terhadap bisnis ini bisa saja tercipta antara pengusaha dan pengambil keputusan di pemerintahan. Biaya kampanye menjelang Pemilu yang tidak sedikit bisa jadi menjadi salah satu alat tawar keluarnya kebijakan produksi mobil murah ini. Simbiosis mutualisme atau malah sebuah konspirasi bisnis dan politik mungkin saja tercipta dari kondisi ini.

Sebagai rakyat biasa yang hanya bisa mengamati dan coba merangkai sepotong-sepotong, analisa di atas tentunya minim dengan dasar yang kuat, hanyalah sebuah imajinasi dari kontroversi hati atas labil ekonomi sebagai bentuk statusisasi kemakmuran yang mudah-mudahan tidak menimbulkan konstipasi :D

LCGC sebagai mobil murah ini bisa jadi merupakan produk gagal, terutama bagi orang-orang yang tetap saja tidak mampu menyisihkan uangnya untuk membelinya. Ya..produk gagal…gagal beli.. ^_^

Salam,
HUM

Thursday, September 12, 2013

Analisa Intelijen Terkait Penembakan Polisi yang Misterius

BY HUM IN No comments


Misi Rahasia (pic: ramalanintelijen.net)

Belum lagi tuntas pengusutan kasus penembakan-penembakan polisi yang sebelumnya, Selasa malam (10/9/2013) kembali kita dikejutkan dengan dengan peristiwa penembakan seorang anggota polisi, tepat di depan gedung KPK. Berbagai reaksi muncul baik dari masyarakat awam maupun pihak kepilisian dan juga para pengamat politik tanah air. 

Beredar juga isu yang mengaitkan kasus penembakan ini dengan kelompok jaringan terorisme. Saya sebagai orang awam coba berandai-andai menganalisa dari sudut pandang yang sedikit banyak sulit untuk dipertanggung jawabkan validitasnya, hanya untuk sekedar mengisi waktu sambil ngopi. *senyum

Analisa saya yang pertama dari sudut pandang intelijen, kita coba berfantasi seperti dalam film-film spionase yang penuh dengan trik dan strategi intelijen. Kasus penembakan aparat penegak hukum ini sebenarnya bukan baru terjadi dan beruntun menimpa anggota polisi seperti kasus terakhir ini. Penembakan terhadap aparat beberapa kali terjadi di daerah konflik, seperti Aceh atau Papua. Korbannya sebenarnya sama, aparat penegak hukum. Akan tetapi kalau kita cermati terdapat perbedaan mencolok terlihat dari dua kasus ini. Penembakan di daerah konflik jelas sekali siapa yang bertanggung jawab, dalam arti kata musuh bisa diidentifikasi. Sedangkan kasus penembakan polisi yang terjadi belum lama ini masih gelap siapa musuh yang sebenarnya. Jadi cukup pas kalau kita sebut sebagai Petrus (Penembak Misterius).

Kalau melihat bahwa korban adalah para polisi yang tentunya sudah cukup terlatih, para pelaku tentunya juga “bukan orang biasa”. Analisa secara intelijen ada dua kemungkinan siapa pelaku penembakan ini. Kemungkinan pertama orang “luar biasa” ini berasal dari kelompok  yang cukup terlatih urusan strategi teror, sehingga mungkin sekali merupakan bagian dari kelompok jaringan terorisme. Jika bukti-bukti cukup kuat mengarah ke situ, aparat kepolisian yang tentunya sudah mengantongi daftar jaringan terorisme ini bisa mudah dan segera bertindak cepat untuk meringkusnya.

Kemungkinan kedua jika melihat bahwa pelaku cukup terlatih dan aparat kepolisian belum menemukan titik terang tentang pelaku sampai saat ini, bisa jadi kasus-kasus penembakan ini merupakan bagian dari suatu misi rahasia intelijen. Kalau melihat dari banyak cerita film spionase, kita bisa lihat bahwa antara satu agen rahasia dengan agen rahasia yang lain tidak saling kenal, bahkan bisa jadi tidak kenal dengan siapa “pemberi komando” atas misi yang mereka emban. Dan sangat mungkin ada “special agent” di antara agen-agen rahasia dengan misi yang ada di dalamnya. Jika analisa ini kita kembangkan lebih jauh, tidak menutup kemungkinan “pemberi komando” adalah orang yang memegang peranan cukup tinggi dalam politik dan pemerintahan. Jadi kasus-kasus penembakan yang terjadi merupakan sebuah scenario yang dijalankan untuk memuluskan misi dari sang “pemberi komando” atau bertujuan membuat isu untuk mengaburkan kasus yang terkait dengan sang “pemberi komando” atau bahkan lebih jauh lagi stabilitas negara. Kalau hal ini yang terjadi, sudah bisa dipastikan aparat kepolisian akan sangat sulit untuk bisa membongkarnya. Bisa jadi tahu tapi tidak punya “kuasa” untuk akses lebih jauh, sehingga salah satu cara yang dilakukan adalah dengan memunculkan “kambing hitam” sebagai finalisasi dari misi setelah misi dari sang “pemberi komando” selesai, mission accomplished. Korban dari aparat kepolisian merupakan collateral damage dari misi rahasia yang sudah di-scenario. Turut berduka dan prihatin terhadap korban dan keluarga yang ditinggalkan.

Analisa kedua dari sudut pandang psikologis. Dibandingkan dengan TNI yang sama-sam terlatih dengan urusan hankam, Polisi mempunyai hubungan psikologis yang lebih dengan masyarakat. Aparat kepolisian dalam tugasnya akan bersentuhan langsung dengan masyarakat, seperti misalnya Polisi lalu lintas. Jadi apa kaitannya dengan kasus penembakan ini?

Citra Polisi bisa kita katakan “paling jelek” di mata masyarakat dengan berbagai pengalaman yang terjadi di lapangan. Oknum Polisi yang dengan terang-terangan bertindak sebagai “preman berseragam” dalam menegakkan disiplin berlalu lintas seringkali kita jumpai. Uang damai atas pelanggaran yang disengaja maupun karena “dijebak” oleh sang oknum Polisi sudah menjadi hal wajar di masyarakat umum. Kasus-kasus ini lah yang membekas secara psikologis di mata masyarakat umum.

Kalau jaman dahulu kita kenal istilah Petrus sebagai tukang jagal misterius terhadap para preman yang meresahkan masyarakat, bisa jadi para pelaku penembakan polisi ini kita merupakan Petrus masa kini. Korban sama-sama merupakan “preman” di mata masyarakat, yang kemudian dijadikan ajang balas dendam dari orang-orang yang pernah “terluka” oleh ulah oknum Polisi. Dan bisa jadi korbannya adalah para Polisi yang tidak bersalah dan hanya terbawa sebagai korban karena citra korps mereka. Sekali lagi turut berduka dan prihatin terhadap korban dan keluarga yang ditinggalkan.

Dengan munculnya “preman berseragam” yang menjadi momok bagi masyarakat, bisa jadi muncul “Robin Hood” sebagai tokoh pembela rakyat yang menggunakan cara-cara sendiri untuk memberikan shock therapy terhadap oknum aparat agar membenahi korps mereka dan benar-benar menjalankan fungsi yang sebenarnya sebagai pelindung dan pengayom masyarakat.

Mari kita tunggu hasil investigasi dari aparat kepolisian untuk memecahkan kasus ini. Semoga segera menemukan titik terang dan tuntas sampai akarnya. Analisa di atas tidak ada tendensi apa pun, hanya sebuah imajinasi dari seseorang yang sedang mengalami kontroversi hati untuk menggali sebuah konspirasi demi statusisasi kemakmuran agar tidak labil ekonomi. *nyengir

Salam,
HUM

Monday, September 9, 2013

Stop Hujat Ahmad Dhani dan Dul..!

BY HUM IN No comments


Pengendara di bawah umur (source: agungsevi.wordpress.com)

Kasus kecelakaan yang melibatkan Si Dul, anak bungsu Ahmad Dhani menjadi perbincangan dan sorotan di media massa. Kasus ini menjadi begitu heboh karena melibatkan anak seorang musisi beken tanah air disamping akibatnya yang cukup fatal karena cukup banyak menelan korban jiwa dan kebetulan sekali Dul yang mengendarai mobil masih belum cukup umur. Berbagai komentar yang hampir sebagian besar bernada negatif ditujukan untuk sang ayah yaitu Ahmad Dhani.

Terus terang saya kurang setuju dengan sikap orang-orang yang cenderung menghakimi dan menghujat Ahmad Dhani dalam kasus ini. Bukan karena saya cukup menyukai lagu-lagu hasil karya ayah si Dul ini, tapi menurut saya yang lebih penting adalah bagaimana menyikapi secara positif kasus ini.

Ada dua hal yang bisa kita lakukan sebagai pengamat dan komentator. Pertama adalah coba memberikan solusi buat ayah anak ini untuk menyelesaikan kasus ini dengan lancar. Minimal berempati terhadap kejadian ini, keluarga korban termasuk Dul dan keluarga yang mengalami musibah. Meskipun fakta di lapangan menunjukkan berbagai pelanggaran, mulai dari penegemudi yang masih di bawah umur, batas kecepatan mengemudi bahkan berita terakhir mengenai modifikasi mobil Grand Max yang membawa penumpang lebih dari standard, kasus ini merupakan sebuah musibah yang tidak bisa diprediksi dan merupakan kehendak Ilahi dan pasti ada makna dibalik kejadian ini.

Hujatan terhadap Ahmad Dhani sebagai orang tua yang tidak bertanggung jawab tidak memberikan sumbang saran positif untuk musibah yang menimpanya dan hanya akan menambah beban buat yang sedang ditimpa musibah. Meski seringkali bersikap arogan, musisi satu ini tentunya masih punya sedikit rasa tanggung jawab buat keluarga, terbukti dia selama ini mengasuh ketiga anaknya setelah berpisah dengan Maia. Jadi tinggal kita lihat sejauh mana tanggung jawabnya terhadap korban dan keluarganya.

Hal kedua yang bisa kita lakukan adalah dengan mengambil hikmah dan pelajaran dari kasus ini untuk diri kita pribadi. Bukan baru pertama kali kasus tabrakan yang memakan korban jiwa karena kelalaian pengemudi apalagi terkait dengan orang terkenal atau selebrity. Hampir setiap hari kita bisa jumpai fenomena yang tidak jauh beda di lapangan bahkan lebih membahayakan. Banyak anak di bawah umur mengendarai mobil atau motor tanpa mempedulikan berbagai macam standard berkendara. Jangankan anak di bawah umur, orang dewasa pun banyak sekali yang bahkan dengan sadar melakukan pelanggaran berlalu lintas. Kita harus ingat dan sadar bahwa kasus yang menimpa Dul bisa juga menimpa siapa saja. Yang bisa kita lakukan adalah dengan berusaha memperbaiki diri termasuk keluarga serta anak-anak kita untuk meminimalisir kejadian serupa terulang.

Mengenai kasus hukum yang menuai berbagai komentar apriori tentang keadilan dan kinerja aparat kepolisian dan penegak hukum juga merupakan catatan tersendiri. Saya kebetulan orang awam yang cukup buta urusan ranah hukum dan kawan-kawannya. Tapi satu hal yang menurut saya perlu kita sadari dan perbaiki bersama yaitu coba untuk taat dan ikuti aturan berlalu lintas di jalan raya. Komentar negatif bahwa uang bakalan bisa memutar balikkan fakta juga tidak sepenuhnya benar. Kita percayakan penyidikan oleh pihak yang berkompeten untuk urusan ini. Hujatan sinis apriori bahwa kasus ini akan diselesaikan dengan uang sungguh merupakan sebuah cibiran semata yang tidak berarti jika kita masih seringkali melihat atau bahkan melakukan sendiri berbagai pelanggaran di jalan raya dan berdamai dengan oknum petugas di jalan.

Jadi mari kita stop menghujat yang tidak berguna. Perbaiki diri dengan mengambil hikmah dari berbagai kejadian yang menimpa orang di sekitar kita sebagai pelajaran agar tidak berulang kepada yang lainnya.

Keep safety riding and safety driving..!

Salam,
HUM

Cinta Bersemi Ketika Ospek Terlewati

BY HUM IN , , No comments

Trauma dengan Ospek?

Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) seringkali menjadi momen traumatis bagi yang mengalaminya, bisa trauma fisik maupun mental. Begitu juga bagi saya, momen Ospek pada jaman dahulu kala sungguh meninggalkan efek traumatis (takut mengulangi karena sudah tuwa ^_^). Saya coba sedikit bagi cerita serunya melewati masa-masa Ospek sambil bernostalgia tentunya :)
Cinta Bersemi (source: kataindah-ramadhan.blogspot.com)

Diterima di kampus biru pada jurusan pencetak tukang listrik merupakan mimpi yang menjadi kenyataan saat itu. Awal masa penerimaan mahasiswa baru seperti biasa diawali dengan kegiatan Penataran P4 yang terasa ngantuk dan membosankan serta Ospek…yang seru..! Diawali dengan prosesi pembotakan kepala maksimal panjang rambut 2 cm yang membuat seorang pemuda culun tambah culun sampai berniat membelah cermin di kamar kost :D. Berbagai tugas aneh-aneh yang diberikan senior membuat pusing tujuh keliling. Belum lagi jadwal yang padat dan pagi-pagi buta sudah harus siap di kampus.

Tugas-tugas yang banyak dan kadang tidak masuk akal untuk dilakukan seringkali merupakan hal yang membuat ketakutan para peserta Ospek. Ketakutan terhadap hukuman kakak senior karena tidak membawa tugas yang diberikan membuat persiapan hari pertama akhirnya bisa terselesaikan meski sampai larut malam. Apa yang terjadi pada pagi harinya? Ya, karena semua tugas beres tidak mendapat hukuman apa-apa dari kakak senior, langsung masuk barisan, tenang, sesekali tertawa geli melihat teman-teman yang kena hukuman. Tapi lama-lama ternyata bosan dan kantuk menyerang, maklum baru tidur larut malam. Alhasil Ospek hari pertama kurang berkesan, datar dan monoton mengikuti setiap aktivitas dari pagi sampai sore menjelang.

Akhirnya hari kedua coba rubah strategi, sengaja tidak mengerjakan dan membawa tugas-tugas yang aneh dari senior. Tidur bisa pulas tanpa terganggu aktivitas teman-teman kost yang sibuk dengan berbagai tugas buat besok pagi. Alhasil besok paginya kakak senior hanya bisa geleng-geleng kepala, langsung ditarik ke barisan khusus “para pengacau”. Hukuman demi hukuman terlewati, bentakan dan teriakan terlampaui. Baru terasa serunya Ospek ^_^.

Berlari berputar keliling kampus sambil membawa tulisan “SAYA PEMALAS” diiringi mulut yang harus dengan lantang meneriakkan isi tulisan ketika berpapasan dengan teman sesama peserta maupun kakak senior. Beradu argumen ketika disuruh melakukan permintaan aneh dari kakak senior juga merupakan salah satu hal yang seru. Berbagai intimidasi sengaja dilakukan oleh kakak senior untuk menekan mental kita. Modal muka tembok dan sesekali berhasil memutar balikkan fakta dengan argumen asal ternyata membuahkan hasil, kakak senior putus asa dan capek memberikan hukuman :)

Masa Ospek ini bisa disikapi dengan berbagai cara. Saya sendiri sangat merasakan manfaat dari Ospek ini benar-benar untuk melatih mental menghadapi masa perkuliahan yang lumayan berubah drastis dari masa SMA. Saat di bangku kuliah, mahasiswa dituntut untuk mandiri, jam kuliah yang tidak full day yang sama sekali berbeda dengan masa SMA. Tidak ada lagi guru kelas yang akan mengarahkan setiap murid ketika proses belajar mengajar, yang ada adalah mahasiwa yang harus lebih pro aktif mengikuti setiap mata kuliah.

Satu lagi yang menjadi manfaat dari aktivitas ini, yaitu saling mengakrabkan antar peserta dan juga kakak-kakak senior. Perasaan senasib sepenanggungan, sama-sama berjibaku mengerjakan tugas membuat kedekatan hubungan dengan teman seangkatan. Rasa kebersamaan akan tumbuh dengan sendirinya dari aktivitas yang dijalani bersama dari pagi sampai sore menjelang.

Jadi, kenapa harus trauma dengan Ospek? Enjoy aja lagi. Nikmati setiap aktivitas dengan positif dan lihat hasil positifnya kemudian.

Ohh..iya…ada yang terlewat, mana tulisan tentang cinta berseminya ya..?
Pesan dari saya, buat peserta Ospek harus sadar diri bahwa Ospek ini sama sekali bukan ajang yang pas untuk tebar pesona. Coba bayangkan mau tebar pesona gimana kalau kita lagi dalam kostum yang aneh dengan tampang culun begitu? Nilai jual pasti langsung drop, diskon 50% juga belum tentu ada yang neglirik :D

Tapi berlaku hal yang sebaliknya, masa Ospek ini bisa dijadikan ajang cuci mata kakak senior. Dengan dalih macam-macam hukuman, pedekate akan mudah dilakukan. Selanjutnya tinggal terapkan berbagai trik untuk melanjutkan hubungan selepas masa Ospek.

Trus, bagaimana dengan kisah cinta bersemi saat Ospek yang saya lewati? Siapakah dia? Yup..dia adalah kakak senior yang waktu Ospek jadi team P3K.

Bagaimana kisahnya sepertinya memalukan untuk saya ceritakan. Bisa dibayangkan kan ketika seorang pemuda culun dalam kostum peserta Ospek dengan berbagai trik menarik perhatian seorang Kakak Senior cantik yang sekarang ternyata menjadi pendamping hidupnya? Jodoh memang tak lari kemana ya..?:)




Salam,
HUM
*terinspirasi dari seseorang yang menjadi team P3K Ospek Humaniora
**saat ini menjadi team P3K buat duo krucil di rumah ^_^

Wednesday, September 4, 2013

Lebih Baik Negatif Thinking Daripada Positif Hamil

BY HUM IN , , No comments


Positif ? (source: health.liputan6.com)

Strip merah 2…positif.. Alhamdulillah… uppss…. wah.. duh…

Berbagai reaksi muncul ketika melihat hasil test pack. Memang tanda awal kehamilan seoranng wanita sekarang dengan sangat mudah dan instan bisa kita dapat tanpa perlu check ke dokter kandungan sekalipun. ketika periode haid mengalami perubahan, metode check ini cukup ampuh untuk deteksi awal tanda pembuahan sel telur.

Reaksi gembira tentunya adalah hal pertama yang muncul dari seorang yang telah menyandang gelar seorang istri. Tapi tentunya akan menjadi sebaliknya buat seorang wanita dengan status “single“, “in relationship” atau bahkan “complicated” ;-). Reaksi lebih lagi bisa jadi dari seorang Ibu ketika mendapat kabar strip 2 merah dari putrinya yang masih unyu-unyu :D

Pergaulan bebas dan rasa ingin tahu yang besar dari seorang remaja yang menginjak dewasa menambah potensi untuk menjumpai strip 2 yang tidak diharapkan. Pengetahuan yang minim tentang pendidikan seks dan reproduksi ditambah kurangnya perhatian orang tua bisa menjadi pemicu yang potensial. Informasi sepotong-sepotong yang begitu mudah didapatkan di dunia maya maupun obrolan dengan teman sebaya yang dilanjut dengan eksperimen, bisa jadi membuahkan sensasi untuk membuktikan lebih jauh hasil trial and error yang dilakukan. Pada gilirannya, strip merah 2 menjadi hasil akhir dari prosesi trial dan menjadi bahan diskusi dan evaluasi bersama keluarga yang sangat mungkin sekali menjadi pemicu “paksa” bersatunya dua keluarga sehingga mendapat gelar MBA.

Jika ada alat test instan begitu mudah didapatkan, tentunya alat pendukung aktivitastrial tadi juga akan dengan amat mudah kita jumpai. Karet pengaman merupakan alat kontrasepsi yang paling lazim dan gampang kita temui mulai dari apotik, toko obat sampai mini market pun menjual bebas dan terpampang di etalase depan yang cukup mencolok. Seringkali dan biasa kita bisa jumpai anak-anak remaja laki-laki maupun perempuan sudah tidak canggung lagi untuk memasukkan barang tersebut ke dalam keranjang belanjanya. Variasi model dengan berbagai citarasa yang ditawarkan menambah rasa penasaran untuk mencobanya.

Memang bukan tanpa alasan jika para orang tua perlu untuk lebih perhatian, buka mata buka telinga lebar-lebar ketika anak gadisnya beranjak remaja. Negatif thinkingterhadap perilaku anak gadis kita mungkin akan lebih baik daripada menjumpai sang buah hati positif hamil di luar nikah. Negatif thinking di sini dalam artian kita sebagai orang tua tidak bisa tenang dan percaya begitu saja dengan perilaku santun dan lembut anak gadis kita di rumah. Coba sesekali cek aktivitasnya di luar, terlebih aktivitas yang melibatkan teman sebaya dengan jenis kelamin yang berbeda. Seringkali kita mendengar cerita seorang ibu yang mendapati anak gadisnya poisitif hamil di luar nikah, padahal dalam kesehariannya sang anak terlihat sebagai “anak baik-baik”. Justru anak yang terlihat baik-baik saja punya potensi lebih besar untuk “tidak tahu” tentang efek dan resiko dari trial error yang dilakukan.

Ketika beranjak remaja, anak-anak akan cenderung menjauhkan diri secara privacy dari keluarga dekatnya, baik orang tua, saudara kandung atau pun saudara di sekitar rumah. Hal ini sangat wajar karena memang usia remaja merupakan saat-saat seseorang mencari jati diri, berusaha membuktikan kemandiriannya. Fase ini merupakan masa yang cukup kritis dan perlu menjadi perhatian bagi orang tua. Orang tua harus tanggap dengan situasi ini dan mengarahkan rasa ingin tahu mereka tanpa merasa dikekang atau pun diawasi. Bekal pendidikan agama dan moral bisa jadi benteng yang cukup ampuh untuk membangun perisai diri dari dalam sang anak. Sikap terbuka dan menempatkan diri sebagai “teman” bagi sang anak juga akan membuat sang anak untuk merasa nyaman dan  lebih bebas mengungkapkan rasa ingin tahunya ke orang tua.

Untuk bisa lebih “masuk” ke dalam “dunia” anak-anak kita, coba kita bayangkan ketika kita seusia mereka. Ingat-ingat lagi pola pikir kita di saat itu tapi tidak bisa kita samakan persis kondisinya dengan sekarang, perlu tambahan sedikit imajinasi kondisi lingkungan di saat ini. Kalau jaman dahulu wanita umumnya nikah di usia muda, di bawah 20 tahun dan bahkan belum tahu harus berbuat “apa” di malam pertamanya karena memang lugu dan masih minim informasi, wanita jaman sekarang sudah umum menikah di usia matang, di atas 25 tahun, tapi sudah fasih dengan berbagai macam teknik yang akan dipraktekkan saat malam pertama dan malam-malam selanjutnya :-)

Jadi tidak ada salahnya jika kita sebagai orang tua sekarang ini sedikit negatif thinking terhadap anak gadis kita daripada nanti kebingungan tujuh keliling ketika akhirnya positif hamil. ^_^

*terinspirasi dari seseorang yang memberi kabar gembira strip merah 2 hari ini…Alhamdulillah :)

Salam,
HUM


Tuesday, August 27, 2013

Bu Ani, Ternyata Hobby Kita Sama

BY HUM IN No comments

Ketika sedang pilah-pilih dan upload hasil jepretan saat libur lebaran kemarin, iseng-iseng baca tulisan tentang hobby Ibu Negara kita dan akhirnya masuk ke instagrambeliau untuk lihat-lihat hasil jepretannya.

Foto-foto Bu Ani (source: Screen shot Instagram)

Beragam komentar maupun artikel yang menyoroti tentang hobby Ibu Negara kita ini. Berbagai kritik kalau tidak boleh dibilang sebagai pandangan negatif tentang hobby Bu Ani banyak kita jumpai di media, terutama mengenai kepekaan sosial Ibu Negara kita dan penempatan diri saat acara-acara kenegaraan.

Banyak pendapat yang menganggap Bu Ani kurang peka di saat sekelilingnya masih banyak rakyat yang kelaparan, pemulung, petani yang hidup sulit, beliau malah hobby fotografi. Begitu juga saat acara kenegaraan yang serba protokoler, malah sibuk jepret sana-sini.

Kalau pendapat saya pribadi begini, lha wong saya yang bukan siapa-siapa dibanding Ibu Negara saja punya hobby jepret sana-sini kok, kenapa Bu Ani tidak boleh? Soal kamera yang beragam dan high end tentunya wajar sebagai Ibu Negara dibanding kamera abal-abal saya yang belinya juga mesti nabung sambil ngencengin ikat pinggang biar tidak mengurangi jatah buat susu si Kecil. Bahkan sekarang kita dengan sangat mudah mengabadikan setiap momen di sekitar kita dengan kamera hand phone.

Soal protokoler saat acara kenegaraan, tidak bisa dipungkiri juga bahwa memang Bu Ani bisa lebih menyesuaikan lagi. Pilihan penggunaan tripod yang dilakukan saat menghadiri acara kenegaraan sepertinya cukup bijaksana, jadi tidak melulu nentengbody kamera yang cukup berat, jadi cukup leluasa untuk mengabadikan momen-momen saat acara.

Saya jadi ingat juga, dulu Presdir di tempat saya kerja juga punya hobby fotografi. Jaman itu belum banyak muncul hand phone kamera. Satu hal yang saya masih ingat sampai sekarang, beliau saat genba ke lapangan selalu tidak lupa nenteng kamera pocket-nya, jepret sana-sini, ntah saat genba bareng atau jalan sendiri di area pabrik. Setelahnya beliau kirim hasil foto-foto tadi via email dengan note di masing-masing foto, apa itu? Yup, potensi improvement yang masih bisa dilakukan di area tersebut. Jadi tidak perlu banyak berkata-kata, say it with picture :)

Balik lagi ke hobby Bu Ani. Saya dengan pedenya mencantumkan judul di atas, sok akrab dengan Ibu Negara, padahal banyak juga kan yang punya hobby sama.? :) Hobby jeprat-jepret saya lebih cenderung suka objek manusia dan benda, lebih ditujukan untuk mengabadikan momen anak-anak dan keluarga juga kehidupan di sekitar kita. Kami ingin membuat catatan perjalanan anak-anak kami sehingga memori indah selalu menghiasi perjalanan hidup mereka. Untuk mendukung target ini, mau nggak mau terpaksa kami mengalokasikan potong belanja bulanan demi sebuah kamera dan lensa abal-abal low end yang sudah cukup bagus bagi kami. Ditambah pula jadi rajin baca artikel fotografi untuk memahami tentang pencahayaan, pemilihan objek serta waktu yang tepat untuk mendapatkan momen sepesial, kunci yang lain adalah banyak belajar dan mencoba.

Hal ini tentu sedikit beda dengan Bu Ani. Kombinasi body kamera bagus dan lensa yang mumpuni dan orang-orang ahli di sekelilingnya yang siap memberikan pengarahan teknis mengenai fotografi. Jadi jangan iri kalau melihat hasil jepretan Bu Ani yang bagus-bagus. Oo..iya, soal bagus atau tidak hasil jepretan sangat subjektif. Akan beda penilaian orang yang suka foto landscape pemandangan dengan foto model portrait. Demikian juga beda lagi penilaian orang yang suka foto makro.

Hal terakhir yang saya komentari tentang hobby fotografi Bu Ani adalah bahwa hal ini sangat positif. Sebagai Ibu Negara, hasil jepretan Bu Ani yang meskipun kalah bagus dibanding fotografer profesional, tetap akan lebih berarti di mata rakyat.

Kenapa saya bilang begitu? Coba lihat foto-foto Bu Ani saat berkunjung ke daerah atau saat acara kenegaraan. Foto-foto yang sama biasa dan banyak diambil oleh fotografer media, tapi akan sangat lain maknanya di mata rakyat. Jepretan langsung tangan Bu Ani sebagai Ibu Negara menunjukkan perhatian dan kepedulian beliau dan merupakan apresiasi buat objek jepretannya. Coba simak berbagai komentar diinstagram. Komentar bangga ketika melihat pertunjukan tarian daerah mereka diabadikan oleh Ibu Negara. Dengan jelas juga Bu Ani memberikan penjelasan bahwa yang membalas komentar adalah beliau sendiri langsung, bentuk apresiasi dari seorang Ibu Negara.

Bagaimana dengan hobby Anda? Coba ambil sisi positif dari hobby kita. Kalau hobby saya yang lain selain fotografi adalah suka menolong sesama, membantu yang membutuhkan, selalu bersikan santun, baik hati dan tidak sombong, tentunya Bu Ani demikian juga, kan hobby kita sama.. ^_^

Sisipan :
#Beberapa hasil jepretan abal-abal saya ^_^
137760383897652866
Meski merokok..aku tetap gemuk… ^_^ (Doc: HUM)
13776044521712223615
Baa… (Doc: HUM)
1377604527286227685
Pahlawan (?) (Doc: HUM)
1377604598921668623
WoW… (Doc: HUM)
13776046671253375376
Sweet Child O' Mine


Salam,
HUM


Saturday, August 3, 2013

Cerita Mudik: Hujan Es Krim

BY HUM IN No comments


Mudik Ceria (source: blog.kliktoday.com)
Andai saja turun hujan es krim..
Oh betapa senangnyaaa….
Kan kubuka mulutku lebar-lebar..
AAA AAA AAA…
Oh betapa senangnyaaaa…

Dendang riang si Kakak yang ditirukan dengan loncat-loncat oleh si Dedek memenuhi kabin yang panas siang itu. AC yang di-set full tidak mampu meredam peluh yang membanjir membasahi tubuh kecil mereka.

Yup..siang hari yang terik, dari jam 10 pagi sampai 3 sore kita melintas..ehh..merambat pelan menyusuri sepanjang jalan tol Palikanci - Cirebon yang gersang. Sebuah perjalanan ritual tahunan..mudik dan arus balik, dan ini adalah cerita saat ritual mudik - balik yang lalu saat si Kakak masih TK.

Ritual mudik bagi kami sebagai orang kampung yang merantau ke Ibukota merupakan ritual wajib, meski urusan pulang kampung saat libur panjang pun kita tidak lewatkan. Meski setiap tahun menurut catatan departemen perhubungan jumlah pemudik naik, dengan sadar bakalan macet di jalan tetap bukan jadi penghalang untuk urusan satu ini. Bermacet ria di jalan merupakan salah satu nilai seni dari ritual mudik ini.

Seperti kisah yang kami alami saat arus balik di atas. Perjalanan awal dimulai berangkat dari rumah Eyang Putri saat menjelang Subuh. Normal perjalanan biasa ditempuh dalam waktu 12 jam. Awal perjalanan menyusuri jalur selatan naik ke tengah via Brebes kemudian masuk tol Pejagan masih lancar jaya. Sekitar jam 10 pagi sudah berada di jalan tol. Estimasi saat itu jam 3 sore sudah masuk Ibukota. Ternyata perjuangan baru dimulai dari titik itu. Arus keluar tol Cirebon stuck. Perjalanan di dalam ruas jalan tol Pejagan - Palimanan ditempuh selama 5 jam, di tengah terik mentari yang menyengat ubun-ubun.
Berbagai bentuk hiburan coba dilakukan bergantian untuk mengusir kebosanan dan kepanasan sepanjang jalan. Dari mulai berbagai film yang diputar di roof monitor sampai lagu hujan es krim yg membuat duo krucil lupa dengan perjuangan panjang itu.. -:)

Sekitar jam 4 sore setelah berhasil keluar dari jalan tol kita berhenti sejenak untuk beristirahat dan mandi biar badan segar kembali. Kemacetan di depan belum menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan.

Satu jam istirahat kita lanjutkan ikut arus lagi merambat menyusuri jalanan Pantura. Tak terasa gelap malam mulai menyelimuti, padahal Indramayu belum juga terlewati. Anak-anak sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Hampir putus asa sekitar jam 10 malam kita coba berhenti di hotel pinggir jalan yang dilalui. Satu hotel..penuh. Hotel kedua..ketiga..penuh juga. Akhirnya melihat sebuah hotel di seberang jalan, mudah-mudahan masih ada kamar kosong. Browsing sebentar cari no telpon dan akhirnya bisa kontak dan dapat kabar masih ada kamar kosong..:)

Lanjut menyusuri jalan mencari u turn yang dibuka buat putar balik. Ternyata hampir satu jam karena jalan bagai keong belum ketemu juga u turn di tengah median jalan *putus asa.
Sekitar jam 23.30 akhirnya dapat u turn, pas di depan sebuah resto “Pring Sewu”. Akhirnya memutuskan istirahat sebentar sambil isi perut. Rencana merebahkan diri untuk memejamkan mata barang satu atau dua jam. Ehh..ternyata anak-anak malah bangun dan kembali bernyanyi dengan ceria. Semangat baru muncul lagi melihat cerianya si duo krucil.

Akhirnya diputuskan lanjut menembus pekat malam sepanjang Pantura. Mulai terlihat jalanan kosong dengan mobil parkir di sepanjang jalan. Oohh ya…baru terpikir, para pemudik pada istirahat karena sudah masuk masa kritis untuk endurance tubuh. Kesempatan…pedal gas diinjak lebih dalam lagi, kegelapan malam ditembus dengan lancar jaya. Finish menjelang Subuh sampai di home sweet home. Total perjalanan yang ditempuh selama 24 jam, tanpa istirahat memejamkan mata, single driver..WoW…!! Langsung tepar sehabis subuh, berangkat ngantor jam 10 siang..fresh lagi..:)

Kapok..?!
Tidak ada dalam catatan kami untuk berhenti mengulangi ritual tahunan ini. Ritual mudik mempunyai makna yang mendalam bagi kami. Silaturahmi mengunjungi sanak keluarga merupakan point utama. Menjalin kedekatan dengan anggota keluarga begitu sangat berarti. Mengingat kami berdua merupakan pasangan orang tua pekerja, waktu berkumpul dengan anak sungguh merupakan momen yang sangat berharga.

Dapat cerita juga dari seorang rekan kerja yang sudah punya anak menginjak remaja. Momen bermacet ria sepanjang perjalanan ternyata mempunyai makna yang sungguh luar biasa. Bapak..Ibu..Anak yang jarang berdiskusi di rumah karena kesibukan masing-masing ternyata memanfaatkan momen dalam kemacetan itu untuk saling berbicara, dari hati ke hati, menambah kedekatan hubungan di antara mereka. Sungguh sebuah cara memanfaatkan waktu dengan sangat positif dan berguna.

Jadi..jangan hanya melihat ritual mudik dari sisi penderitaan selama bermacet ria di perjalanan. Banyak sekali makna yang bisa kita gali di dalamnya. Banyaknya aktivitas mudik gratis yang diselenggarakan baik oleh swasta maupun pemerintah diharapkan bisa mengurangi tingkat kepadatan dan angka kecelakaan lalulintas.

Yang pasti..safety first, utamakan keselamatan. Semoga mudik tahun ini lebih lancar dan lebih bermakna ya..? Jangan lupa oleh-oleh..^_^

Salam,
HUM